Pages

Tuesday, November 13, 2007

ANTARA MIMPI DAN BELAJAR BAHASA

Matari belum juga menampakkan senyumnya. Padahal, pagi sudah berlari. Dan aku sudah beranjak dari peraduanku. Jendela kubuka lebar-lebar. Kulihat awan hitam menyelimuti punggung-punggung langit. Gelap. Namun, hujan tak kunjung turun. Tidak seperti biasanya.

Pagi ini, juga tidak seperti pagi pada Sabtu-sabtu sebelumnya. Di mana, aku harus bangun lebih awal. Memikul seonggok pekerjaan rumah yang harus selesai dibuat dan siap dibacakan di depan teman-teman baruku. Seperti anak sekolahan.

Ditemani secangkir kopi panas, aku duduk di balai-balai rumah. Pada jam-jam ini minggu-minggu yang lalu, aku sedang duduk melingkar di atas kursi merah. Di dalam ruang kelas mendengar dan menulis mempelajari sebuah bahasa asing, serta mengerjakan latihan-latihan.

Masih lekat benar bagiamana saat pertama kali aku memasuki kelas itu. Aku bersama salahseorang teman baikku berangkat bersama ke sebuah kampus di bilangan Grogol Jakarta Barat. Namanya Fransiskus Pascaries. Aku biasa memanggil dia, Pren. Namun banyak teman-temannya memanggil dia, Aris. Teman yang kukenal sejak akhir 2005.

Seperti sedang berkejar-kejaran dengan matari baru, laju roda motor kami menyelinap di antara mobil-mobil metropolitan. Motor bebek Susuki Shogun hijau itu tidak sekadar membawa kami berdua. Tapi, ia juga ikut menggendong mimpi-mimpi kami. Waktu menjadi garis finisnya.

Mimpi itu tak lain adalah usaha membuat tanah air ini lebih baik bagi anak cucu bangsa merdeka. Bagi setiap benih kebaikan yang akan berbuah. Dan apa yang sedang aku lakukan sekarang, adalah pilihan rasionalku yang aku yakin dapat menghantarkan aku pada mimpi-mimpi itu. Aku belajar bahasa Spanyol.

Tentulah sudah menjadi sebuah persoalan sekarang. Mimpi dan belajar bahasa Spanyol. Mengapa harus belajar berbahasa Spanyol? Mengapa tidak belajar bahasa Mandarin, Jepang, Jerman, Prancis, atau memperkuat bahasa Inggris yang pernah kupelajari dari SMP sampai kuliah dulu? Nah, di sinilah maksud dari tulisan ini. Pertautan antar mimpi dan belajar bahasa.

Keputusanku untuk memilih belajar bahasa Spanyol bukan seperti ketika aku mempelajari bahasa Inggis dalam masa-masa pendidikan formal dulu. Dulu, berbahasa Inggis menjadi kewajiban, bukan keputusanku sendiri. Sehingga tidak ada ruang diskusi bagi nalar dan rasaku kala itu untuk menimang-nimang makna motivasi. Semuanya mengalir saja, sudah terjadwal. Nilai-nilai hasil ujian menjadi penanda usahku.

Motivasi itu tumbuh seiring tumbuhnya kesadaran nasionalismeku sebagai anak bangsa. Kesadaran yang tumbuh dari melihat, mendengar, dan merasakan sendiri hidup di Indonesia. Tanah air yang menurut ceritanya sudah merdeka. Kaya-raya. Negeri maritim terbesar. Dan, berkebudayaan tinggi. Cerita yang aku tahu dari aku duduk waktu sekolah dulu.

Apakah hal itu terasa berlebihan? Ketika aku menyebut kata nasionalisme? Setidak-tidaknya sebagai manusia Indonesia adalah selayaknya aku punya pikiran tentang Indonesia. Dan setidaknya juga aku bebas punya pendapat atau opini tentang bagaimana membuat tanah air ini lebih baik.

Bahasa dari negeri matador ini aku pelajari untuk menjadi perantaraku mengenal sebuah dunia baru yang sedang berputar di porosnya sendiri. Yang oleh karena laju putarannya, menarik segala sesuatu yang frekuensinya sama. Mereka menyebut dunia itu berputar dalam sebuah poros yang mereka namai POROS KEBAIKAN.

Aku tertarik oleh magnet itu. Semakin lama, semakin mendekat. Tarikannya mengalahkan gravitasi bumi. Aku dibuatnya terpelanting dan terlempar.

Semakin hari, semakin jelas panggilan itu ditelingaku. Panggilan untuk menjadi salahsatu pemainnya. Bukan sekadar menjadi penonton ataupun peliput yang baik.

Semanagat yang membara didadaku adalah semangat menimba ilmu. Menemukan mutiara itu. Aku siap mengorbankan segala-galanya. Bukan untuk diriku sendiri, melainkan untuk semua insan di negeri merdeka ini.

Aku harus pergi untuk sementara. Mematangkan pengetahuan dan nyali. Dan kembali membawa REVOLUSI.


Post a Comment