Pages

Wednesday, September 10, 2008

Bulan Jingga

Langit malam diterangi sepotong rembulan utuh yang sedang mendaki perlahan di timur sana. Warnanya jingga merona. Lembut sinarnya meluruh memendarkan aura. Menjadi semacam pelita utama ketika aku dan gadis batas senja hanyut di atas laju roda[1].

Dia memelukku dari belakang. Mendekatkan wajahnya dan mengecupkan bibir lembutnya ke pipi kiriku. Kutangkap cahaya kebahagiaan membias dari ujung mata sipitnya. Kemudian membisikkan sebaris kata-kata.

“Aku sayang kamu,” katanya pelan.

Ucapannya halus menyentuh sukma. Membangunkan jiwa yang sekejap terlelap dalam dekap asmara. Kalimat itu meluncur setelah aku sebelumnya menegaskan niat untuk terus memperjuangkan bisikan naluriku. Pergi menuju ke sebuah tempat baru bersamanya.

Aku utuh menyadari hal itu bukan perjalanan yang mudah. Jurang perbedaan antara aku dan dia lebar menganga dan siap menelan kapan saja. Sementara, aku dan dia hanya meniti di atas sebuah pijakan. Sesuatu yang banyak orang sebut dengan istilah cinta.

Kepadaku, dia mengaku samasekali tidak memiliki semacam pegangan dalam meniti perjalanan ke sebuah tempat baru itu. Hanya kesungguhanku saja untuk terus mau berjuang mendapatakannya-lah menjadi satu-satunya tongkat penyangga langkahnya. Malam itu ketika rembulan meraja, kunyatakan kembali kesungguhanku. Dia menghadiahi aku lagi, sebuah kecupan di pipi kiriku. Lembut.

Sore hari sebelumnya. Hari di mana aku menghadap kedua orangtuanya. Mereka mengajakku pergi ke sebuah tebing di mana di sanalah awal mula cerita ini tercipta. Cerita tentang hikayat cinta yang kata orang bijak mampu datang untuk mengoyak perbedaan. Sesuatu yang selalu memiliki dua sisi sekaligus. Bahagia dan derita.

Lelaki paruh baya itu membentangkan gambar jurang perbedaan antara aku dan anak bungsunya. Perbedaan agama, Budha dan Katolik. Cina dan Jawa. Serta 8 tahun rentang usiaku dan usianya.

“Tiada maksud untuk menghalang-halangi. Apalagi di saat kalian jatuh cinta. Semua terlihat baik-baik saja. Semua indah. Tapi masalah itu akan datang. Nanti,” sambung mamanya lugas mengingatkan.

“Kami berbicara seperti ini karena kami mengalami. Sakit rasanya setiap kali misa saya selalu duduk di pojok gereja paling belakang. Karena apa? Karena malu tidak pernah menerima sakramen maha kudus komuni. Perkawinan beda agama tanpa melalui pemberkatan dalam gereja katolik masih dilihat sebagai zinah. Itu setahu saya. Saya sudah tanya ke beberapa pastor. Semua tidak bisa menjawab. Apa saya zinah? Mereka hanya menjawab masih ada kesempatan Bapak bisa menerima komuni. Bukan itu pertanyaan saya. Apakah saya zinah?” cerita papanya kepadaku getir.

Dari paparannya, hampir tiada sedikit pun jembatan untukku dapat menyeberang menuju suatu tempat yang baru yang selalu kuimpikan itu. Semua terjal berbatu. Keras dan curam. Ular-ular berbisa siap berjaga di bawah sana. Nada bicara kepala keluarga itu pelan namun keras berisi. Menyimpan sebuah pengalaman pahit pada masa lalu. Yang dia tidak ingin putri tercintanya mengecapnya lagi.

“Cukup. Cukup papa saja,” katanya nyeri walau tak terungkap.

Sepotong kalimat yang keluar dari mulutku hanyalah ucapan terima kasih. Terima kasih untuk mau berbagi pengalaman kepada yang muda. Segetir apa pun pengalaman itu, kata orang, dialah pelajaran hidup paling berharga. Kuhargai sungguh permintaannya untuk mempertimbangkan kembali maksudku mendapatkan putrinya.

Mataku beradu pandang cukup lama dengan mata si ayah gadis batas senja. Kudapati kesan dia sangat menyayangiku juga. Dia juga tidak ingin aku masuk dalam putaran roda masalah hanya berrotasi naik-turun pada porosnya. Dia memperingatkan aku untuk berpikir dua kali. Sebelum semuanya menggelinding lolos begitu saja.

Aku pun mengangguk penuh. Ketegangan berangsur reda. Kemudian, mereka mengajakku untuk pergi makan malam bersama. Di pingir kali Cisadane di sebuah resto sea food. Dua ikan bawal goreng dan bakar dihidangkan dengan cah kangkung serta tahu-tempe.

Makan malam pun dimulai. Aku saja yang meminta izin untuk sekadar menemani. Karena aku sudah penuh. Kenyang. Aku melihat gadis batas senja tak begitu berselera makan. Entah kenapa. Syukur tidak dengan yang lain.

Kuhabiskan segelas es jeruk. Masih kurasakan suasana hati di antara aku dan orangtuanya yang belum sepenuhnya mencair seperti es jeruk yang kuminum ini. Kuputuskan untuk undur diri dan pamit. Diberinya aku kesempatan oleh kedua orangtua itu ditemani putri bungsungya untuk sekadar berpamitan.

Bulan jingga kulihat masih merona. Ketika angin kota desir menyapa, dia memelukku dari belakang. Damai terasa menjadi begitu nyata. Kubahas lagi saat aku menghadap kedua orangtuanya. Seraya kusepuh niat untuk mengajaknya pergi ke sebuah tempat baru. Walau harus terjun ke dalam palung yang tak berdasar.

“Aku tidak ingin menjadi bagian cerita buruk tentang cinta itu,” kata dia kepadaku.

“Oke. Tapi apakah kamu tidak mau berusaha menjadi bagian dari cerita manis tentang cinta? Saya yakin, kita diberi anugrah untuk bisa dalam bahasaku memanggul salib ini,” tegasku.

“Apakah kamu kamu optimis?” tanya Putri Cina beragama Budha itu.

“Ya. Justru kitalah orang yang berbahagia karena dianggap layak menyelesaikan tugas ini di dunia. Aku akan menjemputmu!”

Inilah awal mula sebuah cerita. Cerita perjuangan demi sesuatu yang banyak orang sebut sebagai cinta. Sekali lagi demi dan atas nama cinta itu sendiri. Semoga tak ada lagi cinta yang terhalang oleh apa pun di muka bumi ini NANTINYA.

***

Bulan jingga merona saat lagu Hari Merdeka-nya H. Mutahar dan Indonesia Raya berkumandang di mana-mana. Hari kelima kita…

Antara Tangerang sampai Jakarta, 17 Agustus 2008

[1] Dari syair lagunya KLA project berjudul Tentang Kita.

Post a Comment