Pages

Friday, March 2, 2007

Nenekku Lumpuh


Dering telepon itu tiba-tiba memecahkan suasana hening yang sedang menyelimuti hati dan jiwaku. Bukan lantaran suaranya yang memekakan telinga. Atau juga lamun yang sedang bermain-main dengan sukma. Tak lain, karena, dering itu mengalirkan sebuah nada-nada penuh pertanda.


Benar perasaanku. Nomor telepon yang terlihat dalam layar handphone ku menunjukkan kode daerah asalku 0287.... Ada apa? Selalu pertanyaan itu yang langsung mengisi seluruh ruang dalam pikirku.


Aku sempat terbisu dalam haru ketika sebuah kabar yang kuterima lewat suara salah seorang saudaraku di kampung menegaskan; "Nenekmu sekarang terbaring di kamarnya. Ia sudah tidak bisa lagi berjalan. Aku tidak tahu pasti apa penyebabnya, yang jelas ia sekarang sakit"


Nenekku lumpuh! Entah ia bisa sembuh atau tidak. Darah tinggi menyerang perempuan yang melahirkan Ibuku di tengah kesibukkannya mengurus sawahnya.


Ia seorang janda yang ditinggal suaminya sekitar 17 tahun yang lalu. Selama 17 tahun pula ia sungguh cepat terlihat tua. Namun, ia tidak pernah berpangku tangan menunggu rezeki tiba dari langit. Selama hidupnya, yang ia bisa lakukan hanya bercocok tanam. Tanah diolahnya. Biji-bijian, umbi-umbian, buah-buahan, daun-daunan, kayu-kayuan hasilnya.


Kulitnya hitam kusam mirip dengan warna tanah yang setiap hari ia pelihara. Terik matahari, derasnya hujan, kencangnya badai, gelegar petir adalah teman sejatinya ketika ia sedang turun ke sawah. Ia hanya memiliki sejengkal tanah berukuran 40 ubin (1 ubin sama dengan 13 meter persegi). Ladangnya di tepi sungai yang tak jauh dari sawah itu juga tak berbeda jauh luasnya. Semua itu, peninggalan suaminya yang sampai akhir hayatnya mempertahankan tanah-tanah itu untuk tidak dijual. Padahal, jelas, ketika suami nenekku sakit paru-paru menjelang akhir ajalnya, ia sungguh membutuhkan dana untuk biaya berobat dan rumah sakit. Namun, ia justru berpesan kepada anak-anaknya untuk jangan sekali-kali menjual tanah miliknya barang sejengkal pun! Akhirnya, nyawanya dijemput oleh penyakit yang menyerang paru-parunya. Waktu itu, Jumat Kliwon, 13 Maret 1990.


Kembali ke nenekku yang sedang terbaring di kamarnya... Masih lekat betul dalam ingatanku bagimana garis mukanya sungguh tegas. Dari sana aku dapat membaca bagaimana perjuangan hidupnya yang ia lalui penuh dengan derita. Jarang sekali senyum atau tawa dibagikan kepada lawan bicaranya. Ia lebih sering menekuk muka dan diam. Aku sendiri pun, tidak tahu apa arti raut dan air mukanya.


Aku juga mendengar kabar, saat ini ia lebih cerewet dari biasanya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya menjadi lebih keras dan mengarah ke kasar. Apa mungkin, ia sudah mulai kehilangan kesadaran dirinya?


Saat ini aku hanya bisa merangkai rasa simpatiku kepada ibu dari ibuku yang sekarang sedang terbaring di kamarnya dengan kata-kata. Biarlah ini menjadi satu bentuk rasa cinta cucumu yang belum bisa pulang karena alasan pekerjaan dan keuangan. Aku percaya ini juga sebagai bentuk dari doa.

Post a Comment