Malam ini pukul 21.15. Aku memacu laju motorku. Membelah malam dan menerabas hujan. Padahal, sepotong bulan tampak di atas sana. Aku yakin, hujan ini tiada lama. Aku tetap menarik gas Pedrosa menuju sebuah tempat di mana seseorang pada masa laluku berada.
Lima tahun lalu. Di sebuah kedai minum kopi. Saat malam menjelang pagi, sering kali kuhabiskan waktu di tempat itu bersama dengan teman satu rumahku. Memesan roti bakar dan segelas kopi susu. Kita sering membahas mimpi di hari depan. Dia mengingikan bekerja di sebuah perusahaan pertambangan dengan gaji menggunakan standar Amerika. Dia sering sekali mengolok-olok aku. Katanya, "Nanti pas abang lagi liburan ke Jakarta, terus abang lagi hambur-hambur uang tuh, pas di jalan aku ngeliat kamu jadi penjual lontong sayur, hahahahahaha!"
Dan jelas aku membalasnya.... Jauh lebih parah.
Tapi tak apalah. Awalnya memang sebuah obrolan ringan. Tapi ternyata ada sebuah pengharapan besar ada di balik cerita-cerita itu. Dia yang malam ini kutemui sudah bekerja di perusahaan pertambangan, mempunyai seorang anak lelaki yang sungguh tampan, dan dia jauh lebih gemuk dari yang kubayangkan.
Sementara dia pun melayangkan pujian spesial untukku. Kita sama-sama saling mengapresiasi. kami berkendara ke arah Karena dulunya, kami sama-sama orang selalu dipandang sebelah mata oleh kebanykan. Mungkin juga masih sampai sekarang. Tapi tak apalah. Biarkan saja orang mau omong apa.
Satu hal yang aku dapati dia sungguh berubah. Dia sekarang memiliki rasa takut. Dulu dia adalah jagoan di kampus dan lapangan bola. Semua saja ingin ia tundukkan secara fisik. Mutanya tajam, tulang pelipisnya tebal, mata cekung ke dalam, dan sorotnya tajam. Kadang, kumis dibiarkannya tumbuh.
"Abang sekarang bukan seperti yang dulu," akunya. Sekarang, lanjut dia, aku nggak bisa lagi mikirin aku sendiri. Setiap saat aku mikir si ucok anakku. "Kamu juga harus berhati-hati," pesannya.
Dia juga menceritakan bagaiamana cara pandangannya mengenai Jakarta. "Apa sih yang orang-orang ini cari? Kalau di daerah, mereka itu akan digaji mahal. Mereka punya kemapuan. Tenaga kerja sedikit. Tak tahu aku. Padahal, di daerah sangat membutuhkan orang-orang yang mau bekerja keras. Tak perlu pintar!" katanya lagi.
Saat itu, masa lalu menjadi begitu dekat. Kata-kata ini aku dengar kembali. Semuanya menjadi gamblang terbayang, terbungkus rapi oleh suasana malam menjelang pagi di ibu kota.
***
Semuanya hanyalah misteri. Dulu aku sama sekali tidak menyangka, kalau gurauannya menyimpan sebuah pengharapan yang total ia usahakan.
Untuk abangku, YLTHN!
Thursday, January 8, 2009
Sunday, January 4, 2009
Kupu-Kupu Kuning

Lereng Gunung Ciremai tampak sendu. Puncaknya terlihat samar-samar terhalang kelabu. Angin bertiup malu-malu. Terang tidak, hujan pun tiada. Nyanyi seruling bocah gembala mengalun pelan melantunkan sebuah tembang kemakmuran Negeri Parahyangan. Namun kerbau piaraannya tiada berdendang. Ternak di sana terlihat masih ingin memperpanjang tidurnya. Waktu itu, pagi baru saja berlalu.
Matari belum sempat tersenyum, banyak perempuan tani dengan sayuran di bakul diikat selendang meniti beberapa buah bambu yang dijajar membentuk semacam landasan, menyeberang sungai yang cukup deras airnya dan sangat curam jurangnya. Sungai yang memisahkan antara kampungnya di kaki cermai dan kota di mana pasar berada. Tempat mereka menajajakan hasil bumi yang mungkin untuk keperluan sekolah anak-anaknya. Wajah-wajahnya keras tiada berseri. Walau santun jelas tergambar dari garis wajahanya. Satu per satu mereka melewati powotan (semacam jembatan) bambu itu. Dan mereka kemudian memacu langkahnya. Sampai mereka perlahan menghilang di balik punggung pepohonan.
Entah mengapa, aku terbawa suasana. Hanyut dalam kesenduan. Mengalir dalam lamunan. Menyepi seorang diri. Nyawa di mana raga entah ke mana. Kosong. Aku memasuki ruang antara bangun dan terlelap. Sadar dan tidak.
Di antara tarik menarik antara dua kekuatan itu kini aku berada. Dan kebimbangan adalah jurang maut tersendiri yang lebar menganga. Perasaanku kini mirip dengan perempuan tani yang sedang melewat powotan bambu itu.
Kalau perempuan tani itu tidak begitu memedulikan resiko dirinya bisa saja terpeleset dan pada akhirnya jatuh, mengapa perasaan bimbangku untuk menyeberang sungai perasaanku sendiri kadang melewat?
Tiba-tiba saja, aku memutuskan untuk meneladan perempuan tani itu. Aku terus masuk ke dalam belantara lamunan. Menukik jauh sampai ke negeri batas senja. Tempat di mana manusia pencinta itu sudah satu minggu aku tinggalkan. Dia yang sering membuat aku terperangkap masuk ke dalam belantara perasaan sadar dan tidak. Bahwa entah ini nyata atau hanya ada dalam alam mimpi saja. Benar atau tidak, aku tidaklah pasti tahu bahwa aku sekarang menjalin asmara dengan dia. Gadis dari batas senja.
Dalam alam lamunku, sungguh dia hadir begitu nyata. Semantara kenyataannya, dia jauh tampak sebagai tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita saja. Kita dipisahkan oleh begitu banyak perbedaan. Minat, cara berpikir, cara memandang, sikap, termasuk warna kulit, suku, agama, dan semuanya saja beda. Siapa dia, siapa aku.
Tapi masalahnya, mengapa aku selalu memikirkannya? Mengapa dia terus ada dalam setiap tarikan nafas dan setiap aliran darahku? Dan mengapa aku sungguh menyukainya?
Di tengah-tengah lamunku, datanglah seekor kupu-kupu kuning entah dari mana. Terbang capat lalu hinggap di bahu kiriku setelah sesaat sayap kirinya yang lembut menyentuh pipi kiriku. Setelah tersenyum sebentar, dia kembali terbang, memutar dan meliuk bagai seorang penari balet. Dan kemudian menghilang enatah ke mana. Aku pun terbangun dari lamunku. Mencari ke mana kupu-kupu itu pergi. Dan tiada kudapati dia. Padahal ingin sekali aku menayakan sesuatu padanya. Pertanyaan kepadanya tentang sebuah kekuatan cinta yang ceritanya mampu mengalahkan segala-galanya. Dan aku yakin kupu-kupu kuning tahu jawabannya.
Katanya, maut pun tak bisa mengalahkan kekuatan cinta. Setidaknya itu aku tahu itu lewat cerita-cerita. Entah nyata atau bukan. Aku tidaklah peduli. Cerita cinta antara Sam Pek dan Eng Tai. Kekuatan cinta Eng Tai kepada Sam Pek mampu mengangakat timbunan tanah di atas liang lahat Sam Pek. Dan Eng Tai lari dari arak-arakan pengantin yang akan menjdodhkan dirinya dengan pria lain. Ia menerjunkan diri dan mendapati Sam Pek di bawah sana. Cinta Sam Pek pun tidak binasa. Kekuatannya mampu menarik tanah liang lahatnya dan kemudian langsung menutup kembali.
Ketika kubur itu digali, tiada didapati mereka berdua. Yang ada hanyalah terbangnya dua ekor kupu-kupu kuning yang menari-nari begitu saja lepas tiada beban. Berseri sepanjang musim.
***
Aku yakin sekali kupu-kupu kuning itu adalah Gadis Batas Senja. Karena, disadadri atau tidak, hampir setiap perempuan di negeri batas senja ingin seperti Eng Tai. Dia memiliki kekuatan cinta dan kesetiaan yang lauar biasa. Sehingga ia tiada binasa!
Masih di antara sadar dan tidak, aku meyakini kupu-kupu kuning itu adalah dia....
menjelang fajar,
4 Januari 2009
Friday, January 2, 2009
Imposible is Nothing!

Matari pertama tahun baru ini kutemui saat aku sedang pulang dari negeri batas senja menuju Jakarta. Sinarnya tak bisa langsung menyentuh sang bumi kekasihnya. Mega-mega menutup matanya. Ia laksana seorang ksatria yang sedang mengintip bidadari yang sedang telanjang mandi. Pandangannya terhalang oleh desiran angin yang membawa serta titik-titik embun yang terlambat turun. Kala itu, pelangi pagi seharusnya ada di belakangku...
Persis enam jam sebelumnya. Gegap gempita menyambut tahun baru terasa di mana-mana. Hampir seluruh penduduk bumi ingin mempersembahkan sesuatu kepadaNya. Lewat kembang api, disampiakannya berjuta harap kepada para dewata di atas sana. Satu lecutan sinar merah merona terbang menembus langit seraya meletus dan melahirkan beberapa anak api yang kemudian juga meletus menyemburkan berjuta warna di batas nirwana. Dari bawah, terlihat seperti brokli ajaib yang membelah malam. Dan di sudut-sudut kota, orang-orang berhamburan menyaksikan rasa syukur berbentuk kembang api yang ingin menggapai langit.
Para dewata pun ternyata ikut berpesta. Aroma wewangian muda-mudi di bawah sana, harum daging ikan, kambing, babi, sapi dan ayam panggang membumbung jauh ke atas membentuk semacam pilar putih yang menyangga kaki para dewata berpijak dan larut dalam suasana pesta.
Penduduk bumi bersyukur dan berharap, sementara para dewata mencoba menyeleksi apa yang menjadi permintaan orang-orang yang sedang berkumpul di bawah sana. Dari atas jelas terlihat. Ada yang sungguh serius meminta, ada yang hanya sekadarnya, ada pula yang terlelap tak menghiraukannya. Dan dewa-dewi bak seorang hakim agung yang sedang dinanti-nanti kedatangannya.
Dan beginilah ceritanya. Para dewata itu senang dengan orang-orang yang gemar memberi sesaji. Di malam tahun baru, para dewa juga sedang memasuki masa panen. Panen sesaji. "Rejeki nomplok," kata Dewa Kemakmuran beregah bangga.
Tak mau kalah, dengan Dewa Kemakmuran yang dipuja oleh hampir seluruh penduduk bumi di bawah sana yang menginginkan tahun baru ini memperoleh berkat darinya, Dewa Api pun tak mau kalah. Kepada Dewa Kemakmuran, Dewa Api bertanya, "Bagaimana kamu akan tahu siapa saja yang memohon kemakmuran tanpa perantaraan kembang api di malam ini?"
"Terang saja dari ucapan mereka, aku bisa mendengarnya. Hahahahhaaha..."
Dan dewa angin pun menyela, "Tanpa aku, bisakah setiap suara di bawah sana akan sampai ke nirwana? Tidak-tidak. Aku tidak mau membantumu," katanya kepada Dewa Kemakmuran.
Singkat cerita, di nirwana sana, terjadi adu mulut yang luar biasa. Siapa melebihi siapa. Dan diambilah sebuah keputusan penting di antara para dewata. Melalui sebuah rapat terbuka, diputuskanlah sebuah maklumat. Berapapun hasil sesaji yang membumbung dari perut bumi ke negeri kahyangan, akan dibagi rata oleh setiap dewa yang ada. Palu pun diketuk. Dewa keadilan, memimpin jalannya pembagian sesajian. Malam itu juga.
Saking banyaknya sesembahan yang harus dibagi, mereka akhirnya dimabuk sasaji. Dewa Pencatat pun akhirnya kelelahan dan bekerja asal-asalan. Ada yang menyumbang sedikit tertulis banyak, ada yang menyumbang sangat banyak tidak tertulis, dan ada juga yang tidak menyumbang tertulis menyumbang sangat banyak.
Dan di bawah sana orang-orang penduduk di bumi sungguh percaya, dewata akan memberikan keadilan mutlak. Absolut. Mereka berlomba-lomba menjadi yang paling bisa memberikan kesenangan bagi para dewa. Ada yang menggunakan berbagai trik supaya permohonannya dikabulkan. Maklum, 2009 ada sebuah agenda politik besar di tanah air. selain kembang api, mereka juga melarungkan hasil bumi, membuat korban bakaran dan juga mempersembahkan wewangian, kemenyan dan minyak mur di atas makam dan di bawah pohon-pohon rindang. Seolah, dewata sudah dikepung oleh seluruh persembahannya. Pikirnya, kemana pun dewa melangkah ke sana pula dia akan bertemu sesajinya yang tak lain untuk mengabulkan permohonannya.
Namun, apalah mau dikata. Di negeri kahyangangan sana samasekali tidak seserius yang diduga oleh kebanyakan orang di muka bumi ini. Di sana parea dewa sudah mabuk. Terlalu capek dan terlalu banyak berdebat satu dengan lainnya. Kerjaan kelewat banyak. Dan pada akhirnya, mereka bekerja asal-asalan.
Enam jam kemudian. Saat orang-orang di atas planet bumi sedang banyak terlelap. Para dewata menurunkan berkatnya. Hujan gerimis pun menjadi tanda turunnya berkat dari para dewata.
Aku sebagai satu oang yang tidak tahu menahu soal berkat dan sesajian. Pada saat pulang, aku merasa sungguh mendapatkan berkat. Padahal, aku adalah seorang yang yang tidak tahu menahu masalah sesaji. Dan sama sekali tidak mengaharap berkat. Namun, orang banyak mengelu-elukan aku. Memuji aku kelewat batas seolah persembahanku diterima para dewa. Dan bakti dan karyaku di dunia berkenan di mata dewa.
Belum sampai di Jakarta, orang-orang memenuhi pinggir-pinggir jalan berdesak-desakkan mencari tempat terbaik utuk dapat melihat aku yang hanya menggunakan sepeda motor. Mereka merasa tidak beruntung dan akhirnya ingin mendapat peruntungan dari kebaikan hatiku membagi-bagikan berkat yang mendadak saja aku terima dari atas langit.
Dan mereka pun menengadahkan tangannya di hadapanku. Sontak, aku merasa sama seperti para dewata. Aku merasa bingung karena terlalu banyak tangan yang menengadah dan akan saling berebut. Baru aku mengambil segenggam, sudah hilang seluruh lengan dan bajuku koyak. Tak kuasa aku menahan sakit dan tak bisa lagi aku mengendarai lajunya sepeda motorku. Aku pun terjun bebas ke kali. berhamburan kembali berkat-berkat itu ke atas permukaan air yang mengalir menuju Laut Jawa. Dan sudah bisa ditebak, orang-orang berlomba-lomba mencegurkan diri berharap dapat meraih berkat-berkat yang mulai menjauh hanyut. Dan mereka pun akhirnya dijemput maut karena hanyut juga dalam ambisi perebutan berkat.
Keesokan harinya. Mayat bergelimpangan di mana-mana. Bau anyir dan busuk di mana-mana membangunkan tidur para dewata. Dan mereka murka, sehari setelah berpesta, mereka tidak bisa beristirahat justru diusik oleh harum sesungguhnya sifat manusia di dunia.
Para dewata melihat ke bawah. melihat ribuan orang mati sia-sia. Di sekitarnya terlihat pula berbondong-bondnong orang menangisi kepergian Bapak, Ibu, Adik, Kakak, Paman, Bibi dan tetangga mereka.
Dan begitulah akhir ceritanya. Dewata kecewa, manusia kecewa. Dewata bersedih, manusia ikut bersedih. Tangis isak dan derai air mata ada di mana-mana.
Inilah sekelumit kisah dari negeri di alam mimpi. Negeri korupsi. di mana banyak orang berlomba-lomba mencari muka di hadapan pimpinannya. Dan pimpinannya bukan pimpinan yang baik. Mereka termakan oleh suap dan jompa-jampi pujian. Dan mereka tak mau kerja keras. Dan menderitalah semuanya. Termasuk perempuan dan anak-anak tak berdosa!
***
Jika Anda tinggal di negeri seperti ini, maka "imposible is nothing"
1 Januari 2009
Tuesday, November 18, 2008
Paradoks Kejujuran

Kuhabiskan malam yang tinggal sepotong ini dengan lamunan
Ternyata ada sesuatu yang tertinggal
Akibat sebuah ketidakpekaan dan kebodohan
Luka sudah tergores pada hatinya
Ternyata ada yang salah dengan sebuah kejujuran
Dan itu tejadi dalam sebuah hubungan cinta antara dua anak manusia di atas dunia
Padahal, semua itu kulakukan demi dan atas nama cinta itu sendiri
Pil pahit tertelan sudah
Sehari tanpa kata sayang darinya
Siapa yang bisa menduga badai bisa datang
Aku sudah mencoba menjelaskan sebisaku
Namun yang terjadi justru dia semakin menyalahkan perasaannya sendiri
Tidak sayang... Kamu benar!
Maka berlalulah cerita tentang sebuah kejujuran
Yang ternyata membawa sebuah luka
Walau demikian kejujuran tetap menjadi pegangan utama
Dan aku sama sekali tidak mengutukinya
Kar'na masalahnya tidak sesederhana itu
Ada sebuah tumbukan
Ketika aku khilaf menempatkan diriku
Dan sedang goblok karena sempat menangkap masa lalu
Yang tiba-tiba saja datang menyergap
Perasaannya yang halus tajam mensuk tepat ke jantung permasalahan
Yang membuat aku hanya bisa menangis
dan hanya bisa terus berucap
Maafkan aku
Marahlah padaku
Jakarta, 18 November 2008
Anggaplah ini sebuah ujian tuk cinta kita
Dengan doa teriring semoga kita bisa melewati ini semua
Aku tidak mau menyerah dan pada akhirnya kita berpisah
Aku mau dia tetap di sini sekarang
Juga dengan esok hari dan lusa serta selama-lamanya
Wednesday, October 29, 2008
How Can

Kutinggalkan ruangan yang dari sanalah aku mulai mengenal dia. Seorang dengan raut wajah lembut berisi. Dia yang lebih banyak diam namun tak jarang tersenyum. Kutinggalkan ruangan yang kelewat panas itu dengan langkah berat tertahan. Sesorang di pojok ruangan lantai dua tempatku bekerja itulah yang memperberat ayunan langkahku. Dia yang mampu memacu detak jantungku. Membelah dan mengacau laju lamuananku. Seorang gadis yang akhirnya kutahu berasal dari negeri batas senja.
Kaki yang lain akhirnya menutup langkahku. Meninggalkan gadis batas senja seorang diri. Aku pergi untuk sebuah perjalanan melintas benua. Sebuah perziarahan. Kalau mengikuti terminologi seorang temanku, ziarah adalah misi untuk satu tujuan tertentu. Fokus. Dalam bahasa Jawa, kata ziarah diurai menjadi siji sing diarah (satu yang dituju).
Sama seperti yang lain, aku pun menyiapkan berbagai bekal untuk keperluan perziarahan itu sendiri. Sebuah carier memuat sleeping bag, 10 potong kaos, 4 celana panjang, dan lain-lain, sebuah backpack untuk membawa laptop dan beberapa buku, serta tas pinggang untuk menyimpan passport, dompet, handphone dan radio fm. Selain itu, aku sengaja mempersiapkan batin menjelang pemberangkatan bersama dengan 100 orang muda lainnya. Dalam doa semuanya kubungkus.
Pesawat air bus pun menderu, berlari kencang di atas landasan pacu meninggalkan Jakarta sewaktu senja. Kutinggalkan juga luka-luka. Kuhempaskan lara. Kubuang segala emosi dalam pekatnya kegelapan bayang-bayang masa laluku. Sesuatu yang menjadi duniaku saat itu. Suatu ilusi semu dan tak mungkin akan menjadi nyata. Karena dusta telah meraja. Kasih sudah ternoda.
Aku menganggap, pergi meninggalkan kotaku menuju sebuah benua yang belum pernah aku ketahui sebelunya untuk sebuah perziarahan adalah sebuah simbolisasi dari transformasi kehidupan pribadiku. Meninggalkan yang lama dan memulai sesuatu dan semangat yang baru.
Dari jendela pesawat Garuda dari Denpasar menuju Sydney, 12 Juli 2008, tepatnya di atas samudra hindia, kuputuskan untuk membuat satu intensi khusus dalam perziarhan rohaniku. Gadis batas senja muncul perlahan dari balik awan tepat pada saat aku membayangkannya. Langkahnya tenang saat dia berjalan. Tinggi semampai badannya. Putih-kuning bekilau-kilauan kulitnya. Lembut tutur sapa keluar dari bibir ranum merah yang selalu basah. Damai dan sendu pembawaannya. Dia datang membawa sebuah senyum dan sebongkah cerita. Cerita tentang sebuah kebahagiaan dan harapan. Kebimbangan dan kekeuhan. Cinta dan derita.
Kutuliskan surat ini di atas sehelai kertas yang nanti akan aku salin ketika aku tiba di penginapan. Aku menulis ketika Sydney sedang mendung kelabu. Sama seperti suasana hatiku. Entah mengapa.
Aku sedang dirundung perasaanku sendiri. Walau di tengah lautan berjuta umat manusia dari seluruh penjuru dunia, yang kurasakan adalah aku ingin bersamamu. Melewatkan waktu berdua, berbicara dari hati ke hati. Bukan dalam suasana kerja.
Aku saat ini sedang berada di Bangaroo. Tepat di depan kanal besar yang ditata modern. Apik. Layar televisi raksasa menunjukkan gambar Sri Paus yang baru saja datang ke Sydney. Gegap gempita disambut histeris muda-mudi yang terbakar emosi. Ada 5 helikopter setidaknya yang bisa aku saksikan. Ada beberapa kapal perang, dan pengamanan ekstra ketat untuk menjaga orang nomor satu di Gereja Katolik saat ini.
Mereka menerapkan zero tolerance untuk kesalahan. Semua terpagari. Rapi.
Lautan orang berbondong datang ke sini untuk bertemu langsung dengan Sri Paus. Tapi aneh rasanya. Aku merasa justru sebaliknya. Hatiku ingin pulang dan menemuimu. Mataku ingin mengamatimu lebih dan lebih lagi. Karena ketika bersamamu sungguh merasa menemukan sesorang yang sungguh aku percaya mampu membuat aku bahagia menjalani hidup di dunia. Membuat aku merasa dunia ini sungguh sangat damai dan tenang. Cinta itu begitu nyata rasanya. Lembut.
Waktu itu, aku ingat benar, kamu menaruh perhatian yang utuh terhadap kamu.. Tidak tahu apakah kamu menyadari atau tidak... Di awal-awal kedatangan kamu ke kantor, itulah saat aku mengamati kamu. Jujur, yang mengamati itu bukan sekadar mataku, melainkan hatiku....
Aku merasakan hatiku bernyanyi. Meluap. Ingin rasanya berkenalan dengan hatimu. Masuk ke dalam pedalaman jiwamu.
Gadis batas senja adalah perempuan yang sesungguhnya baru kukenal. Yang entah mengapa, hatiku begitu tergerak kepadanya. Seperti besi yang tertarik sebuah magnet raksasa. Padahal, dia sendiri tidak berkata dan berbuat apa-apa kepadaku. Ada sesuatu yang berdesir membujukku untuk mendekatinya. Padahal, beberapa orang telah menghapiriku sebelunya. Banyak juga yang sudah mengirimkan signal-signal tertentu yang tertangkap oleh antena hatiku. Tapi semuanya itu tidak ada yang gilang-gemilang Gadis Batas Senja.
Pilihan pun akhirnya jatuh ketika rasa berselingkuh dengan logika dan mereka bercumbu dalam pagutan asa. Kedamain begitu nyata terasa. Mesra. Dan gadis batas senja menjadi intensi tersendiri dalam perziarahanku.
Kala malam dingin menyergap. Dan mataku tiada bisa terpejam dalam sunyi. Hasratku membara dan terus saja semakin meninggi. Seribu asa memanggilku. Sejuta harap menyapaku. Di arena pacuan kuda Randwick yang disulap menjadi bumi perkemahan untuk sebuah vigil night dini hari 20 Juli 2008. Di antara lautan orang muda dari seluruh penjuru dunia. Dihadapan Bendictus XVI, penerus tahta Petrus. Aku bangkit berdiri. Menyalakan sebuah lilin. Aku merinding. Kutemukan makna perziarahanku. Gadis Batas Senja itu sendirilah ke sana segalanya bermuara. Dialah satu-satu yang aku tuju. Dia sendirilah sang PEZIARAHAN-ku selanjutnya.
***
Dia selalu barertanya kepadaku, “… how can, kamu bisa sayang sama aku?”. Aku sendiri tidak tahu kalimat apa yang tepat untuk melukis sebuah perasaan yang sudah tertinggal di belakang. Jawabanku kepadanya selalu saja berubah-ubah. Karena perasaan waktu itu, sekarang sudah jauh bertumbuh dan berkembang. Aku sulit mengingat-ingatnya.
Seandainya waktu bisa berbalik, ingin aku sejenak untuk kembali. Bernostalgia dengan perasaan itu pertama menghinggapiku. Lewat tulisan ini, semoga tanya itu sedikit terungkap. Menyibak beberapa sangsi. Untaian aksara ini kubuat dengan perasaan yang berbicara dengan perasaan-perasaan lain yang sedang terus merasa.
***
Jalan Bangka III No 1,
27 Oktober 2008 pukul 04.13 WIB
Khusus untuk dia….
Subscribe to:
Posts (Atom)