Pages

Monday, January 10, 2011

Revolusi dari Jalan Raya

Lama aku sudah memperhatikan bahwa di Jakarta akhir-akhir ini, banyak terlihat angkot (angkutan kota) hilir-mudik tanpa penumpang alias kosong. Masalahnya bagiku menjadi sederhana, kredit motor murah dan banyak yang memberikan fasilitas kredit tanpa jaminan. Motor menjadi pilihan warga Jakarta menghidari kemacetan dan mempercepat perjalanan. Angkot pun berangsur-angsur ditinggalkan penumpangnya.  Termasuk aku.

Kemarin, aku sendiri ingin kembali naik angkot dan bus kota. Aku ingin menjumpai pengamen-pengamen terminal, ingin membaui keringat penumpang, mengamati para pedagang asongan lengkap dengan khas cara mereka menawarkan barang dagangannya. 

Bus kota ekonomi kunaiki. Aku duduk di bangku paling depan di dekat pintu masuk. Sebuah buku yang kubawa kucoba buka. Di sampingku, terdapat seorang laki-laki usia empat puluh tahunan. Dia membelli sebuah jeruk seharga seribu rupiah. Ketika dia menguliti jeruk itu, dia menawariku jeruk itu. Aku hanya menggeleng dan tersenyum. Kuputuskan untuk melanjutkan lagi membaca buku. 


Menaiki bus kota itu tidak sekadar mengantarkan aku ke sebuah kota di mana gadis batas senja berada, namun lebih dari itu bus kota itu telah mengajak aku berjalan-jalan kembali ke laluku. Buku yang kubaca menjadi semacam kertas kosong yang tak jelas susunan hurufnya. Anganku mulai berlari, menyusuri ruang-ruang nostalgia. Aku masih ingat persis perjalanan seperti ini dulu kulakukan hampir setiap hari. 

Tujuh tahunan yang lalu, perjalanan ini biasa-biasa saja. Bagiku dulu, bus kota adalah tempat pertaruhan peruntungan. Jika nasib baik bisa dapat tempat duduk atau tidak kena macet, jika sedang sial, terbaliklah semuanya. Dan tujuh tahun itu hampir mengubah segalanya. Kini, seolah saja 'nasib' para penumpang bus relatif sama. Mereka tiap hari harus menjalani laku tapa di jalan raya. Ada semacam kesialan tanpa henti. Jalanan macet tidak sekadar pagi atau sore hari saat orang sibuk berangkat atau pulang kerja. Pilihan keluar dari persoalan ini pun tidak diselesaikan secara bersama-sama oleh sesama warga penumpang bus. Meski tiap hari mereka -mungkin- bertemu di jalan, namun pertemuan itu tidaklah disertai dengan sapaan, rasa ingin mengenal dan lebih jauh lagi, ingin bekerja bersama. Sisi egois setiap penumpang dan mencurigai penumpang lain terkesan lebih mendominasi. 


Ketika masalah kemacetan itu menjadi semakin akut dan menimpa mereka bak persoalan banjir ibukota, mereka menunjukkan siapa dirinya dan keluarlah sifat aslinya. Memilih mencari jalan selamat bagi dirinya sendiri. Kolektivitas ditinggalkan. Rasa kebersamaan sebagai sesama penumpang membumbung bagai asap hitam dari lubang kenalpot bus kota. Jika memiliki uang lebih, mereka akan mencari kredit mobil, dan atau motor. Celakanya, jalan keluar ini adalah menjadi satu-satunya jalan yang diyakini bisa menyelamatkan persoalan transportasi masing-masing orang. 

Jika saja ada komunikasi dan forum antarpenumpang, bisa saja persoalan kemacetan di Jakarta bisa bersama-sama digugat. Solusi mencari moda angkutan massal bisa terus diserukan. Proyek monorail yang teronggok bisa kembali menjadi pusat perhatian. Dan kritik atas tarif toll yang terus meningkat bisa dilemparkan kepada perusahaan pengelola jasa jalan toll. Jalan bebas hambatan yang seharusnya menjadi solusi dari persoalan kemacetan, menjadi persoalan tambahan ketika jalan itu meningkatkan tarifnya dan tak ada bedanya dari jalan raya biasa. 


Jika ada forum antarpenumpang, pengguna jalan raya, bisa-bisa akan muncul satu demonstrasi massal untuk persoalan ini. Namun bisa saja bagi orang-orang yang sudah jengkel karena kesialan tanpa henti di jalan raya ia temui, apresiasi kemarahannya bisa bermacam-macam. Bisa jadi, gerbang-gerbang pintu toll akan dirusak atau bahkan dibakar massa. 

Rasanya, jika para penumpang atau pengguna jalan memiliki sedikit saja komunikasi antarsesama pengguna jalan, bisa-bisa revolusi untuk perbaikan Indonesia dimulai dari jalan raya. 

Aneh memang, sampai saat ini, tiada satu orang atau lembaga yang menggugat institusi pengelola jalan tol. Mekanisme hukum seperti class action sebenarnya pun bisa ditempuh. Mengapa hal ini tidak bisa dilakukan? Padahal, berapa ribu sarjana hukum tinggal di Jakarta? Berapa ribu aktivis sosial? Berapa juta pengguna jalan? Dan berapa triliun keuntungan yang telah masuk kantong para pengelola jalan toll? 

Anganku harus berhenti sampai di sini. Tempat yang kutuju sudah menyapa. Hanya dia yang tampak sama, baik rupa maupun sapa ramah orang-orangnya.   
Post a Comment