Pages

Friday, March 7, 2008

Misteri Kota

(Bagian II. Sambungan dari Cinta Sejati....)

Musim menjadi tidak begitu jelas. Sesaat terik dan tak lama kemudian petir menyambar-nyambar, hujan pun menyusul. Ketidakjelasan musim diartikan Ega yang sedang melamun di sisi kolam renang sebagai tanda ketidakjelasan sikap Alia, dan lebih dari itu, ketidakjelasan kelanjutan hubungan mereka.

Ega terus mencari tahu mengapa Alia begitu berubah. Diingat-ingatnya saat terakhir mereka bersama dan saat terakhir Alia bercerita. Ega tak menemukan satu pun kejanggalan dari cerita-cerita terakhir Alia kepadanya. Karena, terakhir mereka bertemu, mereka jalan ke restoran favorit mereka sekadar menikmati sushi dan membahas rencana studi Alia semester depan, novel terbarunya Paulo Coelho, dan persiapan Alia ke luar kota.

Sesaat Ega terdiam. Soal rencana studi dan novel tidak mungkin membuat perubahan dalam diri Alia. Namun, soal pergi ke luar kota, Ega lupa menanyakan secara detail. Dia hanya tahu, Alia ingin menghabiskan liburannya, kemudian mengunjungi saudaranya. Ega waktu itu hanya memikirkan bagaimana dia di kota itu. Mau menginap dimana dan mau naik apa ke sananya?

Ega menjadi semakin menyalahkan dirinya sendiri. Mengapa dia tidak menanyakan lebih lengkap tujuan lain dari sekadar berlibur. Karena, Alia berulang kali menyebut kota itu adalah kota impiannya. Alia pun pernah berkata, suatu saat dia ingin mepunyai rumah di sana. Dia mengaku kerasan dengan kota itu lantaran sangat kondusif untuk belajar.

Ega melihat kembali buku hariannya. Di sana dia mulai menemukan kepingan-kepingan jawaban dari kebingungannya. Dan dalam tiga bulan ini, Alia sudah berkunjung ke kota itu 3 kali. Rasanya, alasan Alia sekadar berkunjung ke rumah saudaranya dan berlibur hanya alasan yang dibuat-buat. Sejak saat itu, Ega mulai memendam rasa curiga kepada pacarnya. Setiap ucapan yang keluar dari mulut Alia, dia tidak serta merta percaya.

Dalam buku harian itu juga ditemukan hal lain, setiap Alia pulang dari kota itu, dia menjadi lebih tertutup dan sensitif. Terutama ketika Ega bertanya, "Ngapain aja lo di sana?" Alia cepat-cepat memotong pembicaraan dengan berkata," Ya biasalah sayang, ketemu teman, makan, jalan-jalan di pusat kota itu, dan membeli sedikit oleh-oleh. Itu saja."

"Ketemu temen kamu yang mana? Apa aku kenal?" catat Ega di bulan pertama kepergian Alia ke kota itu.
"Ya nggak lah sweetheart. Itu kan teman-temanku SMA. Salah?"
"Maksudku, bukan sama siapa itu sama si A, si B. Tapi, teman yang mana. Artinya, apa temen dekat, jauh, apa..."
"Sudahlah Ega. It's not your business!" kata Alia meninggalkan Ega sendiri di taman depan rumah Alia.

Ega mulai diusik virus cemburu. Menanyakan langsung kepada pacarnya, sama saja dia membuat susana perang. Sesuatu yang selalu Ega hindari dari setiap kencan-kencannya. Ega selalu menginginkan kesempurnaan ketika melewatkan waktu bersama. Kesempurnaan yang Ega maksud adalah tawa-canda, rayu-merayu, saling mencurahkan kasih sayang satu sama lain dalam berbagai bentuk, tanpa sedikit pun pertikaian.

***
Alia semakin membeci kota tempat ia lahir dan tumbuh. Selain karena macet di mana-mana, metropolitan juga tidak pernah memiliki kerendahan hati, sapa-tawa apalagi susana romantis. Penat, panas, kumuh, bising, dan terlalu banyak orang. Alia, mulai mengenal ada kota lain. Kota tempat pria misterius itu tinggal. Dan kota itu, dengan sendirinya menjadi kota misterius di mata Alia.

Tanpa sadar Alia sudah mulai satu pekerjaan yang paling tidak adil di dunia, membanding-bandingkan. Ketidakadilan di mana tanpa pernah melibatkan objek yang dibandingkan, penilain diambil dengan selera dan sudut pandang si empunya orang yang merasa bisa memilih. Alia menetapkan standar dan peniliannya sendiri, untuk kemudian menyimpulkan secara serampangan. Pertama-tama, dia mulai membandingkan kedua kota itu. Mulai dari arsitekturnya, tata lalu-lintasnya, pusat-pusat hiburannya, tempat-tempat hangout dan makannya.

Kemudian, Alia memberanikan diri membanding-bandingkan pria di kota itu dan Ega. Alia tahu, bahwa dirinya harus memilih yang terbaik untuk hidupnya. Pria misterius dan Ega dijadikan objek dari pekerjaan barunya membanding-bandingkan. Selama Alia bekerja, dua objek yang diperbandingkannya sudah dalam keadaan yang tidak seimbang. Alia menilai pria misterius itu lebih bisa menyentuh hatinya ketika memanggilnya dengan kata-kata mesra, lebih dewasa, pintar, lebih punya nama, dan lebih bisa mengerti apa yang Alia mau. Sementara Ega diperbandingkan ketika mereka sedang berbuntu komunikasi, dan ketika Ega selalu menjadi salah di mata Alia, karena naluri keingintahuan Ega terhadap apa yang terjadi dalam diri Alia. Ega, selalu saja dikaitkan dengan kata, jenuh.

***

Angin meniup kencang. Menjatuhkan daun dan bunga pohon mahoni di sisi kota. Mirip baling-baling, bunga mahoni kering menari dan berputar-putar di atas sebuah kedai di bilangan Jakarta Selatan, tempat Alia mencurahkan seluruh kata hatinya. Alia tidak mau gegabah menentukan pilihan. Dia mencoba berkonsultasi dengan Lauren, seorang yang dianggapnya bisa membatu memutuskan kebuntuan dalam menentukan pilihan.

Lauren tampak serius dan senang mendengarkan curahan hati Alia. Sambil mengelus pipi Alia yang sedikit basah karena tetes air mata, Lauren terus menggali cerita dan emosi Alia.

"Sudah lebih dua tahun Luaren..."
"Terus.."
"Jangan kamu tanyakan aku sayang atau tidak dengan Ega. Aku sangat menyayangi Ega, bahkan keluarganya" kata Alia sambil mengambil tisu di saku tasnya. "Tapi kenapa Lauren," lanjut Alia, "sayangku dengan Ega sekarang tidak seperti dulu".
"Maksudnya?"
"Masa kamu tidak tahu Lauren... Justru itu yang aku tanyakan sama kamu. Kamu kan sama-sama mahluk adam?"
"Tapi aku benar-benar tidak tahu Alia..."
"Begini ceritanya..."

Alia membeberkan pertemuannya dengan seorang pria misterius di sebuah kota misterius pula. Sejak saat itu, Alia menjalin hubungan dengan pria itu. Alia juga menceritakan bagaimana perlakuan pria itu kepadanya. Alia mendapatkan sebuah sensasi baru. Begitu Alia dimanjanya, begitu Alia disanjung dan di tempatkan sebagai sejatinya seorang perempuan. "Layaknya seorang putri," tandas Alia.

"Terus..." Lauren sabar menunggu pengakuan Alia sambil sesekali mereguk capucino panas yang sudah mulai mendingin.

"Apakah aku jatuh cinta lagi?"
"Kamu yang lebih tahu"
"Ayolah Lauren... Aku salah tingkah diperlakukan seperti itu terus. Aku dibuatnya menjadi seorang perempuan istimewa dan sempurna," aku Alia.
"Apa itu bukan gombal?"
"Tapi dia bilang dia sayang sama aku. Aku jadi ingin mengetahui apa maksud sayangnya kepadaku..."
"Lalu"
"Aku sering menemuinya. Aku luangkan waktu khusus buatnya. Dia juga ketika ke sini, selalu menemuiku. Sampai.. Suatu ketika.. Aku dan dia terlibat dalam sebuah percakapan yang belum pernah aku lakukan dengan siapa pun..." Alia terdiam agak lama. Diusapnya kembali air mata di pipinya.
"Terus"
"Ak Lauren, selalu saja kamu, lalu, terus, terus, lalu, ya kamu tahu lah seharusnya apa yang terjadi selanjutnya.. Masa sih..."
"Ya aku tidak tahu"
"Ah Lauren... Untuk apa kamu di sini. Apa-apa tidak tahu. Bagaimana aku minta pendapatmu?"
"Okelah, anggap saja aku tahu, terus?"
"Setelah itu, ya sudah aku semakin mencintai dia dan aku mulai jenuh dengan Ega".

***

Alia semakin mantap dengan pilihannya, meninggalkan Ega dan memilih pria misterius itu dalam hidupnya. Ditambah, bayang-bayang kota misterius itu selalu hadir dalam mimpi-mimpi Alia. Keramahan orang-orangnya, suasana malam dan canda sepontan anak-anak mudanya. Alia semakin terbang membawa seluruh angan dan cita-citanya. Jauh.. jauh menuju ke bulan dan meninggalkan Ega yang sedang menyalahkan dirinya sendiri sembari mencari tahu kepada siapa Alia selalu pergi ke kota itu.

bersambung....



Post a Comment