Pages

Monday, April 2, 2007

Surat Buat Christa


Seandainya kita pernah satu kelas pada masa-masa SMA, atau pernah ambil satu mata kuliah bareng, pastinya aku akan mengajukan diri untuk memilih menjadi 'teman sebangkumu'.


Bukan untuk memilih-milih teman atau mebeda-bedakan satu dan yang lain, yang jelas banyak unsur ketidakadilannya di sana. Tapi, aku adalah seorang penganut paham: HIDUP ADALAH PILIHAN.


Aku rasa, pengandaian di atas belumlah terlambat. Akhirnya, kita pun dipertemukan dalam satu forum...


Aku tidak tahu apakah ini sebuah kebetulan semata atau misteri. Bukan untuk terlalu membesar-besarkan makna pertemuan kita. Atau aku terlalu melankolis akhir-akhir ini. Tapi aku yakin, dalam setiap perjumpaan ada persentuhan (baca: PERSEN TUHAN). Bagiku, setiap perjumpaan adalah BERKAT-


Aku pengen tahu kamu lebih banyak. Itu saja intinya... Ketika aku menyadari, kalau kamu juga adalah 'hadiah' dari-NYA. Sepertinya ada yang salah saja jika aku tidak mau tahu atau membiarkan berkat perjumpaan antara kamu dan aku.....


Dari sedikit pemahamanku menyambut kamu, mungkin kamu bisa langsung menunjuk ada sesuatu yang kotradiktif. Satu soal berkat (bisa juga dimaknai sebagai misteri), dan yang lain soal pilihan.


Misteri bisa jadi dimaknai sebagai sesuatu yang tidak pernah bisa kita pahamai, dan di sisi lain, pilihan secara sederhana bisa dimaknai sebagai bentuk ungkapan sikap atas sebuah kesadaran utuh. Dua hal yang menurutku bertentangan. Satu ada unsur kebetulan dan ketdiaksengajaan dan yang lain merupakan kesengajaan....


Dalam dua tarik-menarik antara misteri dan pilihan, aku tulis email ini...


Christa, dunia bagiku memang tampil paradoks. Satu sisi dia sangatlah luas, tapi di sisi lain sempit. Seperti paradoks globalisasi. Globalisasi di satu sisi mengumpulkan orang-orang dari seluruh penjuru dunia dalam kampung, tapi di sisi lain globalisasi sungguh memisahkan, antara yang 'miskin' (penjual krupuk yang kita temui beberapa kali, waktu aku nebeng pulang itu...) dengan pengusaha potato, taro, dan sebagainya. Pada akhirnya yang 'miskin' (aku sebut miskin karena dia tidak bisa masuk dalam global village itu, entah karena tidak satu bahasa dengan para warganya,atau karena hal lain. Walaupun mereka sama-sama manusia), akan tergilas globlisasi dengan gerbong neoliberalisme-nya.

Bagiku, kamu juga bagian dari tampilan dunia yang paradoks itu. Kamu ternyata adik ipar temenku, HELEN.

Christa, selain paradoks, dunia bagiku juga tampil berwarna-warni. Tapi, seringkali aku tidak bisa mengenali warna-warna di duniaku sendiri. Kerap aku ibarat seorang buta warna. Karena, banyak sekali tampilan abu-abu (campuran hitam-putih) di depan mataku.

Di sanalah Christa, aku menginginkan kamu menjadi teman sebangkuku. Tidak sekadar menemaniku di saat aku senang dan susah. Tapi lebih dari itu, aku ingin kamu menjelaskan banyak warna-warni dunia dari sudut kelopak indah matamu....

Sekali lagi Christa, aku ingin mengetahuimu lebih banyak. Bukan untuk sekadar urusan pribadi, apalagi investigasi... Tapi, untuk urusan dunia ini. Dunia yang paradoks, warna-warni, abu-abu dan misteri. Di sana aku memilih kamu untuk membantuku (bersama dengan teman-teman lain tentu saja) melihat dan merasakan senja, fajar, terang, gelap, panas dan sejuknya dunia. Aku yakin, kamulah orangnya yang aku cari selama ini. Kenapa? Entah. Karena, aku sudah tidak tahu lagi hitam dan putih. Mengertikah kamu?

Ah Christa, mungkin ini terlalu berlebih. Jangan terlalu serius...Aku hanya ingin menulis dalam temaram senja Metropolitan, sembari membayangkanmu...
Post a Comment