Pages

Wednesday, August 22, 2007

DILEMA

Satu minggu ini, aku lebih melankolis dari biasanya. Ada perasaan berat di antara sum-sum tulang-tulang tubuhku. Lemas. Mataku sayu. Perut sering kubiarkan kosong. Wajahku semakin kumal. Senyum menjadi barang langka.

Perasaanku sedang merajai raga ini. Tak kuasa aku bisa menahannya. Seketika dia membawaku dalam romantisme bahagia, dan sekietika pula dia membawaku dalam suasana sedih nesatapa. Air matapun menitik. Itu pun kubiarkan. Kehangatannya menyapa kulit mukaku.

Dilema. Begitulah judulnya. Semuanya menjadi gamang. Semuanya ragu. Mataku ke mana, hatiku di mana. Ragaku ada, jiwaku tiada. Nafasku nyata, tapi tidak dengan rasaku. Seorang berkata, lupakan saja, dan yang lain ngomong sebaliknya. Aku sendiri, diam. Kosong.

Aku tahu masalahnya. Tapi tak kuasa aku menyelesaikannya. Nalar ini sangat anti terhadap kata 'nasib' namun hati saat ini ingin mengatakan, baiarkan saja mengalir. Aku lunglai. Tak punya pegangan.

Masalahnya adalah masalah cinta. Masalah rasa. Maka biarlah rasa itu sendiri yang menyelesaikan urusannya. Karena, tubuhku adalah ruang bebas bagi setiap anggotanya. Dan perasaanku, sekarang sedang menjadi lakon.

Dalam dilema, aku masih sempat berharap. Aku hanya berharap, penyelesiannya tidak lama lagi. Karena, aku sudah merindukan sinar mentari semangatku.

Sudahlah. Hidup hanya sekali, take it easy.... Wi!!!
Post a Comment