Pages

Showing posts with label Refleksi. Show all posts
Showing posts with label Refleksi. Show all posts

Saturday, December 31, 2011

Hujan Penghujung Desember

Musim panas lewat sudah. Daun-daun di pepohonan di sisi kanan dan kiri jalanan sisi kota terilhat hijau cerah memuda. Ketika tiba-tiba hujan mendadak mengguyur, tampak orang-orang berrebutan berteduh pada emper-emper rumah. Burung-burung pun demikan. Mereka mencari tempat untuk sekadar menghangatkan badan. Dalam gemuruh musim penghujan yang baru saja datang, air hujan sejatinya belum bisa membasahi tanah yang baru saja dibakar kemarau sampai kerontang. Kadang hujan turun lebat dalam sehari, dan kadang ia tidak muncul dalam beberapa minggu. Terang dan gelap, hujan dan panas berganti-gantian tiada terduga.

Cerita tentang Cinta dan Pengakuan

Ada sepasang kekasih. Laki-laki dan perempuan. Suatu hari, lelaki itu menghadapi sebuah ujian akademis. Tampak lelaki itu gugup, tidak merasa siap. Kekasihnya pun larut dalam suasana tegang itu. Perempuan itu izin dari tempatnya bekerja. Ia memilih untuk menemani dan menyemangati lelakinya.

Beberapa hari sebelumnya, lelaki itu sudah berniat untuk tidak menghadiri ujian. Ia ingin menghidari kenyataan. Tahu bahwa kekasihnya sedang berada dalam masa-masa susah yang sangat menentukan, perempuan ini sudah bertekad membantu sekuat tenaga untuk menembuhkan kepercayaan diri dari lelakinya. Ia mencoba melibatkan diri meski ia sebenarnya tiada menguasai. Ia paksa dengan segala macam cara. Tujuan satu; lelakinya berani menghadapi kenyataan dan tidak melarikan diri.

Mimpi-mimpi Malam

Ruang ini rasanya sudah asing dengan dirinya sendiri. Padahal, tempat ini dahulu dicipta untuk menyampaikan sesuatu yang belum selesai, sesuatu yang tidak terungkapkan, jeritan-jeritan lirih yang berteriak dari pedalaman hati. Memasuki ruang ini akhir-akhir ini, lebih seperti masuk ke dalam sebuah jurnal akademis dengan penulis tunggal. Ke mana kata hati? Ke mana engkau bersembunyi? Apakah ketika kognisi lebih diberi ruang, sisi afeksi kemudian menghilang, dan rasanya susah sekali untuk diungkapkan? Ah, rasanya tidak.

Ruang ini adalah gambaran apa-apa saja yang sedang melintas di pikiran dan perasaanku. Ini pun tetap menjadi jejak-jejak kecil peziarahanku dalam mencari makna kehidupan. Dari sini justru terlihat bahwa aku terus bergerak, terus berdinamika. Bahwa ketika masih ada pergerakkan, di sana sebenarnya aku masih hidup. Dan untuk kehidupan itu sendiri aku sungguh bersyukur. Rasa syukur yang justru aku layangkan untuk kemampuanku bertahan dalam melewati jalanan terjal, berliku dan menanjak. Semua itu tentu tidak mudah dijalani.

Wednesday, February 23, 2011

Sofa Merah Marun


Di dalam ruang tamu apartemen bernomor 10-21 di Holland Avenue tengah hari, kusandarkan kepalaku pada bantal sofa merah marun. Rasa lelah memasungku untuk tidak mengikuti semangatku, tapi menuruti kehedak tubuhku. Kupejamkan mata barang sejenak sebelum meninggalkan negara berlambang kepala singa. Pada tengah hari jelang mataku terpejam, aku baru tersadar kalau hari itu adalah valentine’s day, 14 Februari 2011.

Dalam lelah dan rasa kantuk yang ujug-ujug datang, tidur siangku di atas sofa itu berasa berbeda. Ada sesuatu yang menindihku. Antara sadar atau tidak, nafasku mulai tersengal dan anggota badanku ada yang kaku. Kemudian sekilas aku merasakan sebuah halusinasi, dibawa ke sebuah ruangan gelap dengan orang-orang asing di sekitarku. Aku tidak tahu persis apakah itu efek dari rasa lelah atau memang ada gangguan dari mahluk lain yang mungkin asing terhadapku? Seketika aku bisa mengendalikan keadaan dalam alam bawah sadarku, aku pun terbangun. Kudapati dari cerimin di atas wastafel mukaku yang mulai berkeringat. Aku ke dapur dan meminum segelas air putih. Segera saja, aku merasa lebih bisa menguasai diri. Kuliahat dari jendela apartemen, sepasang pelajar yang masih mengenakan seragam sekolah bermesraan di halte bus kota. Aku mengamati tingkah mereka berdua. Sepertinya keduanya saling mengekspresikan perasaannya masing-masing. Aku pun tak meneruskan lakon sejoli itu, aku tersadar kembali jika hari ini adalah hari kasih sayang. Lalu kuputuskan duduk di sofa merah marun sembari merenung.

Aku menggugat diri sendiri yang rasanya susah mengekspresikan perasaanku sendiri. Ada perasaan iri kepada dua sejoli yang masih hijau di bawah sana. Yang kusesali hanya satu sebenarnya, kasih-sayang, kini lebih sering kupikirkan olehku daripada kurasakan. Aku lebih sering membahasnya daripada merasainya.

Dua hari yang lalu bersama seorang karib di ruang 10-24 ini, kubahas tema ini nyaris tuntas. Kuhabiskan malam dan hanya kusisakan sepotong subuh untuk sekadar memejamkan mata. Kita mendiskusikan cinta, hidup, dan masa depan, menurut sudut pandang dan caranya masing-masing melihat persoalan itu.

Karibku ini adalah orang yang kukenal sekitar sepuluh tahun lalu di Jakata. Dia mengenalkanku dengan sebuah buku berjudul “Theology of the Body” karya Christoper West yang terinspirasi oleh John Paul II tentang revolusi seksual.
“Ada tiga bagian penting dari buku. Pertama, the origin. Kedua the history dan terakhir adalah the ltimates objectives,” katanya.

Lanjutnya;
Awalnya (the origin) manusia diciptakan untuk incomunion (bersatu), maka diciptakanlah Adam dan Hawa

Adalah ketika manusia tergoda untuk memiliki power sama seperti penciptaNya, manusia mulai sadar bahwa dirinya mulai telanjang. The history mengatakan perasaan malu akan dirinya yang telanjang,disebabkan ketika manusia telah mengobjektivikasi orang lain (bukan lagi sebagai manusia yang the origin-nya incomunion). Sejarah manusia menunjukkan bahwa antarsesama manusia saling menjadikan orang lain sebagai objek.

Maka, manusia sebagai citra Allah pun kini memiliki hasrat untuk menguasai manusia lain. Hasrat untuk memiliki kekuasaan inilah yang memisahkan antarmanusia dengan manusia lain. dan the origin (incomunion) harus berahdapan dengan realitas sejarah yang menunjukkan adanya perebuatan kekuasaan.

Di sanalah Sang Pembebas lahir untuk menunjukkan the ultimate objectives. Bagaimana caranya mengembalikan manusia menjadi incomunion satu sama lain? Jawabannya, tentu dengan tidak mengobjektiviakasi tubuh lain..

Menurut perjanjian lama: dosa adalah rusaknya hubungan manusia dengan Allah, maka Sang Pembebas mngatakan dosa adalah rusaknya hubungan anatara sesama manusia. Rusaknya hub antar sesama manusia tak lain karena ada hasrat untuk menguasai tubuh lain. The ultimate objectives sejatinya ingin mengembalikan sejarah dari objektivikasi terhadap yang lain menjadi kembali incomunion

Dunia tanpa mengobjektivikasi yang lain berarti dunia yang equal, sejajar, dengan relasi antarsubjek yg berharga.


Dari sofa merah marun ini aku mulai merasa ada yang salah dalam diriku. Benar juga celotehan karibku. Bisa jadi, selama ini aku tidak meraakan kasih sayang justru karena aku menjadi subjek tunggal dari sebuah hubungan yang seharusn ya memiliki dua subjek. Di salah aku mulai merasa bersalah dengan pasanganku. Dan mulai belajar untuk tidak mengobjektivikasi siapa pun!
--------------------
Ini untukmumu sebagai bentuk pertobatanku secara sadar atas cara berpikir, sikap, dan prilakuku yang kerap mengobjektivikasi tubuh lain.

Monday, June 14, 2010

Cerita Kepergian Keranda "Mewah"

Tidak ada yang tahu kalau tubuh perempuan tua itu sudah tak bernyawa. Malaikat datang menjemputnya pada sebuah senja kelabu, saat semua anak dan cucunya masih larut dalam kesibukan minggu sorenya masing-masing. Nenek yang biasa dipanggil Nini Las itu, pergi tanpa meninggalkan pesan terakhir. Tanda-tanda kematiannya pun sama sekali tidak ia tunjukkan. Malah hari-hari ini, ia tampak lebih segar dan kuat.

Perasaan syukur sebenarnya sedang hadir di sana. Stroke yang menyerang lebih dari tiga tahun dan membuatnya lumpuh itu seolah berahasil disebuhkannya. Ia mulai bisa berjalan kembali. Omongannya mulai tertata dan tidak kasar lagi. Yang terpenting, ingatan dan pikirannya mulai kembali membaik. Ia tidak lagi seperti pada saat awal-awal berbaring di atas ranjang yang menjadi seluruh dunianya. Tiga tahun lalu aku ingat saat menjenguknya, ia selalu membicarakan kematian yang sebentar lagi datang menjemputnya. Ia tampak ketakutan dalam sebuah kepasrahan yang tampak dipaksakan. Menurutku, waktu itu ia belum bisa menerima kenyataan kalau separuh tubuhnya tiba-tiba saja tidak bisa ia gerakan. Sementara hasratnya untuk mengolah sawah, kebun dan beribadah di langgar masih menggebu-gebu.

Menurut cerita mama -yang juga anak kedua dari perempuan tua itu, dia bersama adik perempuannya sering berbagi rasa syukur atas perkembangan kesehatan ibu kandung mereka yang sudah lebih dari 20 tahun menjanda. "Apa karena kesabaran kita ya, akhirnya mulai sehat lagi," ujar mama mengulang percakapan dengan adik perempuannya kepadaku melalui telpon.

Sabtu pagi, perempuan beranak lima itu ingin mamaku membelikan sebungkus nasi rames. Makanan yang katanya sangat ia sukai. Sayangnya, nasi rames itu kelewat pedas. Siang harinya, ia mencret. Dari sana ia tak mau makan lagi. Sepiring nasi berlauk tahu-tempe masih ada di atas meja persis di samping ranjangnya. Makanan yang seharusnya menjadi sarapan minggu paginya, terlantar sampai petang datang. Dan ia menemani perempuan tua itu mangkat. 



Sepanjang aku mengenalnya, ia adalah orang yang sangat sederhana, sesederhana namanya, Lasiah. Hidupnya pun serba sederhana. Sampai nyawa meninggalkan dirinyai, kesederhanaan selalu mengikuti langkahnya. Mungkin itu tak lepas dari kesusahan hidup yang dialaminya mulai zaman Belanda. Hantu kemiskinan yang terus membayangi hidupnya mengajari secara langsung bagaimana ia menjadi seorang yang sangat sederhana. Dalam bayang-bayang hantu kemiskinan, bermimpi untuk hidup bahagia pun rasanya mustahil. Seolah hidup di dunia ini sekadar tabah menanggung derita. Pada wajah nenek tua itu, tergambar jelas bagaimana getir dan susahnya hidup. 

Jelang kematiannya, ada sesuatu yang berbeda. Mungkin, ia sudah muak dengan kemiskinan. Karena, kemewahan hampir tiada pernah berkenalan dengan hidupnya. Satu-satunya cerita 'kemewahan' aku dengar pada saat berita kematian itu kukonfirmasi ke mama. Aku tanyakan ke mama bagaimana detik-detik terakhir kehidupannya, dan pesan terakhir apa yang ditinggalkannya. Cerita 'kemewahan' itu tak lain datang dari mulut perempuan tua itu pada saat-saat awal dia terkena stroke. Dia berpesan, kalau nanti dia meninggal, dia ingin kerandanya tidak digotong oleh orang-orang. Dia ingin kerandanya dibawa dengan sebuah mobil ambulance ke pemakaman. Entah mengapa ia menginginkan hal ini. Apakah ia memang tidak ingin merepotkan orang? Atau memiliki mobil, mungkin pernah menjadi cita-cita masa kecilnya pada zaman penjajahan dulu yang sampai saat ini tiada pernah kesampaian? Entahlah... 


Saat ia menderita stroke, ia tiada mau dirawat di rumah sakit sekali pun. Ia enggan membuat orang lain susah atas penyakitnya. Ketika penyakit itu baru saja menggerogoti tubuh rapuhnya, ia menjadi sangat malu kepada siapa saja yang hendak membantunya sekadar menyuapi makanan, membantu membersihkan badan, dan kotorannya. Ia merasa tiada berguna saat menjadi seorang pesakitan.

Ia juga orang desa dengan segala keluguannya. Pekerja keras, dan orang yang tidak banyak bicara. Jika ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, itu murni ungkapan jujur dan kepolosannya. Sering informasi yang diterimanya ia telan mentah-mentah.

Pernah semasa aku kecil, diajarinya aku lagu Kimigayo, yang katanya adalah lagu Kemerdekaan Bangsa Jepang. Cerita ia harus mengulum karet gelang dan masuk ke dalam galian tanah saat ada suara pesawat yang melintas juga masih hidup di dalam hatiku. Pernah suatu ketika kita sama-sama memanen padi di sawah. Aku masih kecil waktu itu heran bagaimana perempuan tua itu piawai memotong batang padi dengan ani-ani maupun aritnya. Meski sudah tua, aku juga mengagumi kepiawaiannya mengolah tanah dan merawat tanaman. Sepertinya, masa-masa itu kini hadir kembali. Lengkap dengan kolak pisang buatan tangannya, disajikan dengan lantunan pelan langgam Jawa yang mengalun lirih dari mulutnya.

***

Lasiah nenekku, selamat jalan! Ini adalah iringan doa dariku menghantar Ninine ke tempat peristirahatanmu selanjutnya... Maafkan cucumu ini yang tiada bisa pulang pun sekadar untuk mengikuti upacara pemakamanmu. Jika kerandamu dibawa nanti, percayalah hatiku ada di sisimu. Ketika jasadmu masuk ke dalam tanah, harapku benih-benih kebajikan yang Ninine tanam akan tumbuh di hati anak cucu-cicitmu semua. Karena darahmu mengalir di dalam tubuhku Ni... Kebahagianmu adalah sukaku. Kesedihanmu juga lukaku. Air mata yang mengalir ini pun adalah ucapan duka dari sebuah perpisahan sementara kita Ni... Aku yakin kita akan bertemu lagi ya Ni... Dan hanya restumu yang terus kudamba....

Ajari aku hidup sedeerhana ya Ni... Selamat Jalan!!!

Sunday, January 4, 2009

Kupu-Kupu Kuning


Lereng Gunung Ciremai tampak sendu. Puncaknya terlihat samar-samar terhalang kelabu. Angin bertiup malu-malu. Terang tidak, hujan pun tiada. Nyanyi seruling bocah gembala mengalun pelan melantunkan sebuah tembang kemakmuran Negeri Parahyangan. Namun kerbau piaraannya tiada berdendang. Ternak di sana terlihat masih ingin memperpanjang tidurnya. Waktu itu, pagi baru saja berlalu.

Matari belum sempat tersenyum, banyak perempuan tani dengan sayuran di bakul diikat selendang meniti beberapa buah bambu yang dijajar membentuk semacam landasan, menyeberang sungai yang cukup deras airnya dan sangat curam jurangnya. Sungai yang memisahkan antara kampungnya di kaki cermai dan kota di mana pasar berada. Tempat mereka menajajakan hasil bumi yang mungkin untuk keperluan sekolah anak-anaknya. Wajah-wajahnya keras tiada berseri. Walau santun jelas tergambar dari garis wajahanya. Satu per satu mereka melewati powotan (semacam jembatan) bambu itu. Dan mereka kemudian memacu langkahnya. Sampai mereka perlahan menghilang di balik punggung pepohonan.

Entah mengapa, aku terbawa suasana. Hanyut dalam kesenduan. Mengalir dalam lamunan. Menyepi seorang diri. Nyawa di mana raga entah ke mana. Kosong. Aku memasuki ruang antara bangun dan terlelap. Sadar dan tidak.

Di antara tarik menarik antara dua kekuatan itu kini aku berada. Dan kebimbangan adalah jurang maut tersendiri yang lebar menganga. Perasaanku kini mirip dengan perempuan tani yang sedang melewat powotan bambu itu.

Kalau perempuan tani itu tidak begitu memedulikan resiko dirinya bisa saja terpeleset dan pada akhirnya jatuh, mengapa perasaan bimbangku untuk menyeberang sungai perasaanku sendiri kadang melewat?

Tiba-tiba saja, aku memutuskan untuk meneladan perempuan tani itu. Aku terus masuk ke dalam belantara lamunan. Menukik jauh sampai ke negeri batas senja. Tempat di mana manusia pencinta itu sudah satu minggu aku tinggalkan. Dia yang sering membuat aku terperangkap masuk ke dalam belantara perasaan sadar dan tidak. Bahwa entah ini nyata atau hanya ada dalam alam mimpi saja. Benar atau tidak, aku tidaklah pasti tahu bahwa aku sekarang menjalin asmara dengan dia. Gadis dari batas senja.

Dalam alam lamunku, sungguh dia hadir begitu nyata. Semantara kenyataannya, dia jauh tampak sebagai tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita saja. Kita dipisahkan oleh begitu banyak perbedaan. Minat, cara berpikir, cara memandang, sikap, termasuk warna kulit, suku, agama, dan semuanya saja beda. Siapa dia, siapa aku.

Tapi masalahnya, mengapa aku selalu memikirkannya? Mengapa dia terus ada dalam setiap tarikan nafas dan setiap aliran darahku? Dan mengapa aku sungguh menyukainya?

Di tengah-tengah lamunku, datanglah seekor kupu-kupu kuning entah dari mana. Terbang capat lalu hinggap di bahu kiriku setelah sesaat sayap kirinya yang lembut menyentuh pipi kiriku. Setelah tersenyum sebentar, dia kembali terbang, memutar dan meliuk bagai seorang penari balet. Dan kemudian menghilang enatah ke mana. Aku pun terbangun dari lamunku. Mencari ke mana kupu-kupu itu pergi. Dan tiada kudapati dia. Padahal ingin sekali aku menayakan sesuatu padanya. Pertanyaan kepadanya tentang sebuah kekuatan cinta yang ceritanya mampu mengalahkan segala-galanya. Dan aku yakin kupu-kupu kuning tahu jawabannya.

Katanya, maut pun tak bisa mengalahkan kekuatan cinta. Setidaknya itu aku tahu itu lewat cerita-cerita. Entah nyata atau bukan. Aku tidaklah peduli. Cerita cinta antara Sam Pek dan Eng Tai. Kekuatan cinta Eng Tai kepada Sam Pek mampu mengangakat timbunan tanah di atas liang lahat Sam Pek. Dan Eng Tai lari dari arak-arakan pengantin yang akan menjdodhkan dirinya dengan pria lain. Ia menerjunkan diri dan mendapati Sam Pek di bawah sana. Cinta Sam Pek pun tidak binasa. Kekuatannya mampu menarik tanah liang lahatnya dan kemudian langsung menutup kembali.

Ketika kubur itu digali, tiada didapati mereka berdua. Yang ada hanyalah terbangnya dua ekor kupu-kupu kuning yang menari-nari begitu saja lepas tiada beban. Berseri sepanjang musim.

***

Aku yakin sekali kupu-kupu kuning itu adalah Gadis Batas Senja. Karena, disadadri atau tidak, hampir setiap perempuan di negeri batas senja ingin seperti Eng Tai. Dia memiliki kekuatan cinta dan kesetiaan yang lauar biasa. Sehingga ia tiada binasa!

Masih di antara sadar dan tidak, aku meyakini kupu-kupu kuning itu adalah dia....

menjelang fajar,

4 Januari 2009

Thursday, July 31, 2008

ST GEORGE TENGAH MALAM

Menyusur jalan St George setapak setelah keluar dari stasiun kereta api Central, Sydney, tiba-tiba anganku terantuk pada sebuah cerita tentang perayaan St. George seperti yang tertuang dalam novel Dracula-nya Bram Stocker. Di sana ditulis, “Ketika jam berbunyi pada tengah malam, semua yang jahat di dunia ini akan bebas merdeka.”
Rupanya, kebiasaan melamun dan mengkhayalkan hal-hal aneh terus saja membayang-bayangiku. Padahal, aku sedang berada di tempat baru. Aku sebagai orang asing di sini. Kuputuskan untuk menahan sejenak langkahku. Aku ingin mengisi isi batok kepala ini dengan hal-hal yang sifatnya nyata, guna menggeser bayang-bayang anganku yang sedang mengingat kembali cerita Dracula. Di tempat baru, seperti pesan Ibuku, haruslah selalu waspada.
Waktu itu senja datang lebih awal. Jam tanganku belum kuatur, jarumnya masih menunjuk angka 1. Padahal jam besar di atas stasiun Central sudah menunjuk angka 5. Kusandarkan punggungku pada salahsatu pilar tua. Kuhirup nafas dalam-dalam. Segar meraja kurasa.
Kuamati pemandangan baru. Lalu-lalang orang-orang yang baru saja pulang dari tempat kerja. Langkahnya panjang-panjang dan bergerak sangat cepat yang seketika mengusik kawanan burung-burung putih yang baru saja berkumpul. Mereka pun terbang berhamburan dan tak lama kemudian mereka berkumpul lagi. Entah apa yang sedang dibicarakan oleh burung-burung putih itu. Barangkali mereka sedang membicarakan aku. Orang asing dan baru di tempat mereka. Jarak kami hanya 2 meter. Kulihat senyum keramahan justru kudapati pada burung-burung putih itu. Kulempar pandangku sepanjang jalan St George. Kulihat di ujung sana banyak sekali pencakar-pencakar langit. Kugambar dan kupotret kota itu tegas dalam benakku.
Di tengah-tengah musim dingin, berlama-lama berdiri justru tidak membuatku merasa nyaman. Angin Benua Kanguru itu mampu menembus celah jaketku. Kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Darling Harbor guna menyelesaikan sebuah pekerjaan.
Setelah menanyakan arah terpendek menuju lokasi, kupacu langkahku bahkan melebihi mereka semua. Aku bukan saja berjalan sangat cepat, namun sudah hampir berlari. Tak terasa, hampir 1,5 kilometer telah kulalui.
Sydney Convention Center (SCC). Itulah gedung megah yang aku cari. Aku tidak langsung masuk ke dalam gedung itu. Aku menyempatkan diri mengisi perut ini di resto pinggir pelabuhan. Kupesan seporsi fish and chips. Kunikmati pemandangan pelabuhan itu sama seperti kunikmati hangatnya kentang goreng dicampur ikan. Kusantap pemandangan sepasang muda-mudi yang sedang larut dalam pergumulan frenchkiss-nya. Seorang perempuan yang hanyut dalam dekapan kekasihnya. Musisi jalanan yang sedang memainkan gitar ditemani topi hitam di bawahnya yang baru saja sedikit terisi oleh beberapa kepingan uang logam. Serta, dekorasi lingkaran partisi air yang membuat air-air itu berkejar-kejaran menuju bola besar di tengah-tengahnya. Semuanya ludes kutelan. Tanpa sempat kukunyah.
Kepada sepasang muda-mudi yang asik dalam pagutan asmaranya, jujur mataku terparkir cukup lama ke arahnya. Ketika kupejamkan kelopaknya, aku seperti melihat diriku sendiri hadir begitu nyata di sana. Tepat di bangku di mana pasangan itu berada sekarang. Yang tergambar di sebelahku adalah dia.
Seseorang yang sedang menjadi bayang-bayangku. Ke mana pun aku pergi ke sana pula ia mengikuti. Seseorang baru dalam hidupku. Yang kepadanyalah logika ini menjadi tak ada gunanya. Aku hanya bisa memanjatkan doa untuk memohon agar suatu saat bisa membawa dia ke tempat ini. Dan yang ingin kulakukan bersamanya adalah hal yang sama seperti yang dibuat oleh kedua pasangan itu.
“Tuhan, apakah itu berlebih?” doaku penuh dalam hati. Aku tahu, Tuhan langsung menjawab. Aku pun tersenyum sendiri. Kuselesaikan makanku, kubayar, dan aku bergegas ke SCC.
Media center berada di hall 2 SCC. Para volunteer sedang sibuk melayani banyaknya wartawan yang baru saja datang dari penjuru dunia. Terpaksa aku rela berjam-jam mengantri untuk kemudian dilayani.
Sepotong informasi akhirnya aku dapatkan. Walau tidak sebanding dengan usahaku mengejarnya, namun aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mereka saja belum siap dengan pertanyaan-pertanyaanku. Mereka baru akan aktif berkerja besok pagi. Beberapa di antara mereka menyarankan aku untuk datang lagi ke sini besok pagi ketika manajer mereka besok datang. Dan aku mengangguk saja.
Kutinggalkan SCC dan Darling Harbor. Di salah satu ruas jalan menuju jalan St George, kudapati informasi kereta paling akhir tengah malam. Tengah malam itu tenyata tinggal setengah jam lagi. Kupacu langkahku lebih cepat lagi dari tadi sore ketika aku datang ke sini.
Sebenarnya, bukan karena setengah jam itu aku berlari. Namun karena anganku telah kembali dirasuki lagi oleh cerita tentang perayaan St. George dan kata-kata, “Ketika jam berbunyi pada tengah malam, semua yang jahat di dunia ini akan bebas merdeka.”
Sejurus kemudian, kutinggalkan kota dengan kereta menuju Congcord West.
***
Aku tidaklah pergi sendiri melainkan bersama sahabat baruku, Patrick Owen. Dialah yang menunjukkan jalan St George kepadaku. Dan tentu saja untuk dia...
Sydney, 14 Juli 2008

Friday, November 16, 2007

Sebuah Tanya

"Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa... Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui. Apakah kau masih selembut dahulu memintaku meminum susu dan tidur yang lelap sambil membenarkan letak kerah kemejaku...

....Apakah kau masih akan berkata,
kudengar derap jantungmu.
Kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta".

(“Sebuah Tanya”, Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, Selasa, 1 April 1969
)

Gie begitu peka. Desah napas dan aliran darah mampu ia ungkapkan dalam kata-kata. "Sebuah Tanya" masih tetap aktual. Perasaannya ketika membuat puisi itu, menerobos lorong-lorong waktu. Dengan begitu, ia tetap hidup. Bersemayam di Lembah Mandalawangi, tempat lahirnya untaian kalimat-kalimat itu.

Jauh sesudah itu, di tempat yang berbeda, nampaklah wajah-wajah muda. Sama seperti Gie, mereka juga lahir dan tumbuh di bumi Indonesia. Tanah yang (sangat) subur bagi tumbuhnya setiap benih-benih masalah. Bahkan, masih ada masalah yang lahir di zamannya Gie, sekarang sudah berubah menjadi pohon tua yang angker.

Salah satu pohon tua angker itu adalah peristiwa kelam akhir tahun 1965. Di mana jutaan orang kader dan simpatisan Partai Komunis Indonesia dibunuh dan dipenjara tanpa pernah melalui proses peradilan. Sampai sekarang, pohon itu belum bisa ditumbangkan dan masalah itu belum (untuk tidak mengatakan tidak) terungkap. Walaupun, kebenaran telah meraung-raung lewat caranya sendiri.

Dalam kesumpekan berbagai masalah, mereka (anak-anak muda itu) mengambil jarak dari rutinitas. Mencoba menjauh dari keseharian demi menemukan semangat baru untuk mendaki gunung-gunung kehidupan. Menerobos alang-alang waktu dan mencari puncak kebahagiaan. Tiada kata gentar dibenak mereka. Semakin kusut jalin-tundan masalah kehidupan yang (akan dan telah) mereka hadapi, semakin tertantang mereka.

Raut muka mereka menyala. Sorot mata, pancaran air muka, senyum yang terkembang serta hati yang berkobar-kobar menjadi pertanda mereka menyimpan berbagai ambisi. Mereka dipertemukan dalam dimensi ruang dan waktu yang sama. Mereka pun berdialektika.

Dan kehidupan layaknya judul puisinya Gie yang memberi sebuah tanya. Untuk apa hidup ini dijalani? Dan berbagai jawaban pun lahir. Mereka (jawaban-jawaban itu) mengada lewat sikap dan prilaku orang-0rang, disadari atau tidak.

Kitab-kitab kehidupan pun lahir di mana-mana. Mencoba mengungkap dan menyibak tabir rahasia jawaban dari pertanyaan itu.

Pancaran sorot mata anak-anak muda itu memberi sebuah keyakinan bahwa jawaban-jawaban itu akan ditemukan. Dan hidup itu sungguh sangat berharga dan patut dirayakan. Karena, jika saja tidak ada kehidupan baru, sorot mata baru, generasi baru, semangat baru, untuk apa hidup ini harus dijalani?

Dan orang muda di Indonesia masih saja setia menjalani hidup. Mereka menangis dan tertawa bersama. Semakin karut-marut, mereka semakin tekun. Mereka, sungguh menyanginya kehidupan itu sendiri. Mereka sungguh mencintai kampung halamannya, nenek moyangnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Fajar pun menyingsing. Satu di antara mereka berkata, "Tanpa persoalan-persoalan itu, di manakah kata pembebasan itu berada?"

Sesungguhnya, semangat Gie telah mewaris. Semangat untuk menjalani hidup itu sendiri dengan segala peluh-peluhnya. Namun, Gie tetap saja orang muda. Gie yang punya cinta.

"Terima kasih Gie. Karena kamu menulis, matimu tidak sia-sia". [ ]

____________________________________________________________________
Kupersembahkan untuk A-18 'Escribir Para Siempre' (dari bahasa Spanyol yang artinya; menulis selamanya).