Pages

Wednesday, December 12, 2007

Sunset

Sunset, Sand dan Sex. Itulah kata yang meluncur dari bibir seorang kawan ketika kutanyai tentang sebuah negeri di mana para dewa-dewi berkumpul. Bali...

Di tengah-tengah kesibukan meliput konferensi dunia untuk perubahan iklim, kusempatkan diriku menikmati Pulau Dewata dengan seluruh eksotismenya.

Sunset adalah sebuah peristiwa sehari-hari biasa yang dikemas apik dan bisa menjadi sebuah komoditi bernilai ekonomi. Peristiwa terbenamnya matari ketika bumi berotasi pada porosnya dan menempatkan sang surya pada titik awal peraduannya, memendarkan sinar kuning, jingga dan merah yang terpantul pada punggung-punggung air. Sinar-sinar itu tampak lari dan terkadang tunggang-langgang beradu cepat dengan gulungan ombak. Kuta adalah tempat menjajakan sunset lengkap pasir putih, angin laut, kicau camar, atraksi para surfer, pemijit tradisional, beraneka minuman dan gadis-gadis pantainya.

Kutenggak arak Bali yang kudapat dari sopir mobil rentalku dengan menggantinya dengan pecahan Rp 10.000,- Panasnya langsung membakar kerongkongan, persis seperti siang tadi, di mana kulitku langsung terpanggang. Aku pun, ikut-ikutan menikmati sunset itu. Tak lama kemudian, aku langsung hanyut dalam alur cerita Sepotong Senja Untuk Pacarku-nya Seno Gumira Ajidharma. Sama seperti Sukab, aku juga ingin memberikan kado terbaik untuk perempuan yang paling kucintai di dunia.

Dalam cerita itu, Sukab memberi potongan senja lengkap dengan debur ombak, semburat sinar jingga, kuning dan ungu yang dikerat dan dimasukan dalam amplop. Sukab ingin Alina (calon pacarnya) melihat dan merasakan apa yang dia anggap sebagai sebuah bentuk kesempurnaan. Untuk itu Sukab harus menanggung resiko terjebak dalam urusan-urusan pelik dunia. Dia dikejar-kejar semua orang yang sedang melihat sunset karena sunsetnya bolong sebesar kartu pos, berusrusan dengan polisi dan terjebak dalam lorong-lorong senja itu sendiri.

Untuk Alinaku, tidak mungkin lagi aku memberikan potongan senja. Tak tega pula aku melihatnya menjadi bolong-bolong. Bisa jadi, jika hal itu kulakukan sama seperti Sukab, Kuta menjadi sepi pengunjung. Dan sunset bukan menjadi sesuatu yang punya nilai ekonomi tinggi. Bisa jadi, sunset Kuta banyak dijajajakan di pasar-pasar pagi. "Sunset Kuta-sunset Kuta, murah koq bang, cuma seribu tiga," nyanyi seoraang penajaja sunset.

Terus apa yang akan kuberikan pada Alinaku sayang? Apakah hanya sepotong cinta lengkap dengan segala bujuk-rayuku? Hmmm, cintaku sendiri itu sudah terkoyak-koyak dan terpotong-potong seperti layaknya kain perca. Bagaimana mungkin yah aku berikan itu untuk Alinaku... Ah, apa bedanya aku dengan si penjaja sunset itu di pasar pagi nantinya. Hanya yang kutawarkan cuma sepotong cinta.

"Mbel, gombal..." cemooh seorang gadis berambut pirang kepadaku. "Mana cukup Mas, bermodal cinta zaman sekarang?" ejek temannya yang lain. "Emang nantinya anakmu mau dikasih makan cinta apa? Cinta-cinta.. Pergi sana dengan cintamu itu. Sontoloyo kamu!" timpal si kaki jenjang. Hihihi..

Tapi tak apalah, akan kujait lagi potongan-potongan cintaku. Menjadi semacam mozaik. Mozaik cinta, hehehehe.... Siapa tahu menjadi barang antik. Dan mungkin justru malah menjadi mahal harganya. Walau tambal-menambal, setidaknya bahannya asli semua. Dan bukankah selera setiap orang berbeda-beda? Siapa tahu, Alina adalah jenis perempuan yang berbeda itu. Semoga!

_________________________________
Tulisan ini untuk 'Alina'. Yang kepadanya tidak hanya potongan senja yang akan kuhadiahkan, tapi cungkilan mataku lengkap dengan pemandangan-pemadangan di seluruh penjuru dunia rela aku berikan buat kado ulang tahunnya!
Post a Comment