Pages

Sunday, December 23, 2007

MELEBUR DIKOTOMI

Garis itu memang tidak ada. Namun guratan tajamnya mampu merobek-robek dan meluluhlantakkan dunia. Bangsa terpecah-pecah. Masyarakat terbelah. Keluarga terpisah. Individu pun tak menjadi seorang lagi. Dia tidak lagi satu. Bisa jadi dua, tiga, empat dan seterusnya.

Konstruksi-konstruksi sosial adalah garis-garis itu. Tidak kelihatan namun dapat dirasakan. Lewat pelabelan sepihak serta disulut propaganda besar-besaran, tatanan sosial berubah. Pelabelan siapa itu teroris misalnya. Mampu membuat warga dunia menjadi saling curiga. Demi kepentingan tertentu, 'pemilik kekuasaan dunia' melakukan serangkaian kampanye melawan terorisme. Dari sana, mereka justru menjadi biang keladi terbunuhnya anak-anak, perempuan dan orang-orang tak berdosa di Afghanistan, Libanon, Iraq, dan bisa jadi sebentar lagi di Iran. Dan mereka dengan sendirinya sudah menjadi monster pembunuh yang kejahatannya jauh melebihi teroris yang sedang diburunya.

Di belahan dunia yang lain, setiap pusat-pusat keramaian dijaga ketat. Keamanan menjadi barang mahal. Nilai-nilai saling mencurigai tersebar dengan sendirinya. Mereka melihat sesamanya bukan dari apa yang diperbuatnya, melainkan dari melihat siapa dia. Ada label yang terlanjur sudah melekat disetiap benak warga dunia melihat sesamanya. Ini merupakan sebuah bom waktu.

Berangkat dari sana, Alejandro Iglesias Rossi (47), ingin meleburkan dikotomi-dikotomi yang mengiris-iris dunia. Pesan itu dibawa melalui perpaduan apik musik tradisional dan moderen, dikemas dalam sebuah pagelaran orkestra bertajuk "Orqusta de Instrumentos Autoctonos y Nuevas Technologias".

Konduktor asal Argentina itu mampu membius penonton. Dalam babak awal pagelaran, penonton langsung dibawa ke dalam suasana mistis tepian sungai Amazon. "Ritual " ciptaan Susana Ferreres menampilkan tradisi kuno Suku Andean yang mengadakan upacara sakral guna menjaga kelestaraian alam. Di mana, kehadiran halilintar diyakni sebagai tanda bahwa alam murka. Ritual itu pun digelar. Karya ini telah menyabet penghargaan "The First Prize at the Rostrum of America Latin and Caribean Music" dari Music Council of the Three Americas (Paraguay 2002).

Puncak pertunjukkan adalah ketika maracas (sejenis buah mangga yang tumbuh di Amazon yang dikeringkan menjadi sebuah alat musik yang mengeluarkan bunyi-bunyian dari biji yang ada di dalamnya dan sejenis manik-manik yang mengikatnya) dimainkan. Maracas, dimainkan dalam karya berjudul "Temazcal" sebuah istilah yang juga berarti membakar air atau memanskan batu-batuan. Sebuah tradisi dari Nahuatatl (Aztec kuno). Sensasi maracas melebur bersama bunyi-bunyian hasil rekayasa komputer moderen.

“Saat ini seolah-olah hidup ini terpisah-pisah. Yang tradisional seolah-olah tidak mengenal yang modern. Dan sebaliknya. Padahal, kita sering sekali mengikuti tradisi, tak lama kemudian kita menggunakan internet,” kata Alejandro sebelum penampilan pertamanya di Indonesia yang digelar di Teater Luwes Taman Ismail Marzuki Jakarta, Selasa (13/11).

Lewat karya ini, lanjut Alejandro, saya ingin meleburkan dikotomi-dikotomi itu. Implikasi dari dikotomi-dikotomi itu menurutnya sangat berbahaya. Alejandro menjelaskan, globalisasi telah meminggirkan yang tradisonal. Dan selama ini pembangunan hampir di seluruh belahan dunia hanya menumpukan pada satu sisi, yakni pertumbuhan ekonomi.

“Akibatnya alam kita menjadi rusak. Anda mendengar sekarang ada isu global heating,” papar Alejandro. Untuk itu, Alejandro ingin memantang dunia untuk tidak meninggalkan tradisinya masing-masing.

Nilai-nilai tradisional di seluruh dunia menurut pria berambut putih itu sangat baik. Dia menawarkan apa yang selalu disebut sebagai konservasi. Tidak seperti nilai-nilai globalisasi yang penuh muatan eksploitasi.

Alejandro telah menggelar konser ini di seluruh Amerika Latin, beberapa negara di Eropa seperti di Spanyol, Prancis, Jerman, Lithuania, Estonia, dan setelah ini dia ingin melanjutkan kampanye meleburkan dikotomi ke Singapura, China dan masih banyak lagi. ***

Post a Comment