Pages

Tuesday, July 8, 2008

voy a ir a ausy

perziarahan. begitualh judulnya. dalam pengertian bahasa jawa, ziarah diartikan sebagai siji sing diarah (satu yang diarah, red) atau secara sederhana bisa diartikan juga sebagai fokus.

perziarahanku di ausy nanti juga akan kufokuskan pada sebuah tujuan. apakah itu? terlalu untuk kuungkapkan di sini. yang jelas, itu bukan main-main.

Monday, April 21, 2008

Once Minutos de Paulo Coelho

Despues volvi de la clase espanol, yo fui a Pondok Indah Mall para buscar los libros nuevos. Yo senti muy afortunado, por que hay un nuevo libro de Paulo Coelho que titulo es Once Minutos. Coelho es favorito escrito para mi. Cada novela de Coelho es una reflexion de teologia, no sola mente una novela.

Once Minutos lleve mi a un campo en Brazil. Un lugar de Maria naci. Maria es una persona fue sujeta major de Once Minutos. Cuando Maria estuvo joven, ella tuvo muy mal experencia. En la clase, hay un bueno chico. Maria siempre mirar y piensar a el. Aun que, Maria no quiero empezar para hablar con el. Hasta que un dia cuando el chico quiso pedir un boligrafo de Maria. Pero, Maria miro, el chico bueno tuvo un boligrafo tambien. Entonces, Maria no dio su boligrafo a el. Actualmente, el chico es Maria primer amor.

Despues esso momento, el chico nunca hablar con Maria. Tambien, el chico fue a una gran distancia. Para el, Maria supe significado de las palabras, “una gran distancia”.

Maria es chica casi perfecta. Maria no sola mente bonita, ella sexy y intelegensia tambien. Cada ganar una ventura en su vida, Maria siempre recordar el momento que el chico nunca hablar con ella y el fue a una gran distancia. Si ella no acepto cada venturas, en Maria piensa, todos quisieron ir a una gran distancia. Maria fue una chica oportunista.

En una vocacion Maria pudo ir a Rio de Janero. Tambien, Maria quiso probrar de las palabras “una gran distancia” en el diccionario de su vida. Cuando ella nado en el mar –la primer experencia pudo mirar y nadar en el mar- Maria, conocio con un gente de Swiza. El dio una ventura para trabajar en su oficina en Genebra, estuve una modela. Maria estuvo muy feliz. No se por que, Maria acepto su inviter para trabajar en otra pais.

Maria tuvo un sueno estuve rica persona. Maria decidio ir a Swiz. Maria quiso buscar mucas experencias en nueva ciudad en su vida, Genebra. Cuando Maria trabajo estuve una modela, ella no gano muchos dineros. Por esso, Maria fue una perra.

Durante el tiempo que Maria fue una perra en Genebra, Maria siempre extranar sus padres en Brazil. Ella quiso dar muchos dinero para ellos. Trabajo en Genebra en opinion de Maria es una especialmente ventura en su vida. Maria fue muy brava chica.

Mientras Maria discubrio un gente que poder cambiar su corazon. Maria estuve enamorse para a el. Desde esso momento, Maria tuvo nueva vida. Maria siempre escribir sus experencias, Maria leo muchos libros tambien.

Maria descubrio una llave en su reflecion, cuando penso muchas cosas que hacer el mundo muy mal. Solo para ONCE MINUTOS, todos van a cambiar!

Thursday, March 27, 2008

Pertarungan Suci

Aku akan menantangmu
Dalam sebuah pertarungan

Tidak memperebutkan sebuah tropi
Bukan juga soal menang-kalah
Apalagi harga diri
Jauh-jauh, jauh dari itu

Aku sama sekali tidak membencimu
Juga tiada sejumput dendam

Bagiku, ini soal laki-laki
Yang memiliki insting menaklukkan
Untuk mendapatkan kepuasan


Kemarin engkau telah memulainya
Menusukku dari belakang
Darah dan nanah telah mengucur dari seluruh pori tubuhku
Aku tak menyangka aku masih saja bernafas

Aku akan menantangmu
Dalam sebuah pertarungan

Hidup dan mati adalah taruhannya
Mungkin aku telah lolos dari maut kala itu
Tapi tak ada jaminan aku lolos kembali
Maka aku tidak akan memalingkan muka
Kuputuskan untuk menantangmu

Harapku, pertarungan ini menjadi pertarungan suci
Ketika garis itu sudah tiada maknanya
Kutegaskan lagi dengan darah yang akan mengucur lagi dari poriku

Seperti setiap pertarungan
Selalu ada pemenang dan pecundang
Tak kurisaukan soal itu

Aku akan menantangmu
Dalam sebuah pertarungan

Akan kau lihat siapa aku nanti dalam pertarungan itu
Aku pun akan melihatmu
Jangan ada lagi rasa iba
Atau kau khotbahi aku dengan norma-norma

Serang saja aku dengan sepenuh kekuatanmu
Dengan segala ilmu pengetahuan, bela dari yang kau punya
Sama seperti ketika engkau menyerangku waktu itu

Aku hampir saja kau buat mati
Namun kau lupa satu hal
Dan karena kealpaanmu kamu menjadi tampak sangat bodoh

Aku tak lagi menyebutmu orang yang kuhormati
Karena memberaki mukamu pun aku siap
Aku kini menjadi bumerang bagimu
Ingat bukan untuk membalas sebuah dendam

Hanya untuk sebuah penyucian
Tentang garis yang telah koyak
Dan tentang sebuah arti kelelakian

Tunggu tanggal mainnya
Hanya kau dan aku yang ada dalam arena itu
Dan sekarang akulah pemegang kendali pertarungan itu

Aku akan menantangmu
Dalam sebuah pertarungan

Dan kita berdua akan menjadi pusat
Semuanya akan melihat
Di sanalah kita berdua akan bersama dikenang
Sebagai pahlawan-pahlawan
Atau sebagai pecundang-pecundang

***

Untuk seseorang di sana. Yang telah memulai sebuah permaianan dan lupa menyudahinya. Kini aku terlibat dalam permainanan yang tidak kukehendaki sebelumnya. Tapi, begitu berharga pengalaman ini untuk kubuang sia-sia. Maka aku akan menantangmu. Satu-lawan-satu!

Friday, March 7, 2008

Misteri Kota

(Bagian II. Sambungan dari Cinta Sejati....)

Musim menjadi tidak begitu jelas. Sesaat terik dan tak lama kemudian petir menyambar-nyambar, hujan pun menyusul. Ketidakjelasan musim diartikan Ega yang sedang melamun di sisi kolam renang sebagai tanda ketidakjelasan sikap Alia, dan lebih dari itu, ketidakjelasan kelanjutan hubungan mereka.

Ega terus mencari tahu mengapa Alia begitu berubah. Diingat-ingatnya saat terakhir mereka bersama dan saat terakhir Alia bercerita. Ega tak menemukan satu pun kejanggalan dari cerita-cerita terakhir Alia kepadanya. Karena, terakhir mereka bertemu, mereka jalan ke restoran favorit mereka sekadar menikmati sushi dan membahas rencana studi Alia semester depan, novel terbarunya Paulo Coelho, dan persiapan Alia ke luar kota.

Sesaat Ega terdiam. Soal rencana studi dan novel tidak mungkin membuat perubahan dalam diri Alia. Namun, soal pergi ke luar kota, Ega lupa menanyakan secara detail. Dia hanya tahu, Alia ingin menghabiskan liburannya, kemudian mengunjungi saudaranya. Ega waktu itu hanya memikirkan bagaimana dia di kota itu. Mau menginap dimana dan mau naik apa ke sananya?

Ega menjadi semakin menyalahkan dirinya sendiri. Mengapa dia tidak menanyakan lebih lengkap tujuan lain dari sekadar berlibur. Karena, Alia berulang kali menyebut kota itu adalah kota impiannya. Alia pun pernah berkata, suatu saat dia ingin mepunyai rumah di sana. Dia mengaku kerasan dengan kota itu lantaran sangat kondusif untuk belajar.

Ega melihat kembali buku hariannya. Di sana dia mulai menemukan kepingan-kepingan jawaban dari kebingungannya. Dan dalam tiga bulan ini, Alia sudah berkunjung ke kota itu 3 kali. Rasanya, alasan Alia sekadar berkunjung ke rumah saudaranya dan berlibur hanya alasan yang dibuat-buat. Sejak saat itu, Ega mulai memendam rasa curiga kepada pacarnya. Setiap ucapan yang keluar dari mulut Alia, dia tidak serta merta percaya.

Dalam buku harian itu juga ditemukan hal lain, setiap Alia pulang dari kota itu, dia menjadi lebih tertutup dan sensitif. Terutama ketika Ega bertanya, "Ngapain aja lo di sana?" Alia cepat-cepat memotong pembicaraan dengan berkata," Ya biasalah sayang, ketemu teman, makan, jalan-jalan di pusat kota itu, dan membeli sedikit oleh-oleh. Itu saja."

"Ketemu temen kamu yang mana? Apa aku kenal?" catat Ega di bulan pertama kepergian Alia ke kota itu.
"Ya nggak lah sweetheart. Itu kan teman-temanku SMA. Salah?"
"Maksudku, bukan sama siapa itu sama si A, si B. Tapi, teman yang mana. Artinya, apa temen dekat, jauh, apa..."
"Sudahlah Ega. It's not your business!" kata Alia meninggalkan Ega sendiri di taman depan rumah Alia.

Ega mulai diusik virus cemburu. Menanyakan langsung kepada pacarnya, sama saja dia membuat susana perang. Sesuatu yang selalu Ega hindari dari setiap kencan-kencannya. Ega selalu menginginkan kesempurnaan ketika melewatkan waktu bersama. Kesempurnaan yang Ega maksud adalah tawa-canda, rayu-merayu, saling mencurahkan kasih sayang satu sama lain dalam berbagai bentuk, tanpa sedikit pun pertikaian.

***
Alia semakin membeci kota tempat ia lahir dan tumbuh. Selain karena macet di mana-mana, metropolitan juga tidak pernah memiliki kerendahan hati, sapa-tawa apalagi susana romantis. Penat, panas, kumuh, bising, dan terlalu banyak orang. Alia, mulai mengenal ada kota lain. Kota tempat pria misterius itu tinggal. Dan kota itu, dengan sendirinya menjadi kota misterius di mata Alia.

Tanpa sadar Alia sudah mulai satu pekerjaan yang paling tidak adil di dunia, membanding-bandingkan. Ketidakadilan di mana tanpa pernah melibatkan objek yang dibandingkan, penilain diambil dengan selera dan sudut pandang si empunya orang yang merasa bisa memilih. Alia menetapkan standar dan peniliannya sendiri, untuk kemudian menyimpulkan secara serampangan. Pertama-tama, dia mulai membandingkan kedua kota itu. Mulai dari arsitekturnya, tata lalu-lintasnya, pusat-pusat hiburannya, tempat-tempat hangout dan makannya.

Kemudian, Alia memberanikan diri membanding-bandingkan pria di kota itu dan Ega. Alia tahu, bahwa dirinya harus memilih yang terbaik untuk hidupnya. Pria misterius dan Ega dijadikan objek dari pekerjaan barunya membanding-bandingkan. Selama Alia bekerja, dua objek yang diperbandingkannya sudah dalam keadaan yang tidak seimbang. Alia menilai pria misterius itu lebih bisa menyentuh hatinya ketika memanggilnya dengan kata-kata mesra, lebih dewasa, pintar, lebih punya nama, dan lebih bisa mengerti apa yang Alia mau. Sementara Ega diperbandingkan ketika mereka sedang berbuntu komunikasi, dan ketika Ega selalu menjadi salah di mata Alia, karena naluri keingintahuan Ega terhadap apa yang terjadi dalam diri Alia. Ega, selalu saja dikaitkan dengan kata, jenuh.

***

Angin meniup kencang. Menjatuhkan daun dan bunga pohon mahoni di sisi kota. Mirip baling-baling, bunga mahoni kering menari dan berputar-putar di atas sebuah kedai di bilangan Jakarta Selatan, tempat Alia mencurahkan seluruh kata hatinya. Alia tidak mau gegabah menentukan pilihan. Dia mencoba berkonsultasi dengan Lauren, seorang yang dianggapnya bisa membatu memutuskan kebuntuan dalam menentukan pilihan.

Lauren tampak serius dan senang mendengarkan curahan hati Alia. Sambil mengelus pipi Alia yang sedikit basah karena tetes air mata, Lauren terus menggali cerita dan emosi Alia.

"Sudah lebih dua tahun Luaren..."
"Terus.."
"Jangan kamu tanyakan aku sayang atau tidak dengan Ega. Aku sangat menyayangi Ega, bahkan keluarganya" kata Alia sambil mengambil tisu di saku tasnya. "Tapi kenapa Lauren," lanjut Alia, "sayangku dengan Ega sekarang tidak seperti dulu".
"Maksudnya?"
"Masa kamu tidak tahu Lauren... Justru itu yang aku tanyakan sama kamu. Kamu kan sama-sama mahluk adam?"
"Tapi aku benar-benar tidak tahu Alia..."
"Begini ceritanya..."

Alia membeberkan pertemuannya dengan seorang pria misterius di sebuah kota misterius pula. Sejak saat itu, Alia menjalin hubungan dengan pria itu. Alia juga menceritakan bagaimana perlakuan pria itu kepadanya. Alia mendapatkan sebuah sensasi baru. Begitu Alia dimanjanya, begitu Alia disanjung dan di tempatkan sebagai sejatinya seorang perempuan. "Layaknya seorang putri," tandas Alia.

"Terus..." Lauren sabar menunggu pengakuan Alia sambil sesekali mereguk capucino panas yang sudah mulai mendingin.

"Apakah aku jatuh cinta lagi?"
"Kamu yang lebih tahu"
"Ayolah Lauren... Aku salah tingkah diperlakukan seperti itu terus. Aku dibuatnya menjadi seorang perempuan istimewa dan sempurna," aku Alia.
"Apa itu bukan gombal?"
"Tapi dia bilang dia sayang sama aku. Aku jadi ingin mengetahui apa maksud sayangnya kepadaku..."
"Lalu"
"Aku sering menemuinya. Aku luangkan waktu khusus buatnya. Dia juga ketika ke sini, selalu menemuiku. Sampai.. Suatu ketika.. Aku dan dia terlibat dalam sebuah percakapan yang belum pernah aku lakukan dengan siapa pun..." Alia terdiam agak lama. Diusapnya kembali air mata di pipinya.
"Terus"
"Ak Lauren, selalu saja kamu, lalu, terus, terus, lalu, ya kamu tahu lah seharusnya apa yang terjadi selanjutnya.. Masa sih..."
"Ya aku tidak tahu"
"Ah Lauren... Untuk apa kamu di sini. Apa-apa tidak tahu. Bagaimana aku minta pendapatmu?"
"Okelah, anggap saja aku tahu, terus?"
"Setelah itu, ya sudah aku semakin mencintai dia dan aku mulai jenuh dengan Ega".

***

Alia semakin mantap dengan pilihannya, meninggalkan Ega dan memilih pria misterius itu dalam hidupnya. Ditambah, bayang-bayang kota misterius itu selalu hadir dalam mimpi-mimpi Alia. Keramahan orang-orangnya, suasana malam dan canda sepontan anak-anak mudanya. Alia semakin terbang membawa seluruh angan dan cita-citanya. Jauh.. jauh menuju ke bulan dan meninggalkan Ega yang sedang menyalahkan dirinya sendiri sembari mencari tahu kepada siapa Alia selalu pergi ke kota itu.

bersambung....



Friday, February 22, 2008

Cinta Sejati

Kota tua itu masih berusaha tegap berdiri. Menawarkan berbagai sisi kehidupan lengkap dengan lika-liku dan suka dukanya serta mengundang siapa saja untuk menyinggahinya. Walau tampak megah, kota itu sebenarnya rapuh. Serapuh banyak orang-orang yang hidup di kota itu. Yang setiap hari melakukan apa yang mereka tidak ketahui dan tidak mereka ingini. Tetapi, sebagai kota, dia punya banyak cerita.

***

Diujung kemarau. Ega mulai resah dengan statusnya. Dia ingin orang di sekelilingnya memendangnya berbeda. Hampir semua sudah ia dapatkan. Segudang prestasi, dan sedikit harta. Dia mulai belajar mencintai seorang perempuan bernama Alia. Alia adalah kembang yang baru saja hendak mekar. Pintar dan cantik dia. Bagi Ega, Alia nyaris sempurna.

Ega seorang yang cerdas. Bunga-bunga cinta pun bisa dirangkainya dengan apik untuk menarik perhatian Alia. Sejak saat itu, setiap hari kata-kata mesra meluncur dari bibir Ega. Entah langsung ataupun lewat perantaraan kabel telepon ataupun pesan elektronik. Dengan itu genaplah pepatah yang entah dari mana, 'permainan terindah di dunia adalah rayu-merayu'.

Alia mulai terperangkap dan memerangkapkan dirinya dalam permainan cinta Ega. Sama seperti Ega, Alia juga minim pengalaman untuk urusan asmara. Setidaknya bagi Alia, Ega akan menjadi kelinci percobaan asmaranya. Toh, Ega juga cukup rupawan, pintar, dan pengertian.

Suatu senja di depan sebuah gereja, setelah melewatkan misa bersama Ega mengungkapkan kata-kata cinta yang sma sekali tidak diduga oleh Alia. Entah mengapa, Alia mengamini kata-kata itu. "I love you too. Be my sweetheart babe!". Mereka pun jadian.

Sore yang penuh pelangi itu telah berganti. Hari-hari mereka dilanjutkan berbagai kencan, nonton, makan malam bersama, pergi ke pantai, duduk-duduk di cafe, dan berakhir dengan sedikit cumbu.

Mereka mulai saling membuka diri. Menceritakan siapa dirinya dan dari mana asal-usulnya. Kepercayaan ditaruhnya begitu saja ke pundak masing-masing. Sejak saat itu, Alia mulai mengharapkan kehadiran Ega. Alia mulai menyadari makna kata "rindu". Kata-kata yang yang sering dibacanya dalam novel-novel cinta yang didapatnya dari meminjam di perpustakaan kota. Kata itu telah mampu ia gambarkan bentuknya. Mampu ia sentuh wujudnya.

Sama seperti pasangan-pasangan lainnya. Ega dan Alia banyak mencari waktu untuk sekadar bercanda, saling memuji, menyemangati perjuangan hidup masing-masing dan memberinya kado serta berbagai kejutan. Karena setahu Alia, cinta itu memberi. Kemesraan pun mengalir dan cinta yang diusahakan oleh kedua insan itu bekerja dengan caranya sendiri juga dengan logikanya sendiri.

***

Suatu sore, ketika awan gelap masih menggantung di tiang-tiang langit dan hujan belum sempat menyapa, Ega merasakan ada sesuatu yang aneh dalam diri pacarnya. Tidak seperti biasanya, dimana Alia selalu menyambut Ega dengan senyum simpul merekah di bibir merahnya sama seperti daun pintu yang menganga sedikit menunggu kehadiran Ega kekasihnya. Senja itu, Alia hanya teridam. Tidak ada senyum, juga tidak ada keceriaan.

Ega pun mulai merasakan ada sesuatu yang aneh. Adakah yang salah dalam sms-sms nya, adakah yang salah dalam penampilannya, adakah yang salah dalam sikapnya? Atuakah Alia semalam mimpi buruk? Ataukah dia sedang berselisih pendapat papanya, ataukah dia sedang datang bulan?

Keceriaan yang ingin Ega tawarkan sore itu, luruh bersama dengan hujan yang mulai menari-nari, menertawakan kisah sepasang muda-mudi yang mulai bermain-main dengan perasaan. Ega tidak bisa menghibur Alia, dan Alia merasa bersalah karena membuat Ega mulai merasa tidak nyaman.

Sejak sore itu, konflik di antara mereka mulai sering terjadi. Manis cinta yang didambakan Ega terlambat hadir. Justru rasa curiga, sikap egois, dan mau menang sendiri terlalu cepat datang di masa-masa emas usia pacaran mereka, 1 tahun.

Sms mulai tak berbalas. Telepon sering meraung-raung sendiri. Dan masalah komunikasi mulai menjadi kambing hitam dari masalah berubahnya Alia sesungguhnya.

***
Mesin cinta terus bekerja. Melipat siang dan mengganti malam mengantarakan Alia yang begitu ceria ketika meninggalkan kota tua itu. Dengan kereta, ia ingin mengejar angan-anagnnya yang tidak bisa disampaikan kepada Ega. Mencari yang lain dan menemukan arti satu kata yang juga ia dappatkan dari novel-novel yang dipnjamnya dari perpustakaan. Selingkuh.

Cinta segita tiga mulai dijalani dengan rapi oleh Alia. Tidak mau kehilangan Ega yang jelas-jelas sudah terlanjur mencintainya, tapi dia juga tak ingin membohongi kata hatinya dan menunggu datangnya sensasi atas selingkuh yang coba diajalaninya. Ia biarkan Ega bingung sendiri. Karena ketika Alia mau meceritakan masalahnya, ia akan menyakiti Ega, seorang yang menurut janji Ega sanggup mati untuk dirinya.

Ia pendam saja sendiri cerita cinta dengan seseorang di kota lain. Seorang pria misterius dalam hidupnya. Pria yang menurutnya setara dengannya, tampan dan cerdas ditambah dia orang terkenal. Sungguh indah hidup Alia. Cintanya berbalas. Berbunga-bunga hatinya. Dengan seseorang di kota lain itu, dia menemukan apa ia cari selama ini. Petualangan.

Sama seperti kisah petulangan dalam setiap komik dan film. Tentu saja petualangan yang seru selalu disertai dengan rintangan yang tak kalah menantang. Rintangan itu, tak lain adalah bagaimana menutup-nutupi rahasianya. Terutama, ketika ia bertemu dengan Ega.

Alia tidak tahu mengapa roda-roda asmaranya bersama Ega tidak bisa dihentikan. Ia juga tak kuasa meneruskannya. Semuanya kini mulai berjalan, hambar-habar saja rasanya. Menggantung.

***

Ketika embun pagi belum sempat menguap, Ega terjaga dari tidurnya. Seakan seseorang datang menghampirinya, entah dimana. Dan juga entah siapa, apakah jenis malaikat atau genderuwo. Dan ia pun berdoa.

Lama dia tak melakukan ritual ini. Dia merasa telah menjauh dari Tuhannya. Namun, Ega tetap yakin, Tuhan tetap menyayanginya. Juga menyayangi Alia. Ia berdoa untuk Alia yang semakin hari menjadi semakin aneh. Dia juga memohon ampun sekiranya dia telah melukai hati Alina disengaja atau tidak. Karena, dia pun ingin menyelesaikan masalah itu secepatnya.

Jauh di kota sana. Ketika fajar baru saja hendak membuka matanya. Deru gairah membuncah-buncah dari dua insan yang saling mencinta. Saling berpagutan dan terbakar nafsu. Mereka saling menelanjangi. Dengan agak kasar, permainan cinta itu berlangsung. Alia berdansa-dansa di alam yang selama ini hanya ada di bayangannya. Mabuk kepayang Alina dibuai oleh belaian, ciuman dan rengkuhan dari seluruh manifestasi apa yang dikatakan cinta. Ia pun mencapai punggung-punggung asmara. Klimaks.

***

Alia semakin merasa bersalah dengan Ega. Cerita cintanya dengan seseorang nan jauh di sana tak bisa lagi ditutup-tutupinya. Ia tak mau melihat Ega menjadi korban cinta segitiga. Alia pun dihadapkan dengan sebuah pertanyaan besar yang selama ini belum bisa dia jawab; pilihan.

"Ega my sweetheart. Rasanya kita sudah tidak cocok lagi".
"Kenapa?"
"Aku tak tahu".
"Ayolah Alia... Kamu masih menyayangiku kah?"
"Ya. Akan selalu. Tapi aku sudah tidak bisa lagi bersamamu. Dan jangan tanyakan kenapa! Karena aku menyayangimu, aku ingin kamu mendapatkan yang terbaik buat kamu".
"Ada apa dengan kamu sayang?"
"Aku sudah tidak bisa membahagiakan kamu".
"Apakah ada yang salah dalam diriku? Atau adakah yang lain di luar sana?"

Alina tak mau melanjutkan pembicaraan dengan Ega. Ia mengalihkan perhatian Ega dengan membuka buku-buku kuliahnya. "Besok aku ujian. Aku mau belajar dulu yah..." pinta Alia memelas. Ega pun cukup tahu diri. Dia meninggalkan rumah Alia dengan tertunduk dan menggendong beribu tanda tanya. Dan mulai saat itu, Ega mulai menutup buku tentang orang yang dicintainya, Alia.

Kota itu pun terus tersenyum. Tapi tak seindah senyum orang-orang yangs edang berduka. Tanpa memedulikan itu semua, cerita ini terus mengalir.... Entah sampai ke dimana ujungnya.

Bersambung!!!!