Dulu itu hanya kata-kata
Seiring menggelindingnya roda-roda waktu
Semua sudah berputar, menjelama menjadi nyata
Tercecap sudah dalam jalintundan pengalaman bersama
Seolah saja
Ilalang kegetiran tumbuh subur
Sejumput kebencian membekas laksana bercak noda di atas kain mori
Kepasrahan menyergap bak duri tertancap
Kebencian naik menuju puncak-puncak gunung rasa
Emosi meluap dan menguap....
Dalam kesenduan seorang perempuan muda
Kemarin engkau datang
Sebuah tanya kau bawa
Dari negeri batas senja
"Adakah yang masih tersisa untukku?"
Ini bukan pertanyaan
Tapi dia adalah sepotong perasaan
Dari kedua manusia yang tergoda
Ingin merasa dan mengada dalam cinta
Yang katanya, di sana ada bahagia dan derita
Meskipun, jurang perbedaan menganga dan siap memangsa
Namun ada sebuah percaya
Justru di sanalah cinta berada
Dan dituliskanlah kata pertama, membangun sebuah cerita
Yang tak pernah diketahui babak akhirnya
Dalam laju putaran roda masa
Meliuk dan menukik
Sampai di dasar palungnya
Sakit
Rasanya, gundah di hati merumah selamanya
Dan engkau pun datang
Dalam kesenduan seorang perempuan muda
Yang justru dalam abu-abunya
Terterawang asli putihnya
Tertiup kembali angin harapan
Mengabarkan sebuah berita
Selesai sudah satu babaknya
Dalam sebuah dinamika
Lengkap dalam bahagia dan derita
Tekemas rapih dalam gulungan lontar asmara
Roda cinta berputar dalam porosnya
Kini rotasinya menanjak pelan
Terbalut dalam pelukan
Meninggalkan mata air air mata
Babak baru dimulai
Senyuman terkembang
Dalam genggaman temaram senja
Semua menjadi dewasa
Dan ingin membuah dalam karya-karya
Untuk manusia-manusia
Yang masih percaya kekuatan cinta
Di tempat dan waktu yang sama
Saat engkau pertama kali mengatakan IYA
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Monday, April 12, 2010
Wednesday, October 24, 2007
Lewat Puisi
Dalam temaram lampu kota aku duduk termenungMemikirkan kamu
Membayangkan masa lalu
Dan memikirkan masa depan
Di sisi kota aku terpaku dalam siraman rintik hujan
Aku membayangkanmu
Hadir dan tersenyum
Menawarkan kehangatan dan sepotong cinta
Kemarau sudah diujung masa
Aku terjaga dari lamunku
Tidak untuk meratapi
Juga bukan untuk mensyukuri
Aku terlempar
Semuanya sudah tertinggal
Tak satu pun kubawa
Aku tetap menjadi pengembara
Tidak membawa apa-apa
Dan tiada berharap
Lakon ini harus kujalani
Aku sudah terlahir dari cinta
Dan untuk itu pula aku mengada
Bukan untuk diriku sendiri
Engkau masih ada dan selalu bersamaku
Dalam balutan cinta itu sendiri
Subscribe to:
Posts (Atom)