Pages

Saturday, February 18, 2012

Toto Chan: Anak Adalah Subjek Pendidikan


Totto Chan adalah kisah Tetsuko Kuroyanagi yang menceritakan kembali pengalamannya masa kecilnya ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Totto Chan (baca: Totto Cang) adalah sebutannya sewaktu masa kanak-kanak. Seperti lazimnya kanak-kanak di Jepang, Tetsuko mendapat tambahan kata Chan di belakang nama panggilannya. Selain sebagai tokoh utama, Totto Chan sekaligus menjadi judul dari karya Kuroyanagi.

Buku Totto Chan merupakan biografi sederhana yang mengambil setting di Jepang pada masa sekitar Perang Dunia II. Pengalaman kekaguman pada sosok kepala sekolah Sosaku Kobayashi (1893-1963), yang tidak bisa dilepaskan dari Tomoe Gakuen (Sekolah Dasar) yang didirikannya, serta lingkungan sekitarnya adalah cerita-cerita di dalam buku tersebut.
Pengalaman kekaguman yang bukan tanpa alasan. Kekaguman pada konsep mendidik yang bisa dikatakan berbeda dari seorang Mr. Kobayashi. Pendidikan yang mengajarkan siswa-siswi Tomoe Gakuen, mulai sejak dini untuk menjadi subjek dari pendidikan. Totto Chan dan teman-temannya mulai dilatih untuk menentukan sendiri mata pelajaran yang akan ia pelajari, menu makan siang, berpidato di depan teman-teman sekolahnya, serta berbagai aktivitas lain, tanpa harus mengabaikan perintah yang ditetapkan oleh sekolah. Lebih dari itu, kisah Totto Chan mampu memberikan inspirasi yang mampu memutarbalikkan cara pandang banyak orang terhadap suatu hal, yaitu bagaimana menilai dan mendidik seorang anak.
Tetsuko dalam bertutur, mengambil satu persatu kejadian menarik yang dialami Totto Chan sewaktu masih di Tomoe Gakuen. Setiap kisah dieksplorasi secara lebih mendalam walaupun dikemas dalam sebuah cerita sederhana. Dan dengan alur runtut, sehingga menarik pembaca untuk mengikuti dinamika seorang Totto Chan.
Cerita dibumbui dengan penggambaran situasi, watak, percakapan singkat, serta pergulatan batin Totto Chan dan orang-orang di sekitarnya dalam menghadapi suatu masalah. Selain itu, setiap cerita memiliki keunikan tersendiri dalam menyampaikan pesan moral maupun nilai-nilai kehidupan.
Totto Chan telah mengangkat suatu fenomena riil dan universal dalam masyarakat, khususnya dunia pendidikan. Fenomena yang menggambarkan hubungan anak dan orang tua, siswa dan guru, hubungan antarsiswa, hubungan guru dan orang tua siswa, hubungan mereka dengan orang lain, serta hubungan mereka dengan alam sekitarnya.
Oleh karena itu, walaupun kisah Totto Chan diangkat dari negri Matahari Terbit dan kisah tersebut berlangsung sekitar tahun 1940-an, kisah ini masih “hidup” sampai saat ini. Karena, masalah-masalah tersebut sebenarnya tidak hanya terjadi di Jepang saja. Permasalahan mengenai bagaimana anak-anak menginginkan sesuatu, bagimana orang tua mengerti keinginan anak, bagimana penilaian guru terhadap seorang anak didik, dan sebagainya, merupakan pengalaman umum yang ada di setiap tempat.
Membaca Totto Chan pikiran kita langsung bercermin kepada situasi pendidikan dasar di negara kita. Penulis dengan latar belakang emosi kebanggaannya pada sekolahnya, mampu menghadirkan Totto Chan polos hidup kembali di tengah-tengah kita. Totto Chan kecil secara tidak langsung mampu menggiring mata hati kita untuk bersama-sama berefleksi, dalam melihat kembali substansi pendidikan anak.
Tetsuko dalam menuliskan pengalamannya mengambil jarak dari Totto Chan. Sehingga meskipun merupakan sebuah “diary” pribadinya, kisah ini tetap enak untuk dibaca, karena tidak dalam satu sudut pandang orang tertentu saja.
Kisah ini akan selalu aktual selama dunia pendidikan masih ada.


oooOOOooo

Jakarta, pada Hari Sumpah Pemuda 2004

Post a Comment