Pages

Thursday, October 29, 2009

Bukan Pentagon yang Menjatuhkan Uni Soviet, tapi Hollywood

Judul di atas terkesan cukup terburu-buru dan terkesan provokatif menyimpulkan penyebab runtuhnya Soviet. Hal tersebut jelas susah dibuktikan secara ilmiah, namun setidaknya hal itu dapat menjadi pintu masuk memahami lebih dalam dan merefleksikan kejatuhan Soviet. Tulisan ini adalah sebuah bentuk refleksi 20 tahun keruntuhan komunisme di Eropa Timur.

Wajah Soviet seketika berubah ketika Mikhail Sergeyevitch Gorbachev menghembuskan glasnost (keterbukaan) dan perestroika (restrukturisasi) tahun 1985. Produk-produk industri kapitalis mengalir masuk bagai air bah termasuk aneka kendaraan roda empat, film-film Hollywood, sampai minuman kaleng seperti Coca-Cola. Masuknya produk itu tidak sekadar menawarkan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, namun lebih jauh dari itu, mereka perlahan-lahan menawarkan gaya hidup baru, dari sebuah ideologi “baru” di baliknya. Tak lama kemudian Gorbachev tumbang bersama Uni Soviet, tapi gerbong globalisasi terus melaju, melibas siapa saja yang tidak mampu bersaing dalam alam kapital.


Teori Konstruktivisme adalah teori yang paling ideal dalam menganalisa bagaimana identitas dan kepentingan dapat berubah dari masa ke masa, dimana hal ini menghasilkan pergeseran secara perlahan dalam pola tingkah-laku negara dalam Hubungan Internasional. Kelemahan utama realis dan liberalis adalah mereka memandang interest negara-negara itu statis. Realis yang lebih berfokus pada anarki dan distribusi kekuatan, gagal menjelaskan fenomena kejatuhan Soviet yang diakhiri tanpa perang. Sementara liberalisme dalam konteks Soviet gagal menjelaskan motif apa di balik Gorbachev.

Akhir era perang dingin memainkan peranan penting dalam pembentukan teori konstruktivis. Realisme dan Liberalisme tidak mampu mengantisipasi peristiwa ini, sekaligus kesulitan dalam menjelaskannya: Terutama ketika Presiden Mikhael Gorbachev merevolusi kebijakan luar negeri Soviet, karena ia memeluk ide baru “Common Security”.

Ketika Realis dan Liberalisme cenderung berfokus pada faktor material seperti kekuasaan dan perdagangan, pendekatan konstruktivis menekankan kepada dampak dari ide. Pendekatan ini lebih mengedepankan aspek historis yang spesifik dalam mengidentifikasi dan menganalisa kepentingan negara . Jelas, di sini konstruktivis memandang anarki bukanlah sebuah given. Berbeda dengan realis dan liberal.

Pendekatan ini memerhatikan secara seksama wacana umum yang berkembang dalam masyarakat, karena wacana tersebut merefleksikan pembentukan kepentingan dan keyakinan, serta menetapkan norma yang berlaku di masyarakat. Konstruktivisme juga secara khusus memerhatikan sumber-sumber perubahan. Pendekatan ini kemudian perlahan-lahan menggantikan teori Marxisme, sebagai salah satu perspektif radikal terkenal dalam HI.

Dari sudut pandang konstruktivisme, masalah pokok yang ada dalam perang dingin adalah bagaimana kelompok yang berbeda tersebut mengungkapkan jati diri dan kepentingannya. Meskipun Power disini bukanlah masalah yang relevan, pendekatan ini menekankan bagaimana ide dan identitas dibentuk, bagaimana mereka (ide dan identitas) berevolusi, dan bagaimana mereka menekan negara agar mengerti dan merespon.

Alexander Wendt, salah satu sarjana aliran konstruktivisme, menjelaskan bahwa konsepsi Realis tentang anarki tidak cukup menjelaskan bagaimana konflik antar negara terjadi. Wendt justru berkesimpulan bahwa anarki adalah apa yang dibentuk oleh negara.

Tema umum yang dapat merangkum berbagai macam teori konstruktivis di atas adalah bagaimana aktor politik mendefinisikan diri mereka dan kepentingan mereka, yang pada akhirnya mengubah perilaku mereka dalam menentukan kepentingan negara.

Prinsip dasar dari teori sosial konstruktivisme adalah bahwa masyarakat/orang bertindak terhadap objek, termasuk aktor lainnya, dalam tataran pengertian bahwa objek tersebut milik mereka. Negara melakukan tindakan berbeda terhadap lawan dibandingkan dengan apa yang dilakukannya terhadap kawan, karena lawan adalah ancaman, tapi berbeda dengan kawan.

Anarki dan distribusi kekuasaan tidak cukup untuk menjelaskan pada kita mana yang kawan, dan yang mana lawan. Kekuasaan militer US memiliki signifikansi/kepentingan yang berbeda untuk Kanada dibandingkan untuk Cuba, walaupun mereka memiliki posisi yang relative sama “secara struktural”, seperti halnya rudal British memiliki kepentingan yang berbeda untuk US daripada yang dilakukan rudal Soviet. Distribusi kekuasaan akan selalu mempengaruhi kalkulasi negara, tetapi bagaimana hal ini (distribusi kekuasaan) melakukannya tergantung pada pemahaman intersubjektif dan ekspetasi, pada “distribusi pengetahuan”, yang membentuk konsepsi diri mereka dan yang lain. Hal ini merupakan pengertian kolektif yang membentuk struktur yang mengatur aksi apa yang kita lakukan.

Tahap pertama pada transformasi intensional adalah rincian dari konsensus mengenai komitmen identitas. Pada kasus Soviet, komitmen identitas terpusat pada teori Lenin mengenai imperialisme, dengan kepercayaannya bahwa relasi antara negara kapitalis dan sosialis secara turun temurun berkonflik, dan pada pola aliansi dimana kepercayaannya ini timbul. Di tahun 1980-an, konsensus Uni Soveit terhadap teori Leninist pecah dalam beberapa alasan, pelaku utama di antara yang kelihatannya merupakan ketidakmampuan negara untuk bertemu dengan tantangan ekonomi, teknologi dan militer dari Barat, penurunan pemerintah akan legitimasi politik dalam negeri, dan kepastian dari Barat bahwa Barat tidak berintensi untuk menginvasi Uni Soviet, sebuah kepastian yang mengurangi biaya eksternal perubahan peran. Faktor-faktor ini menjadi jalan bagi transisi kepemimpinan radikal dan untuk skema politik yang tidak beku yang selanjutnya memfokuskan hubungan dengan Barat.

Rincian konsensus membuat mungkin keberadaan tahap kedua dari pemeriksaan kritis akan ide lama mengenai diri dan pihak lain, dan dengan perpanjang, struktur interaksi dimana ide telah dilanjutkan. Dalam periode identitas peran yang relatif tetap, ide dan struktur akan menjadi ter-reifikasi dan diperlakukan sebagai sesuatu yang eksis secara mandiri dari aksi sosial. Jika demikian, tahap kedua adalah salat satu dari denaturalisasi, dari identifikasi praktek-praktek yang memproduksi ulang ide-ide yang tampaknya tidak terelakkan tentang diri dan pihak lain, sejauh itu, hal ini merupakan bentuk teori “kritis” daripada teori “problem-solving”. Hasil dari kritik seharusnya merupakan sebuah identifikasi akan “possible selves” atau kemungkinan diri yang baru dan juga aspirasi. New Thinking terdiri dari teorisasi kritis.

Pemikiran ulang semacam ini memberikan jalan bagi tahap ketiga dari praktek baru. Di banyak kasus, hal ini tidak cukup untuk memikirkan ulang ide seseorang akan diri dan pihak lain (self and other), karena identitas yang lama telah dipertahankan oleh sistem interaksi dengan aktor lainnya, praktek dimana menyisakan sebuah fakta sosial untuk pelaku transformatif. Untuk mengubah diri, lalu, hal ini sering kali perlu/penting untuk mengubah identitas dan kepentingan pihak lain yang membantu menopang/mempertahankan sistem interaksi tersebut. Kendaraan/alat untuk menginduksi perubahan adalah praktek masing-masing negara, dan khususnya praktek “altercasting” (perubahan peran), sebuah teknik kontrol interaktor dimana ego digunakan sebgai taktik dari self-prevention (pencegahan diri) dan menejemen tahap dalam sebuah usaha utuk membingkai definisi perubahan dari situasi sosial dengan cara membentuk peran dimana keinginan ego berubah untuk bermain.

Sebenarnya, dalam proses altercasting, ego mencoba untuk menyebabkan perubahan untuk mengambil identitas yang baru (dan dengan demikian melibatkan perubahan pada usaha ego untuk mengubah dirinya sendiri) dengan memperlakukan perubahan seolah-olah perubahan ini telah memiliki identitas tersebut.

Namun, praktek-praktek seperti itu sendiri tidak dapat mengubah sistem keamanan yang kompetitif, karena jika mereka tidak kembali dibentuk (reciprocreated) oleh perubahan, mereka akan mengekspose ego kepada “penghisap” hasil, dan dengan cepat berakhir sebelum waktunya. Agar praktek strategis yang kritis mentransformasi identitas yang kompetitif, hal ini harus “dihadiahi”/”diberikan reward” oleh perubahan, yang akan menyemangati praktek yang dilakukan ego dst. Seiring berjalannya waktu, hal ini akan menginstitusionalisasi identifikasi yang positif daripada yang negatif antara keamanan diri dan pihak lain, dan dengan demikian akan menghasilkan basis intersubjektif yang tetap untuk sesuatu yang awalnya merupakan komitmen yang tentatif menjadi identitas dan kepentingan yang baru.

Soviet dalam era Gorbachev adalah gambaran gamblang bagaimana proses perubahan interest berlangsung, identitas itu berubah sehingga berkontribusi sampai pada perubahan kebijakan politik luar negeri Soveit. Jelas hal ini bukan tanpa alasan, Soviet mencermati exogenous forces dalam melihat transformasi bergesernya ‘rejim’ komunis Soviet menjadi Rusia dengan ilusi demokrasinya. Perubahan faktor eksternal, perubahan selera masyarakat, kemajuan teknologi adalah sedikit contoh dari exogenous forces yang bisa mentransformasikan sistem sosial.


Post a Comment