Pages

Thursday, March 1, 2007

The Last Man Standing


Kisah ini bukan kisah kepahlawanan Bruce Willis dalam film "The Last Man Standing". Ini juga bukan kisah Mbah Marijan, juru kunci Gunung Merapi. Ini kisah seorang petani lancang dan buruh ternak sapi, Wito Kadir (50). Ia adalah orang terakhir yang tetap memutuskan tinggal di daerahnya, ketika tsunami mengoyak-oyak seluruh kampungnya.

Ketika semua orang hendak menyelamatkan diri, ia malah memutuskan untuk tetap menunggu dan menjaga kampungnya. Ia bukan tokoh fiktif seperti Bruce Willis dan juga bukan juru kunci yang punya tugas khusus dari kerton Jogja untuk menjaga Merapi seperti Mbah Marijan. Ia hanya orang biasa yang sangat sederhana.

Hampir setiap hari, sebagian masyarakat Glempang Pasir, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, turun ke laut mengambil lancang (makanan itik, bentuknya semacam kerang kecil). Lancang baik untuk itik karena bisa menggantikan fur. Harga jualnya per kilo gram Rp 500. Kalau sedang panen, satu orang bisa mendapat sampai satu kwintal.

Tergiur dengan tambahan penghasilan, Wito mencoba profesi baru, mencari lancang. Senin (17/7) adalah hari ketiga ia turun ke laut. Ia bangun pukul 4 pagi, dan langsung bergegas ke laut mencari lancang. Siang hari ia jemur lancang hasil temuannya di hamparan pasir pinggir pantai. Menjelang senja, lancang siap diayak untuk kemudian dipanen.

Wito dilahirkan di pesisir pantai. Namun, sore itu ia melihat pemandangan laut yang belum pernah ia lihat sepanjang hidupnya. Ia teriakkan kepada teman-temannya yang sama-sama sedang mencari lancang, "Tsunami, tsunami..," serunya.

Kata tsunami itu sendiri ditemukan Wito dalam sebuah siaran berita ketika terjadi bencana tsunami di Aceh.

Namun, teman-temannya menganggap remeh peringatan Wito. Karena, Wito masih dianggap "amatir" di laut menurut mereka. Mereka menganggap hanya badai angin seperti biasa.
Wito sempat terkejut karena pada saat itu juga, ia melihat istrinya Yati (50) datang membantunya. "Ini pertama kali," kata Wito. Istrinya, sebelumnya belum pernah membantunya mencari lancang di laut.

Tak lama kemudian, tsunami yang pernah Wito tahu dalam siaran berita televisi menjadi kenyataan.

Semua orang berlari, berenang, memanjat, mengungsi ke tempat yang lebih tinggi untuk satu tujuan, menyelamatkan diri. Gulungan ombak yang tingginya melebihi tinggi rumah warga menerjang seluruh bibir pantai.

Saat itu, Wito justru tidak meninggalkan laut. Ia hadapi saja gelombang itu. Tangan kanannya menggandeng istrinya, tangan kirinya mengandeng tetangganya perempuan. Terhempas mereka bertiga.

"Tapi, saya masih sadar betul waktu itu," kenang Wito. Ke mana ombak membawa, Wito tetap menggendong kedua perempuan itu. Dua ombak besar mereka arungi. Ketika ombak ketiga datang, gandengan tangan kanannya terlepas. Istrinya hilang.

Tidak berdiam diri, ia selamatkan siapa saja yang masih mengapung dan berteriak-teriak meminta bantuan. Ia turun lagi ke laut. Ia selamatkan seorang bocah umur lima tahun yang seluruh tubuhnya sudah tertutup rerumputan. Ia bawa bocah itu ke bukit yang tidak jauhdari tempat itu. Ternyata bocah itu tak lain adalah keponakannya sendiri.

"Ada orang di samping bukit, sudah tidak bisa jalan, sudah tidak bisa apa-apa, langsung saya angkat. Ada yang satu lagi orang yang kepalanya kelihatan, tapi bawahnya tertutup rumput. Saya kejar terus. Sampai sekitar 500 meter. Ombak membalik. Ia sudah telanjang, namun ia bisa selamat," cerita bapak 4 anak ini.

"Dalam hati, sampai kapan pun selagi istri saya belum kembali saya tidak akan kembali," lanjut Wito dengan mata menerawang langit-langit rumahnya. Sampai pukul 19.00 WIB ia terus mencari istrinya. Istirahat 15 menit, ia nyalakan gantang, ia kembali ke laut seorangdiri.
Selasa pagi (18/7), Wito tak bisa mengelak kenyataan, istrinya ditemukan satu kilometer dari rumahnya. "Saya sudah menduga, tapi saya tidak bisa berkata apa-apa," kata Wito.

Wito seorang yang pendiam. Ia dikenal tetangga-tetangganya ringan tangan. Ia kerjakan apasaja. Menjadi buruh harian, kerja bangunan, dan apa pun. Keberanian Wito selaras juga dengan profesi sampingannya sebagai guru pencak silat di kampungnya. Mentalnya juga terasah ketika melanglang buana ke Medan, Tenam II Pasar Minggu Riau, Johor Malaysia, sewaktu ia muda.

Ke depan, Wito mengaku tidak akan mengungsi. Ia tidak takut mati. Namun, ia juga tak takut untuk hidup. Ia mengaku tidak takut hidup karena ia berani menghadapi semua tantangan. Hidup dan mati ia serahkan semuanya kepada Tuhan. Berani hidup menurutnya adalah berani mengalami kesulitan hidup. Namun, ia percaya dalam hidup juga menyisakkan harapan.
Post a Comment