Akhirnya, aku dipenuhi kerinduan yang amat sangat. Meluap. Membuncah. Membangkitkan gairah... Baru empat hari rasanya tidak bertemu kamu... Kerinduan bukan lagi sekadar kata-kata. Tetapi sungguh sangat nyata... Aku bisa merasakannya...
Sebuah perasaan yang mengikuti setiap tarikan nafasku. Mengintip malam-malamku. Menarikku mendekat, dan mendekat. Masuk ke dalam kamu. Menggerakkan hati dan jiwa untuk bertemu. Tak peduli terhalang ruang dan waktu...
Aku merindukanmu. Seperti anak ayam yang kehilangan sang induk. Mengiyak-iyak. Berlari tak tentu arah. Galau...
Dari sana sungguh aku sadar. Bahwa dirimu sudah menjadi bagian dariku. Ada sesuatu yang hilang ketika kamu 'tiada'. Dan dari sanalah sedikit aku bisa merasakan bagaimana kesedihan Sang Bunda yang mengharap pulang anak-anaknya.
Langit malam diterangi sepotong rembulan utuh yang sedang mendaki perlahan di timur sana. Warnanya jingga merona. Lembut sinarnya meluruh memendarkan aura. Menjadi semacam pelita utama ketika aku dan gadis batas senja hanyut di atas laju roda[1].
Dia memelukku dari belakang. Mendekatkan wajahnya dan mengecupkan bibir lembutnya ke pipi kiriku. Kutangkap cahaya kebahagiaan membias dari ujung mata sipitnya. Kemudian membisikkan sebaris kata-kata.
“Aku sayang kamu,” katanya pelan.
Ucapannya halus menyentuh sukma. Membangunkan jiwa yang sekejap terlelap dalam dekap asmara. Kalimat itu meluncur setelah aku sebelumnya menegaskan niat untuk terus memperjuangkan bisikan naluriku. Pergi menuju ke sebuah tempat baru bersamanya.
Aku utuh menyadari hal itu bukan perjalanan yang mudah. Jurang perbedaan antara aku dan dia lebar menganga dan siap menelan kapan saja. Sementara, aku dan dia hanya meniti di atas sebuah pijakan. Sesuatu yang banyak orang sebut dengan istilah cinta.
Kepadaku, dia mengaku samasekali tidak memiliki semacam pegangan dalam meniti perjalanan ke sebuah tempat baru itu. Hanya kesungguhanku saja untuk terus mau berjuang mendapatakannya-lah menjadi satu-satunya tongkat penyangga langkahnya. Malam itu ketika rembulan meraja, kunyatakan kembali kesungguhanku. Dia menghadiahi aku lagi, sebuah kecupan di pipi kiriku. Lembut.
Sore hari sebelumnya. Hari di mana aku menghadap kedua orangtuanya. Mereka mengajakku pergi ke sebuah tebing di mana di sanalah awal mula cerita ini tercipta. Cerita tentang hikayat cinta yang kata orang bijak mampu datang untuk mengoyak perbedaan. Sesuatu yang selalu memiliki dua sisi sekaligus. Bahagia dan derita.
Lelaki paruh baya itu membentangkan gambar jurang perbedaan antara aku dan anak bungsunya. Perbedaan agama, Budha dan Katolik. Cina dan Jawa. Serta 8 tahun rentang usiaku dan usianya.
“Tiada maksud untuk menghalang-halangi. Apalagi di saat kalian jatuh cinta. Semua terlihat baik-baik saja. Semua indah. Tapi masalah itu akan datang. Nanti,” sambung mamanya lugas mengingatkan.
“Kami berbicara seperti ini karena kami mengalami. Sakit rasanya setiap kali misa saya selalu duduk di pojok gereja paling belakang. Karena apa? Karena malu tidak pernah menerima sakramen maha kudus komuni. Perkawinan beda agama tanpa melalui pemberkatan dalam gereja katolik masih dilihat sebagai zinah. Itu setahu saya. Saya sudah tanya ke beberapa pastor. Semua tidak bisa menjawab. Apa saya zinah? Mereka hanya menjawab masih ada kesempatan Bapak bisa menerima komuni. Bukan itu pertanyaan saya. Apakah saya zinah?” cerita papanya kepadaku getir.
Dari paparannya, hampir tiada sedikit pun jembatan untukku dapat menyeberang menuju suatu tempat yang baru yang selalu kuimpikan itu. Semua terjal berbatu. Keras dan curam. Ular-ular berbisa siap berjaga di bawah sana. Nada bicara kepala keluarga itu pelan namun keras berisi. Menyimpan sebuah pengalaman pahit pada masa lalu. Yang dia tidak ingin putri tercintanya mengecapnya lagi.
“Cukup. Cukup papa saja,” katanya nyeri walau tak terungkap.
Sepotong kalimat yang keluar dari mulutku hanyalah ucapan terima kasih. Terima kasih untuk mau berbagi pengalaman kepada yang muda. Segetir apa pun pengalaman itu, kata orang, dialah pelajaran hidup paling berharga. Kuhargai sungguh permintaannya untuk mempertimbangkan kembali maksudku mendapatkan putrinya.
Mataku beradu pandang cukup lama dengan mata si ayah gadis batas senja. Kudapati kesan dia sangat menyayangiku juga. Dia juga tidak ingin aku masuk dalam putaran roda masalah hanya berrotasi naik-turun pada porosnya. Dia memperingatkan aku untuk berpikir dua kali. Sebelum semuanya menggelinding lolos begitu saja.
Aku pun mengangguk penuh. Ketegangan berangsur reda. Kemudian, mereka mengajakku untuk pergi makan malam bersama. Di pingir kali Cisadane di sebuah resto sea food. Dua ikan bawal goreng dan bakar dihidangkan dengan cah kangkung serta tahu-tempe.
Makan malam pun dimulai. Aku saja yang meminta izin untuk sekadar menemani. Karena aku sudah penuh. Kenyang. Aku melihat gadis batas senja tak begitu berselera makan. Entah kenapa. Syukur tidak dengan yang lain.
Kuhabiskan segelas es jeruk. Masih kurasakan suasana hati di antara aku dan orangtuanya yang belum sepenuhnya mencair seperti es jeruk yang kuminum ini. Kuputuskan untuk undur diri dan pamit. Diberinya aku kesempatan oleh kedua orangtua itu ditemani putri bungsungya untuk sekadar berpamitan.
Bulan jingga kulihat masih merona. Ketika angin kota desir menyapa, dia memelukku dari belakang. Damai terasa menjadi begitu nyata. Kubahas lagi saat aku menghadap kedua orangtuanya. Seraya kusepuh niat untuk mengajaknya pergi ke sebuah tempat baru. Walau harus terjun ke dalam palung yang tak berdasar.
“Aku tidak ingin menjadi bagian cerita buruk tentang cinta itu,” kata dia kepadaku.
“Oke. Tapi apakah kamu tidak mau berusaha menjadi bagian dari cerita manis tentang cinta? Saya yakin, kita diberi anugrah untuk bisa dalam bahasaku memanggul salib ini,” tegasku.
“Apakah kamu kamu optimis?” tanya Putri Cina beragama Budha itu.
“Ya. Justru kitalah orang yang berbahagia karena dianggap layak menyelesaikan tugas ini di dunia. Aku akan menjemputmu!”
Inilah awal mula sebuah cerita. Cerita perjuangan demi sesuatu yang banyak orang sebut sebagai cinta. Sekali lagi demi dan atas nama cinta itu sendiri. Semoga tak ada lagi cinta yang terhalang oleh apa pun di muka bumi ini NANTINYA.
***
Bulan jingga merona saat lagu Hari Merdeka-nya H. Mutahar dan Indonesia Raya berkumandang di mana-mana. Hari kelima kita…
Antara Tangerang sampai Jakarta, 17 Agustus 2008
[1] Dari syair lagunya KLA project berjudul Tentang Kita.
Aku sering menjulukinya burung unta. Hahahaha... entah mengapa sebutan itu meluncur begitu saja ketika dia pertama kali menyandarkan mukanya di punggung kiriku.
Lewat media ini saya hanya ingin menunjukkan seperti apa burung unta itu.
La Pedrosa[1] mengajakku berlari menuju batas senja. Lajunya lincah menyelinap di antara mobil-mobil yang kehausan di sepanjang jalan menuju asa yang hendak kutautkan. Sementara, bayang-bayangku terus berpacu dengan kerinduanku. Kerinduan untuk menjemput impian yang hadir pada malam-malamku akhir-akhir ini.
Padahal, teknologi sepertinya sedang tidak berpihak padaku. Sesorang di sana susah sekali menghubungiku. SMS-nya tak pernah masuk. Mungkin sinyal jaringan telepon selulernya rusak. Tapi, begitu kutangkap sinyal hijau dari kedua orangtuanya, langsung kuputuskan untuk menemuinya. Saat itu juga. Satu jam lebih perjalanan, akhirnya sampai juga aku di depan rumahnya.
Aku melihat dia berdiri menungguku tepat di sudut pagar rumahnya. Sementara di sudut pagar mata sipitnya, sekilas kutangkap semburat sinar kebahagiaan. Ups, sebenatar… barangkali saja aku salah. Bisa jadi, cahaya itu adalah sinar keterkejutan melihat kenekatanku. Aku tak tahu.
Dia hanya menggunakan kaos putih dan bercelana pendek. Saat itu kali pertama aku melihat kakinya yang jenjang, mulus dan putih kekuning-kuningan. Sayang, mataku tidak bisa berlama-lama bermain di sana. Karena selangkah sebelum memasuki rumahnya, papanya telah menelanjangiku dengan pisau tatapannya. Orang petama di keluarga itu adalah sosok pendiam yang seperti memiliki semacam alat pendeteksi keamanan alami. Sebagai kepala keluarga, naluri melindunginya kurasakan kuat sekali.
“Sore..” kataku kepada lelaki paruh baya itu rendah sambil kujulurkan tanganku mengajak bersalaman. Dia tersenyum menerima sapa dan jabat tanganku. Aku langsung membayangkan dia mirip seorang samurái dalam novel-novel Jepang yang pernah kubaca. Pembawaannya tenang namun tak sedikit pun lepas sikap kewaspadaannya. Aku yakin, sifat pendiam lelaki itu mewaris dalam diri anak gadisnya yang sedang kugandrungi.
Sapaan serupa juga kulayangkan kepada mama dan kakak perempuannya. Mereka semua hangat menerimaku. Terutama mamanya. Aku mendapati kesan, tante –begitu aku menyapa ibu dua anak gadis itu, adalah seorang ibunda yang memiliki intuisi kuat dalam banyak hal. Dia kenal benar sifat anak-anaknya. Dia tahu persis sekarang anak bungsunya sedang jatuh cinta. Walau anaknya kerap berkata sebaliknya. Semoga saja tidak untuk ke depannya.
Ternyata, mamanya adalah orang yang mengundangku untuk menempuh perjalanan melewat batas senja ini. Mungkin, dia sekadar ingin mengetes keberanian sesorang yang sedang ‘mengganggu’ putrinya. Semua dilakukannya hanya untuk membahagiakan anaknya. Sama seperti kemuliaan ibu-ibu lain di seluruh semesta raya.
Aku sendiri merasa cukup bisa membawa diri. Tidak ada perasaan gugup sedikit pun. Bahkan, aku merasa samasekali tidak asing di tempat baru ini. Namun, dia – yang kini menjadi satu-satunya kebahagiaanku, justru berada pada posisi sebaliknya. Sebagai tuan rumah, dia sangat terlihat gugup. Ketika kupalingkan pandangku dan mengamati dia yang baru saja keluar kamar dan hendak berganti baju, entah mengapa, pipinya memerah seperti buah prem. Lucu sekali.
Sekilas kita beradu pandang. Dia hanya tersenyum dan langsung masuk kembali ke kamarnya. Tak lama sesudah itu, dia keluar dengan baju warna pastel hijau, jeans biru, membawa tas jinjing kain kecil putih bergaris biru, dan hanya bersandal. Cukup serasi –untuk mengatakan cantik sih sebenarnya.
“Tante, aku pinjem anak tante jalan-jalan ya… Aduh maaf, maksud aku, anak tante aku ajak jalan ya…” dan perempuan itu tertawa sembari menjawab, “Hati-hati saja di jalan!” Saat itu, sungguh aku merasa DITERIMA.
***
Tulisan ini adalah momen sesaat sebelum aku dan dia –jalan– untuk kedua kalinya….
¡Muchas gracias! Mi Diamante… y Su familia…
Kemang, 4 Agustus 2008
[1] Motor kesayanganku. Yamaha Jupiter tahun 2004 berplat nomor B 6524 NDG warna hitam. La Pedrosa, kuambil dari nama motornya Che Guevara.
Menyusur jalan St George setapak setelah keluar dari stasiun kereta api Central, Sydney, tiba-tiba anganku terantuk pada sebuah cerita tentang perayaan St. George seperti yang tertuang dalam novel Dracula-nya Bram Stocker. Di sana ditulis, “Ketika jam berbunyi pada tengah malam, semua yang jahat di dunia ini akan bebas merdeka.”
Rupanya, kebiasaan melamun dan mengkhayalkan hal-hal aneh terus saja membayang-bayangiku. Padahal, aku sedang berada di tempat baru. Aku sebagai orang asing di sini. Kuputuskan untuk menahan sejenak langkahku. Aku ingin mengisi isi batok kepala ini dengan hal-hal yang sifatnya nyata, guna menggeser bayang-bayang anganku yang sedang mengingat kembali cerita Dracula. Di tempat baru, seperti pesan Ibuku, haruslah selalu waspada.
Waktu itu senja datang lebih awal. Jam tanganku belum kuatur, jarumnya masih menunjuk angka 1. Padahal jam besar di atas stasiun Central sudah menunjuk angka 5. Kusandarkan punggungku pada salahsatu pilar tua. Kuhirup nafas dalam-dalam. Segar meraja kurasa.
Kuamati pemandangan baru. Lalu-lalang orang-orang yang baru saja pulang dari tempat kerja. Langkahnya panjang-panjang dan bergerak sangat cepat yang seketika mengusik kawanan burung-burung putih yang baru saja berkumpul. Mereka pun terbang berhamburan dan tak lama kemudian mereka berkumpul lagi. Entah apa yang sedang dibicarakan oleh burung-burung putih itu. Barangkali mereka sedang membicarakan aku. Orang asing dan baru di tempat mereka. Jarak kami hanya 2 meter. Kulihat senyum keramahan justru kudapati pada burung-burung putih itu. Kulempar pandangku sepanjang jalan St George. Kulihat di ujung sana banyak sekali pencakar-pencakar langit. Kugambar dan kupotret kota itu tegas dalam benakku.
Di tengah-tengah musim dingin, berlama-lama berdiri justru tidak membuatku merasa nyaman. Angin Benua Kanguru itu mampu menembus celah jaketku. Kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Darling Harbor guna menyelesaikan sebuah pekerjaan.
Setelah menanyakan arah terpendek menuju lokasi, kupacu langkahku bahkan melebihi mereka semua. Aku bukan saja berjalan sangat cepat, namun sudah hampir berlari. Tak terasa, hampir 1,5 kilometer telah kulalui.
Sydney Convention Center (SCC). Itulah gedung megah yang aku cari. Aku tidak langsung masuk ke dalam gedung itu. Aku menyempatkan diri mengisi perut ini di resto pinggir pelabuhan. Kupesan seporsi fish and chips. Kunikmati pemandangan pelabuhan itu sama seperti kunikmati hangatnya kentang goreng dicampur ikan. Kusantap pemandangan sepasang muda-mudi yang sedang larut dalam pergumulan frenchkiss-nya. Seorang perempuan yang hanyut dalam dekapan kekasihnya. Musisi jalanan yang sedang memainkan gitar ditemani topi hitam di bawahnya yang baru saja sedikit terisi oleh beberapa kepingan uang logam. Serta, dekorasi lingkaran partisi air yang membuat air-air itu berkejar-kejaran menuju bola besar di tengah-tengahnya. Semuanya ludes kutelan. Tanpa sempat kukunyah.
Kepada sepasang muda-mudi yang asik dalam pagutan asmaranya, jujur mataku terparkir cukup lama ke arahnya. Ketika kupejamkan kelopaknya, aku seperti melihat diriku sendiri hadir begitu nyata di sana. Tepat di bangku di mana pasangan itu berada sekarang. Yang tergambar di sebelahku adalah dia.
Seseorang yang sedang menjadi bayang-bayangku. Ke mana pun aku pergi ke sana pula ia mengikuti. Seseorang baru dalam hidupku. Yang kepadanyalah logika ini menjadi tak ada gunanya. Aku hanya bisa memanjatkan doa untuk memohon agar suatu saat bisa membawa dia ke tempat ini. Dan yang ingin kulakukan bersamanya adalah hal yang sama seperti yang dibuat oleh kedua pasangan itu.
“Tuhan, apakah itu berlebih?” doaku penuh dalam hati. Aku tahu, Tuhan langsung menjawab. Aku pun tersenyum sendiri. Kuselesaikan makanku, kubayar, dan aku bergegas ke SCC.
Media center berada di hall 2 SCC. Para volunteer sedang sibuk melayani banyaknya wartawan yang baru saja datang dari penjuru dunia. Terpaksa aku rela berjam-jam mengantri untuk kemudian dilayani.
Sepotong informasi akhirnya aku dapatkan. Walau tidak sebanding dengan usahaku mengejarnya, namun aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mereka saja belum siap dengan pertanyaan-pertanyaanku. Mereka baru akan aktif berkerja besok pagi. Beberapa di antara mereka menyarankan aku untuk datang lagi ke sini besok pagi ketika manajer mereka besok datang. Dan aku mengangguk saja.
Kutinggalkan SCC dan Darling Harbor. Di salah satu ruas jalan menuju jalan St George, kudapati informasi kereta paling akhir tengah malam. Tengah malam itu tenyata tinggal setengah jam lagi. Kupacu langkahku lebih cepat lagi dari tadi sore ketika aku datang ke sini.
Sebenarnya, bukan karena setengah jam itu aku berlari. Namun karena anganku telah kembali dirasuki lagi oleh cerita tentang perayaan St. George dan kata-kata, “Ketika jam berbunyi pada tengah malam, semua yang jahat di dunia ini akan bebas merdeka.”
Sejurus kemudian, kutinggalkan kota dengan kereta menuju Congcord West.
***
Aku tidaklah pergi sendiri melainkan bersama sahabat baruku, Patrick Owen. Dialah yang menunjukkan jalan St George kepadaku. Dan tentu saja untuk dia...