Pages

Thursday, April 19, 2007

malam tolak hukuman mati


Malam itu aku berjalan diikuti oleh sekitar seratus orang. Dengan dua lilin kugenggam di dua tanganku, aku berjalan perlahan-lahan sambil kupanjatkan doa. Sunyi.


Berbaris berdua-dua dan berbanjar, kami menelusuri jalur busway yang lengang. Jakarta hampir tengah malam, masih menunjukkan keangkuhannya sebagai metropolitan. Kanan-kiri kulihat gemerlap lampu-lampu kota menggoda kekusyukan doaku. Aku yakin, saudara-saudara yang mengikutiku juga merasakan hal yang sama. Lalu-lalang mobil memperhatikan aksi yang kupimpin.


Bak tontonan baru, aku dan saudara-saudaraku dipandang sebelah mata. "Tontonan macam apa ini? Apa yang menarik? Bisu!" kemudian mereka memalingkan muka dan kembali pada aktivitasnya; menyetir mobil, makan di resto cepat saji, kembali ke kamar hotel, menyelesaikan kerjaan kantor, berjaga-jaga gedung, dan meneruskan melobi klien.


Satu kali kulihat polisi bermata garang menatapku. Seolah-olah ia hendak meneror aku. Dalam hatiku berkata, "Apa salahku? Satu yang patut kau tahu; aku tidak takut!".

Satu-dua-tiga gedung kulalui. Sampai aku dan rombonganku pada perempatan. "Maafkan kami, mengganggu sedikit perjalanan Anda. Mungkin kalau aku di perempatan itu aku juga akan mengumpat..." bisikku dalam hati. Aku kembali melanjutkan doaku. Lilin tertiup angin lalu-lalang mobil di perempatan.

Kukayuh kaki ini yang sedikit demi sedikit mulai terasa pegal. Aku yakin, saudara-saudaraku juga merasakan hal yang sama. Letih.... tapi kami tetap diam membisu.

Sorot lampu kamera menerpa muka, leher, badan dan kaki kami... mereka berlomba-lomba mengambil angle terbaik untuk siaran beritanya. Kami menjadi objek berita. Mereka menginginkan kami buka mulut untuk menjelaskan apa yang sedang kami lakukan. Kami memahami hal itu, tapi kami ingin menyelesaikan aksi kami. JALAN BISU.

Tibalah kami di Bundaran Hotel Indonesia. Spanduk kami bentang. Di sana, kami sedikit berorasi.
"Kematian Tibo, Riwu dan da Silva tidaklah sia-sia. Karena dengan kematian mereka, kita kobarkan semangat penghapusan hukuman mati di negara yang berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa, dan Kemanusiaan yang adil dan beradab," seru salah seorang orator. Dia seorang aktivis perempuan.
"Kematian mereka berarti memutus mata rantai pengungkapan dalang kerusuhan Poso yang sesungguhnya!" tambah orator lain. "Kami memohon maaf kepada masyarakat karena tidak dapat berbuat banyak..." timpal yang lain.
"Kami mewakili masyarakat Poso di Jakarta inginmengatakan bahwa kami tidak dendam sedikitpun!" dan seorang yang lain juga menambahkan, "Saya sudah lama sekali tidak merasa bersedih sesedih malam ini..."
Air mataku tertetes. Jantungku berdegup lebih kencang. Kakiku melemas. Kata-kata pun meluncur dari mulutku... "Tolak Hukuman Mati"
Post a Comment