Pages

Thursday, October 29, 2009

Bahaya Kuning dari Utara

“Jarak peradaban itu, berapa pun langkahnya tidaklah penting. Bagaimana pun yang kuat akan menelan yang lemah. Biar pun yang kuat itu hanya kecil. Bayangkan saja: Cina bangsa besar. Bagaimana kalau sekaligus kuat? Bahaya Kuning, Tuan-tuan, Bahaya Kuning. Awas-awas. Jepang sudah menjadi kenyataan. Cina juga bisa menjadi kenyataan. Kita suka atau tidak. Mungkin kita sudah tak bakal menyaksikan. Tapi awas-awaslah, karena waktu berjalan terus. Kita suka atau tidak .”
(Pramoedya Ananta Toer)

Percakapan Dan Maarten Nijiman dan Minke –dua tokoh dalam roman Anak Semua Bangsa– di atas, terjadi dalam kurun waktu awal abad ke-20. Nijiman mengagumi Angkatan Muda Cina yang progresif melakukan pembaharuan, peremajaan di Cina. Waktu itu kecil sekali jumlahnya. Nijiman tetap punya keyakinan, bagaimana pun kecil dan tak berarti kelihatannya, makin lama akan makin besar .

Nijiman siapa pun dia, entah tokoh fiktif atau personifikasi nyata seseorang yang menjadi inspirasi Pramoedya, termasuk salah seorang yang paling jeli pertama kali memprediksi kebangkitan Negeri Tirai Bambu.


Satu abad sesudah percakapan Nijiman dan Minke, dunia dibuat heboh dengan rekasasa baru dari Asia. Cina menjadi tuan rumah Olimpiade termegah sekaligus menjadi juara umumnya. Rakyat bangga bahwa China dapat melewati AS.

Cina berhasil melesatkan pesawat ulang-aliknya untuk membawa taikonot-nya mengelilingi dunia. Cina telah memegang surat berharga AS sekitar US$ 1,3 triliun, sekitar 70 persen dari cadangan devisanya senilai US$ 1,8 triliun, yang memicu kekhawatiran di antara politisi AS bahwa penguasaan yang sangat besar itu akan menjadi ancaman Cina terbesar.

Dalam perdagangan, kata I Wibowo dalam artikel 60 Tahun RRC di Kompas (1/10), China mampu menaklukkan AS sehingga negeri Paman Sam ini mengalami defisit besar. Koran-koran China pasti memuat berita yang memperlihatkan angka statistik dalam hal apa saja jika itu menyamai atau melebihi AS .

Awal 2009 ini, China boleh amat bangga bahwa untuk pertama kalinya posisi China diperhitungkan setara oleh AS. Adalah Robert Zoelick, Direktur Bank Dunia, yang pertama melontarkan gagasan bahwa krisis keuangan global saat ini hanya bisa diselesaikan oleh G-2. Maksudnya adalah AS dan China. Gagasan ini menguat, lalu masuk China, dan membuat banyak intelektual China berbunga-bunga. Krisis keuangan global yang mulai pada September 2008 memang telah mengubah seluruh tata ekonomi dunia, termasuk hubungan China dan AS.

Ilustrasi keberhasilan Cina yang gilang-gemilang di berbagai bidang apakah menjamin dirinya akan mampu menyaingi dan pada akhirnya mengalahkan AS? Apakah akan terjadi perubahan kekuatan dari Barat ke Timur?

Dalam artikelnya Think Again: Asia’s Rise, Minxin Pei meragukan itu semua. Argumentasinya cukup beralasan. Pertama, dia menjelaskan pertumbuhan Asia yang menunjukkan datangnya dunia miultipolar bukan unipolar lagi. Kedua, meski Asia telah meng-upgrade kekutan militer mereka, tetapi masih tetap 1/3 dari kekutan militer AS pada 2008 dalam arti pengeluaran militer. Dengan pertumbuhan ekonomi Asia yang seperti sekarang ini, dibutuhkan rata-rata 77 tahun untuk manyamai pemasukan rata-rata rakyat AS, China memerlukan 44 tahun dan India memerlukan 123 tahun. Dana militer se-Asia diakulmulasikan pun tidak akan menyamai dana militer amerika serikat selama 72 tahun.

Ketiga, tidak ada artinya membicarakan Asia sebagai kekuatan yang berasal dari satu entitas, sekarang maupun ke depannya. Sejarah di Asia dipenuhi dengan kompetisi kekuatan dan konflik militer antara negara-negara besar. Seperti China dan Jepang mereka memperrebutkan Korea, Uni Soviet bekerjasama dengan India dan Vietnam untuk menjaga China. Apabila Asia menjadi pusat gravitasi geoplitik di dunia, maka hasilnya dapat menjadi dunia yang suram. Selanjutnya Pei menekankan, salah satu bahan dalam kekuasaan adalah pemikiran (Idea). Pax Americana dapat terjadi dikarenakan oleh kuatnya ekonomi dan kekuatan militer Amerika Serikat, tetapi juga oleh beberapa pemikiran seperti: perdagangan bebas, Wilson liberalism, dan lembaga-lembaga multilateral.

Terakhir Pei berpendapat, yang melatarbelakangi Asia pada saat ini adalah kekuasaan. Asia boleh merasa bangga bahwa mereka memasuki revolusi industri baru. Tetapi “percaya diri” bukanlah sebuah ideologi dan model perkembangan Asia tidak terlihat seperti sesuatu produk yang dapat diekspor.

Pertumbuhan ekonomi di Asia baru-baru ini memang memberi harapan bahwa ekonomis Asia akan menjadi super power. Goldman Sachs, mengatakan bahwa pengeluaran ekonimi China akan melewati Amerika Serikat pada tahun 2027 dan India akan menyusulnya pada tahun 2050.

Meski demikian, apakah China akan mendominasi Asia?
“Tidak juga,” kata Pei. Alasanya, walaupun itu benar bahwa China akan menjadi salah satu Negara terkuat tetapi ada batas-batasannya. Pertumbuhan ekonomi China juga tidak dijamin dapat tumbuh dengan cepat secara konstan karena ada hambatan dari dalam negeri tersebut seperti partai komunis yang anti ekpansi dan Negara-negara tetangga Cina seperti Russia, India dan Jepang yang tidak ingin Cina menjadi negara super power di wilayah Asia.

Bagaimana Negara Bisa Menjadi Super power?
Headly Bull dalam The Great Power and International Order, konsep baru “super power” bagaimanpun tidak menambah apa-apa dari konsep yang lama “Great Power”. Adalah suatu kesalahan untuk mendefinisikan “kekuatan besar” / “super power” dengan posisi strategi kekuatan nuklir.

Terus, siapa sebenarnya yang dapat dikatakan sebagai kekuatan besar sekarang?
Masih dalam The Great Power and International Order, kriteria pertama adalah perbandingan status; kedua adalah dengan memiliki kekuatan militer yang baik; ketiga kontribusi dari kekuatan besar terhadap tatanan internasional beranjak dari fakta kekuatan yang tidak setara antara negara-negara yang membentuk sistem internasional.

Keempat, karena negara tidak setara dalam kekuatan, isu internasional tertentu diselesaikan sebagai konsekuensi, keinginan dari negara tertentu (yang lemah) dapat dalam prakteknya ditinggalkan, dan kehendak / keinginan dari negara (yang lebih kuat) dianggap sebagai isu yang sangat relevan. Kelima, ketidaksetaraan dalam bidang kekuatan negara telah mempunyai pengaruh, menyerdehanakan pola hubungan internasional, memastikan beberapa negara akan berjaya sedangkan yang lain akan redup, konflik tertentu akan membentuk motif politik internasional sedangkan yang lain akan terbenam.

Terakhir, kekuatan besar berkontribusi terhadap tatanan internasional dalam dua jalan: dengan cara mengelola hubungan yang satu dengan yang lain, dan dengan mengeksploitasi lebih besar dengan cara untuk mengalihkan tingkat arah pusat kepada urusan masyarakat internasional sebagai keseluruhan. Kedua peran atau fungsi saling berhubungan dan sulit untuk memisahkan realitas sejarah, langkah dan kekuatan besar untuk mengatur hubungan antara satu dengan yang lain mengarah secara langsung untuk berusaha menyediakan arah pusat atau mengatur urusan masyarakat internasional sebagai keseluruhan.

Memang, untuk kriteria terakhir Cina menurut penulis masih belum bisa mengimbangi AS. Diperlukan soft power yang luar biasa besar hingga sampai pada taraf mengatur masyarakat internasional sebagai satu keseluruhan.

Namun, hal terebut bukanlah tidak mungkin untuk Cina kejar. Dalam tulisannya Cina 60 tahun ke depan, I Wibowo –pengamat masalah Cina, sudah mengirimkan tanda-tanda yang jelas jika Cina kini sedang mengembangkan soft power-nya.

Menurut I Wibowo, soft power Cina sudah besar, tapi belum cukup besar. Supaya dunia yakin negara itu tak mengandalkan hard power, Cina sebaiknya tak hanya menyebarluaskan bahasa, tapi juga nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai ini sudah ada akarnya dalam kebudayaan mereka. Soft power harus dikembangkan bukan sebagai strategi diplomasi semata, melainkan juga komitmen yang otentik. Mungkin ini pekerjaan rumah penting untuk Cina 60 tahun ke depan .

Memperdebatkan “Bahaya Kuning Dari Utara” dalam persaingannya menjadi super power ke depan menurut penulis tidak cukup dijelaskan lewat data-data empiris saja. Dalam konteks dunia yang tampil nyaris tanpa batas ini, kecepatan memegang peranan paling penting. Siapa yang paling cepat memanfaatkan setiap peluang dialah yang akan menjadi pemenang. Dengan persebaran etnis di kota-kota besar di seluruh penjuru dunia dan kekuatan ikatan kekeluargaan serta kepercayaan di antara mereka sendiri adalah modal yang tidak dimiliki AS yang juga mesti diperhitungkan.

Memiliki kekuatan senjata nuklir seberapa hebat pun dia, tidaklah semudah mengoperasikannya dalam rangka meraih tujuan nasionalnya. Dia pasti sudah terikat dengan norma-norma demokrasi, hak asasi manusia, dan pertimbangan-pertimbangan rasional lainnya. Di titik inilah, penulis yakin Cina akan menjadi super power. AS telah menjilat sendiri ludahnya, demokrasi neoliberalisme diganti dengan politik proteksionisme. AS dalam pasar yang bebas sempurna kewalahan dengan barang-barang murah dari Cina yang kini telah berjajar di gerai-gerai Wallmart.


Post a Comment