Pages

Thursday, July 26, 2007

Dua Puluh Enam

Aku sudah memulai sebuah pendakian. Tapak-tapak kakiku pun sudah berceceran di belakangku. Namun, tapal batas jalan baru menunjukkan angka 26. Entah sampai berapa patok-patok angka itu selesai berhitung dan menyapaku.

Saat ini, adalah hari ke-26, bulan ke 7 tahun masehi. Aku memutuskan berhenti agak lama. Selain beratnya kaki untuk diajak -kembali- melanjutkan langkah, aku juga masih ingin bergelut dengan angan dan rasaku sendiri.

Bersandar pada punggung bebatuan ditemani semilir angin pegunungan, dahaga di kerongkonganku berlahan muali sirna.

Perhentian demi perhentian memang telah aku lalui satu per satu. Namun, perhentianku saat ini sedikit berbeda. Selain musim dan tempat peristirahatannya yang berbeda, tanda-tanda disekelilingku pun jika kuperhatikan cukup unik.

Aku sesungguhnya tidak tahu kapan aku pertama kali memulai perjalanan ini. Seseorang beberapa kali memberi tahuku kapan aku memulai perjalanan ini. Walau aku tidak tahu sama sekali kapan aku mulai perjalanan ini, namun aku sungguh percaya kepada orang itu. Dan
ingin kukabarkan kepada dunia, aku sungguh mencitai orang-orang itu. Dan hidupku kupersembahkan untuknya. Dia yang telah berperang dengan hidupnya sendiri demi aku. taruhannya, hidupnya sendiri.

Dia bilang, ketika itu fajar belum juga menampakkan dirinya, ayam jantan pun masih terlelap di ujung mimpinya. Kala itu musim panas. Dan waktu itu, orang masih lebih percaya takhayul dari pada ilmu pengetahuan.

Sama seperti hari ini, perjalananku juga dimulai pada hari ke-26 pada bulan ketujuh tahun masehi.

Dalam perhentian ini, aku tidak ingin sekedar melepas lelah. Aku mencoba membalikkan badan. Aku melihat sisa-sisa tapak kakiku. Dan kulihat jejaknya. Karena, hanya itu yang tersisa. Bayanganku pun sudah berada di bawahku. Mungkin sebenatar lagi, dia akan mendahuluiku.

Jejak-jejak itu mulai kuhidupkan kembali lewat memori dan rasa yang masih tersisa. Mencoba mengenang setiap jejak, seperti melihat diriku dalam sebuah rumah kaca yang sudah mulai buram.

Tak apalah, biarlah itu menjadi cermin dirku sendiri yang utuh. Aku harus bisa menerima siapa diriku sesungguhnya, dalam kacamataku sendiri. Aku ingat waktu baru saja meninggalkan perhentian ke-25, asaku bangkit untuk menghalau semua keraguan dalam dada.

Aku memaknai pal 25 sebagai titik yang paling kritis. Aku menyambungkan angka 25 dengan matematika sederhana. 2 + 5 = 7. Dalam mitologi Jawa, angka 7 adalah simbol dari kematian. Artinya dalam 25 terkandung unsur yang bagi banyak orang menjadi hantu tersendiri. Dan 25 adalah titik pertengahan menuju 30. Dan pertengahan berarti juga ada keseimbangan. Aku percaya kala itu, ketika aku bermain-main dengan di 25, maka kematian resikonya.

Nah, dalam saat itu juga aku mulai merancang -dalam angan- seperti apa wujud kematianku nanti. Aku berharap dalam hidupku tidak usah banyak merepotkan orang-orang di sekelilingku. Kalaupun diizinkan, biarlah aku mati dalam sebuah perjuangan. Dengan tangan yang masih mengepal. Dan senyum yang terkembang. Gelora asa perjuangan itu yang akan kutitipkan dalam upacara kematianku.

Memulai hidup dari membayangkan sebuah kematian yang aku idam-idamkan, menjadi energi positif yang sungguh laur biasa. Aku tidak mau hanya sekadar numpang lewat atau hidup dengan tak memiliki keberartian. Aku ingin menjalani hidup untuk sebuah kematian yang berharga. Dari sana, kutrarik apa-apa saja yang mesti kulakukan selama menjalani hidup ini ke depan.

Kini aku berada di titik ke-26. Aku tidak mau lagi mengulang dan membatalkan apa yang sudah aku mulai. Aku mau melanjutkan perjalanan dan perziarahanku. Tentu saja, dengan banyak tambal-sulam di sana-sini. Aku sungguh sangat yakin dengan langkah-langkahku ke depan. Walaupun jalan ityu tidaklah selalu mulus dan rata. Kadang aku harus berputar dan memanjat tebing. Artinya aku sudah mantap dengan jalan hidupku yang mendaki, berkelok dan tak rata ini. Jatuh ke jurang dan terantuk karang terjal pun aku sudah siap.

Kali ini, aku ingin mencapai puncak gunung ini bersama-sama dengan banyak orang. Aku yakin, sudah banyak orang yang merintis perziarahan semacam ini. Mungkin mereka memilih jalan yang lain dari jalan yang kupilih. Tapi tak apalah. Justru siapa tahu, dari pengalaman yang mereka dapat aku bisa belajar dari mereka. Sekarang yang penting bagiku adalah mencari di mana mereka berada. Akan kubangun sebuah tenda kecil untuk berbagi.

Kekuatan-kekuatan baru
Dalam kesadaran ini, asa akan kutambatkan kembali. Bagaimana pun, ia laksana layar dalam sebuah penjelajahan samudra. Semakin banyak layar yang akan terkembang, semakin cepat pula bahtera itu mencapai benua. Namun, semakin berat pula menggerakkan roda navigasi. Salah-salah ingin segera menambatkan jangkar, justru aku khawatir kita salah jalur dan akhirnya terjebak dalam pusaran hujan badai.

Anganku sedang mengarungi samudra raya dalam sebuah bahtera yang dihantam ombak dan ditimang-timang sang bayu. Jauh... jauh dari tempatku berpijak saat ini. Ngeri aku melihat.

Perasaan takut tiba-tiba menyeruak begitu saja. Gelap gulita di sekelilingku. Aku seperti kehilangan arah... Mata angin pergi bersembunyi ditutup mega-mega langit. Bintang pari penunjuk arah selatan, berubah menjadi kilat-kilat petir.

Tapi di saat-saat seperti ini aku ditantang sebagai seorang lelaki. Apakah intuisi kebenaran yang sudah berkompromi dengan rasio dan logika berani berhadap-hadapan dengan ketakuatan yang bisa saja menjadi nyata.

Sejumput kasih yang pernah mengalir dari air susu Ibunda, masih memberikan sebuah pesan akan kepercayaan untuk menjalani hidup untuk tidak pernah takut akan apa pun yang ada di muka bumi ini. Apalgi, bergumul dalam keraguan. Keberanianku mengambil resiko, adalah pilihan dewasa yang tak dapat disesali di kemudian hari.

Dua puluh enam, selamat tinggal. Aku akan kembali melangkah. Aku akan kembali menggendong tas dan memegang tongkat wasiat warisan leluhur. Akan kujalani hidup baru dalam semangat yang berkobar-kobar!!!

Monday, July 23, 2007

Satu Hari Pada Bulan Januari

Suatu hari pada bulan Januari di tepian pantai. Camar-camar menggodaku. Satu di antaranya menghampiriku. Ia kepakkan sayapnya, dengan cepat ia membalikkan badannya untuk kemudian pergi menjauh menyongsong ombak. Kebebasan menjadi begitu nyata dan merdeka.

Kulangkahkan kakiku di antara balok-balok dermaga. Menyusuri sisi senja ditemani riak-riak ombak, ibarat meniti sebuah jalan kehidupan lengkap dengan pasang-surut gelombang masalahnya.

Dalam balutan mega-mega, cahaya mentari menyeruak menembus gugusan awan. Sinarnya berpendar, kuning, jingga dan ungu bertabrakan di atas punggung-punggung air. Layaknya anak-anak bermain, bias-bias cahaya itu tampak lari kejar-mengejar menuju batas cakrawala. Tempat di mana dekapan kasih sang bunda samudra telah menanti.

Sekeruh apapun air yang datang dari muara-muara sungai, sang bunda tetap menerimanya. Ia pagut-pagut anak-anaknya yang baru saja pulang setelah sekian lama menghilang.

Kerinduan akan kasih itulah yang mengantarkan aku pada sebuah senja di tepian pantai.

Awal Januari,
Pantai Karang Bolong

Sunday, July 22, 2007

"Demam Sepak Bola"

Catatan ini kubuat dari pinggir lapangan hijau. catatan serampangan yang lebih banyak memunculkan unek-unek dan spontanitas untuk mengaitkan (secara kurangajar) apa-apa yang terjadi di lapangan hijau dengan apa-apa yang terjadidi dunia nyata.

Tersingkirnya Indonesia dari ajang Piala Asia 2007, memberi sebuah pelajaran berharga. Segala sesuatu tidak bisa didaptkan dengan cara instan. Semua harus berproses.

Tim Garuda dalam bahasaku hanya bermodal semangatjuang 45. Kemampuan individu dan tim masih kalah jauh dari lawan-lawannya di Grup D itu. Bayangkan saja, Bahrain adalah juara 4 Piala Asia 2004. Korea Selatan langganan Piala Dunia, dan pada tahun 2002, mereka menjadi Semifinalis di bawah asuhan tangan dingin Gus Hidink. Sedangkan Arab, seperti singa padang pasir. Mereka memiliki kecepatan, kekuatan, serta postur tubuh yang jauh dari rata-rata pemaian Indonesia. Sama seperti Korsel, Arab juga langganan Piala Dunia.

Modal semangat yang dimiliki Tim Indonesia didukungoleh penonton yang lebih dari 80 ribu orang. Mereka berasal dari berbagai tempat dan dengan berbagai problematikanya datang mendukung Indonesia untuk satu kata: MENANG.

Para pemain sudah mengeluarkan lebih dari apa yangmereka punya. Pelatih Ivan Kolev dalam jumpa persnya menyebut, "...Saya salut kepada anak-anak, karena mereka sudah siap mati di lapangan. Dan saya belumpernah melihat ini di tim manapun".

Bagiku, bukan faktor keberuntungan yang belum kunjung hadir. Namun benar apa yang dikatakan oleh salah seorang temanku, yakni keseriusan para official PSSI yang tidak layak didukung.

Kita lihat saja; Nurdin Halid, ketua PSSI tersangka kasus korupsi Minyak Goreng yang merugikan keuangan negara sampai 160 miliar. Masih syukur dia orangGolkar. Sehingga, persoalan hukum selesai lewat tawar-menawar politik. Sudah menjadi rahasia umum, pengadilan di sini belum bisa menjadi benteng terakhir untuk mencari dan menemukan keadilan.

Kemudian sistem kompetisi liga di Indonesia yang saben tahun berganti. Musim lalu sistemnya disatukan. Di mana tidak dipisah antara Indonesia barat dan Timur. Tahun sebelumnya ada pembagian regio barat-timur. Hal ini jelas sangat berpengaruh dengan konsentrasi pelatih, pemain dan sistem manajemen tim secara keseluruhan.

Indonesia tahun lalu juga urung memperkuat penyisihan Liga Champion Asia, karena keterlambatan official PSSI mendaftarkan timnya. Waktu itu, Arema Malang dan Persipura yang menjadi korbannya. Dengan enteng Sekjen PSSI Nugraha Besoes bilang, "... ini masalah internal, dan kami seang membahasnya didalam". Asumsinya, orang di luar PSSI tidak berhak bersuara atas kebijakan PSSI. Padahal, Nurdin Halid, dan teman-temannya itu dibayar oleh duit rakyat setiap bulannya.

Pengalaman bertanding di kancah Asia yang harusnya didapat oleh Arema dan Persipura dikorupsi olehpunggawa PSSI.

Tak puas menzolimi tim-tim yang harusnya berlaga di Liga Champion Asia, mereka juga mezolimi setiap orang yang ingin menonton langsung Piala Asia. Aku tidak pernah habis pikir, mengapa tiket selalu habis ketika loket paling baru buka beberapa jam. Kontan saja, massa antrian yang sudah tumpah ruah di jalan raya menjadi kehilangan kesabaran lantaran para calo dengan bebas menjual tiket itu di depan loket dengan harga minimal 3 kali lipat.

Hal ini juga bukan barang baru di sini. Kerjasama apik antara calo dan staf bagian tiket tidak saja terjadi di stadion. Di stasiun kereta pun terjadi hal seperti itu. Tempat duduk yang seharusnya menjadi hak penumpang, tidak diberikan. Namun ketika penumpang menanyakan kepada calo yang berkeliaran di area loket, mereka bisa mendapatkan tempat duduknya dengan tambahan uang (minimal Rp 20.000, ini sering terjadisaat mau menumpang kelas bisnis dari Jakarta ke Jogja,Solo, dsb).

Malangnya, hal ini selalu menimpa masyarakat kelas bawah. Tiket yang seharusnya senilai Rp 15.000 menjadiRp 50.000. Bahkan, partai melawan Korsel mencapai Rp 75.000. Dan ketika aku sampai pada jendela loket, iseng-iseng kutanya apakah masih ada tiket VIP? Jawabannya, .."tiket VIP harganya Rp 200.000 masih banyak,".

Menjadi wajar ketika jelang partai Indonesia vs Korsel, di depanku terlihat orang-orang murka dan akhirnya membakar loket II. Kembali, seolah-olah mereka -penonton Indonesia- yang mendapat label negatif. Mereka dicap tidak dewasa, dan selalu disalahkan.

Di sisi lain, orang-orang yang sanggup membeli tiket VIP biasanya mereka adalah orang-orang yang ogah mengantri. Aku tahu cerita ini dari kakakku yang bosnya selalu membelikannya tiket VIP. Sebagian dari mereka juga tinggal melakukan transaksi via on-line atau di mal-mal yang ditunjuk sebagai official partner. Mereka yang membeli VIP tidak pernah berhadap-hadapan langsung dengan calo. Dan dengan mengenakan baju atau yang dikenal jearsey original -Merah-Putih- mereka datang lengkap dengan harum parfum, duduk di tempat tak jauh dari Presiden SBY.

Menonton pertempuran pasukan Merah-Putih di lapangan hijau dan mengaitkannya dengan persoalan riil di masyarakat, adalah sisi lain dari sekadar menonton sepak bola. Di sana, muncul semacam fragmentasi kehidupan nyata di Indonesia.

Kekalahan Indonesia kemarin di ajang Piala Asia aku analogikan seperti orang yang terkena demam. Demam biasanya bukan penyakit sesungguhnya. Penyakit sesungguhnya tidaklah tampak, dan (memang) tidak (mau) menampakkan dirinya. Sehingga, menyalahkan mereka yang berjuang di lapangan hijau bagiku adalah tindakan yang -sama sekali- tidak adil.

Aku ingat betul ada sebuah media nasional yang menurunkan pemberitaannya seolah-olah menyalahkan salahsatu pemain Timnas saat laga Indonesia vs ArabSaudi. Waktu itu, Indonesia ditekuk Arab 1-2. Kuranglebih isi beritanya seperti ini; kekalahan Indonesia itu gara-gara Ivan Kolev mengganti Budi Sudarsono dan memasukkan Ismet Sofyan. Ismet yang baru saja turun, mengganjal pemain Arab dan wasit memberikan tendangan bebas yang akhirnya berbuah gol.

Ismet menjadi kambing hitam kekalahan Merah-Putih. Ditambah, prilaku wasit yang tidak adil, dan dikaitkan dengan asal wasit itu yang juga berasal dari jazirah Arab. Tak tanggung-tanggung, Presiden SBY juga terjebak dengan analisis sempit yang (dengan cepat menyalahkan wasitnya). Padahal, harusnya SBY melihat dulu siapa orang-orang dibalik 'seragamMerah-Putih' . Orang-orang itulah yang dalam bahasaku penyakit Timnas sesungguhnya dan musuh bangsa yang utama. Orang macam Nurdin Halid, Nugraha Besoes, dsb. Ketika semua ingin maju dan menang, justru birokrasi mengacaukan semuanya. Mereka korup dan hanya memikirkan diri sendiri, tanpa mau berjuangsungguh-sungguh bekerja untuk rakyatnya. Mereka lupa dibayar oleh siapa.

Begitu juga dalam peta politik. Di Jakarta misalnya, rakyat ingin Jakarta memiliki pemimpin yang baik. Tapi partai politik memberikan dua pilihan pasangan calon yang sama-sama bobrok. Partai politik tidak menjalankan fungsinya. Mereka bukannya mencalonkan kader terbaik dari paratainya masing-masing, eh malah mengajukan calon yang berasal dari luar yang merekahanya bermodal duit saja.

Dan aku rasa di aras keidupan lain, hal itu kurang lebih sama. Semoga saja tidak demikian ke depan!

Wednesday, July 18, 2007

Bangkitnya Poros Kebaikan

Geliat politik dunia semakin menarik. Tidak hanya cukup hanya untuk dipelajari, namun juga untuk mulai diimplementasikan!
Fidel Castro, pemimpin Cuba menyebut fenomena dunia saat ini dengan bangkitnya kembali negara-negara sosialis, anti kapitalisme sebagai "The changing map".
Foto ketiga pemimpin negara itu sungguh sangat menginspirasi.

Evo Morales (47) -kanan- adalah presiden Bolivia pertama yang berasal dari suku Indian. Dia adalah pemimpin gerakan tani coca. Morales menyadari, perjuangan sosial bersama dengan petani coca harus ditingkatkan menjadi gerakan politik. Sikap politiknya sangat jelas karena dia sebagai pemimpin partai Movimiento Al Socialismo (MAS) berhaluan anti-kapitalisme, dan dengan sendirinya anti-Amerika. Morales terpilih secara demokratis dalam pemilu 22 Januari 2006. Morales memperoleh suara mayoritas, 54 persen dari negara yang berpenduduk sekitar 11 juta jiwa.

Morales menyadairi potensi yang dimiliki Bolivia sebagai negara penghasil gas bumi terbesar. Berulang kali dia menyerukan pentingnya Bolivia mengkontrol pengelolaan gas bumi yang merupakan cadanagan besar sekali di benua Amerika Latin.
Morales adalah pemimpin yang berhasil memaknai sejarah negerinya sendiri. Penjajahan bangsa Spanyol di Bolivia menunjukan bahwa telah terjadi penjarahan besar-besaran kekayaan bumi negerinya yang berupa timah. Hasil penjarahan itu dinikmati oleh kapitalis-kapitalis dari negeri matador itu. Sedangkan penduduk asli yang orang Indian, dan merupakan penduduk mayoritas tidak mendapat apa-apa. Untuk itu, dari dulu sampai sekarang dia terang-terangan kerap mengutuk kejahatan perusahaan-perusahaan multinasional, badan-badan dunia seperti IMF, World Bank, dan World Trade Oragnization. Morales menambah duri bagi kepentingan AS di Amerika Latin.

Tak tanggung-tanggung, Fidel Castro -tengah- mengirim pesawat pribadinya untuk menyambut kemenangan Morales. "I think that it has moved the world. It's something extraordinary, something historic. The map is changing," sambut Castro.

Balasan setimpal juga dilontakan oleh orang Indian yang terkenal sangat sederhana dalam penampilan. Morales menyebut Castro sebagai "El Commandante". Dia begitu salut kepada perjuangan gigih pemimpin Cuba yang sudah lebih dari 45 tahun diembargo ekonomi oleh Amerka sampai sekarang.

Kesederhanaan Morales sudah sering menjadi momok insan pers di seluruh belahan dunia. Dia kerap tampil hanya dengan berbalut jacket kulit atau pakaian yang dibuat dengan alpaca (bahan pakaian tradisional yang banyak dibuat orang-orang Indian), tanpa pernah memakai dasi yang dengan kata lain tidak menghormati protokoler.

Yang menarik adalah hubungan Morales dengan Presiden Venezwela, Hugo Chaves -kiri. Mereka menyebut hubungan Bolivia dan Venezwela sebagai "axis of good" (poros kebaikan). Mereka berkomitmen untuk saling bekerjaama menghancurkan "axis of evil" (poros kejahatan). Poros yang dimotori oleh Washington dengan sekutu-sekutunya di seluruh dunia, yang mengancam, menyerang, dan membunuh (who threaten, who invade, who kill, who assasinate).

Sementara, bagaimana dengan Indonesia, negeri tempat saya lahir dan dibesarkan?

Orde Baru telah mengubah haluan aras politik Sosialis Indonesia. Naiknya Soeharto sebagai presiden, telah menjadikan Indonesia menjadi antek kaplitalis... Saatnya sekarang merefleksikan ulang posisi Indonesia sebagai negara yang sudah sejak lama -zaman Soekarno- sudah anti-kapitalis. Dan saatnya generqasi muda mengambil tanggungjawab mengembalikan kewibawaan bangsa di kancah dunia.

El Señor esté con vosotros

Friday, June 1, 2007

Cinta Sederhana

Kamu... kan menjadi malam-malamku. Kan menjadi mimpi-mimpiku. (Selimut Hati, Once)

Selalu... Ketika melihat keceriaan wajah-wajah dalam foto itu, tubuh ini tergetar. Ada pancaran energi dari mata mereka.

Energi itu menyatukan kami dalam balutan kehangatan rahim sang bunda. Energi itu tak mampu dihalangi oleh dimensi ruang dan waktu.

Dalam sebuah ikatan abadi yang terus menjadi misteri, aku dan mereka tidaklah terpisah. Sekalipun maut menjemput...

Dalam keceriaan wajah perempuan-perempuan itu, terbersit sebuah asa. Di mana, di sana kehidupan menjadi nyata. Keceriaan dalam wajah-wajah muda itu, mampu menjadi mata rantai penghubung antara masa depan dan masa lalu. Sederhana namun nyata....

Tatkala harmoni terganggu oleh laju dan deru ambisi. Titian hidup menjadi tak jelas. Dan ketika aku berada dalam sebuah persimpangan, membatinkan keberadaan mereka bisa menjadi penawar dahaga kebuntuan dan kebingungan. Kakiki kembali kuat. Dan aku, siap melangkah kembali dalam sebuah aras yang telah tergaris...

(untuk semua saudaraku serahim, tak terkecuali!!! meskipun dengan berbagai keterbatasan ... sorry untuk Viri dan Thomas yang aku saat ini nggak ada gambarmu... terlebih, untuk kedua orangtua kami tercinta)