Pages

Wednesday, March 18, 2009

Manusia Api


Pada sebuah siang bolong. Terisar sebuah kabar ada sejumlah orang muda dengan tubuh dibalut oleh api. Mereka tampak berkobar-kobar hingga panas dirinya memancar-mancar mengalahkan terik musim kemarau katulistiwa.

"Mereka seperti anak-anak matahari," kata seorang Ibu bersaksi. Dari kejauhan, orang-orang hanya bisa melihat sambil menggunakan kaca mata hitam dengan penuh kewaspadaan. Manusia-manusia api itu terus berjalan menuju jalanan protokol ibukota. Ternyata dari arah yang lain juga muncul segerombolan yang lain manusia api. Persis seperti yang pertama, manusia-manusia api itu juga tampak gelisah. Mereka seperti telah membuah sebuah perjanjian untuk turun ke jalan bersama. Semburat merah-jingga manusia-manusia api itu memacetkan jalan raya.

Berbondong-bondong orang ingin melihat seperti apa rupa orang-orang itu. Dari sebuah surat kabar nasional dilansir sebuah berita, "Manusia Api Bergentayangan di Jakarta".

Pemadam kebakaran telah mengerahkan hampir seluruh mobil pemadam kebakarannya untuk memadamkan api pada orang-orang itu. Water canon dari Mabes Polri juga telah berjaga. Mereka dihadang di Jembatan Semanggi.

Jumlah manusia api itu sekitar 20 orang saja. Namun siang itu Jakarta benar-benar kewalahan dengan aksi beberapa orang yang mirip stuntman film-film Hollywood. Mereka muncul dari arah Bundaran HI, Grogol, Blok M dan Kuningan. Mereka sekarang sudah berkumpul bersama tepat di atas jembatan Semanggi. Di depan Polda Metro Jaya, intruksi dipimpin langsung oleh Kapolda. Empat helikopter tampak meraung-raung siap menerkam.

"Satu-dua-tiga," dan letusan senapan api dari pistol Kapolda pun meletus ke udara. Seluruh mobil pemadam kebakaran beraksi. Water canon menembakkan sasarannya tepat ke jantung seluruh manusia-manusia api itu. Pemandangan itu sungguh memukau. Seluruh stasiun televisi menyiarkan langsung jalannya serangan manusia-manusia api itu.

Lewat empat jam sudah api dari tubuh manusia-manusia itu belumlah redup. Malah, ketika senja tiba, semburat dari sinar tubuh mereka indah merona. Dari Tangerang dan Depok, cahaya mereka ibarat lampu sorot raksasa. Mereka menjadi semacam pelita utama Metropoliran. Kepolisian menyerah. Turunlah Angkatan darat, Kopsus, Paskhas, dan Marinir. Semuanya dibuat kewalahan.

Manusia-manusia itu tidak bisa ditembak dan dilumpuhkan oleh senjata apa pun. Akhirnya Presiden sendiri harus turun tangan. Diajaknay kedua puluh orang tersebut berdialog. Maka mulai surutlah api dari dalam tubuh mereka. Samar-samar, mulai tergambar wajah masing-masing dari mereka. Sekitar separuhnya lebih ternyata perempuan.

"Apa sebenarnya yang kalian tuntut?" tanya Presiden. Dan manusia api itu bersama-sama menjawab, "Kami tidak menuntut apa-apa. Kami hanya sudah tidak kuat. Kami kepanasan melihat segala bentuk kebodohan pemimpin negara ini yang masih juga menghamba pada kukuasaan dan modal".

Intinya, mereka sedang membuat sebuah revolusi dalam berbagai aras kehidupan berbangsa. Kedatangan mereka ke Jakarta sebagai sebuah awal dari gerakan masyarakat sipil dalam terus mendorong kehidupan bersama secara lebih baik. Dan dengan waktu yang cukup singkat, gelombang dukungan untuk manusia-manusia api datang dari berbagai penjuru dunia. Mereka umumnya kaum miskin dan korban. Mereka bersatu dalam sebuah gerakan bersama.

***

Tulisan ini adalah sebuah jawaban atas berbagai pertanyaan teman-teman seputar kegiatan baru yang sekarang sedang aku bidani, KOMJak (Kampus Orang Muda Jakarta).
Post a Comment