Pages

Thursday, February 7, 2008

Last Supper Soeharto

Majalah Tempo kembali membuat sebuah sensasi. Namun, sensasinya kali ini bukan saja dari hasil investigasi para jurnalisnya, namun karena kulitmuka majalah edisi 4-10 Februari ini memuat gambar Soeharto sedang melakukan perjamuan malam terakhir bersama putra-putrinya. Ilustrasi itu menyitir gambar Leonardo Da Vinci, "The Last Supper". Sosok Yesus diganiktan oleh Soehrato dan ditambah judul "Setelah Dia Pergi".

Hal ini kemudian menimbulkan kontraksi sosial di tengah masyarakat. Sejumlah perwakilan umat Katolik mendatangi redaksi TEMPO di jalan Proklamasi, Jakarta, Selasa (5/2). Mereka meminta TEMPO menarik edisi tersebut dari peredaran. Alasannya, menurut Hermawi Taslim, Ketua Forum Komunikasi PMKRI itu, agar tidak menimbulkan keresahan. Mereka ditemui Pemimpin Redaksi (Pemred) Tempo, Toriq Hadad.

Pemred TEMPO kemudian meminta maaf atas kesalahannya itu dengan berjanji permintaan maafnya akan diterbitkan pada harian Tempo Rabu (6/2) dan majalah Tempo edisi minggu berikutnya.

Dalam melihat kasus Last Supper Soeharto pada kulitmuka Tempo ada beberapa hal yang menurut saya patut dipilah-pilah. Supaya permasalahannya menjadi lebih gamblang.

Pertama soal gambar Leonardo Da Vinci. Last Supper sebagai sebuah maha karya seni adalah bukan saja milik umat kristiani. Karya itu mampu menjelaskan dan bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Orang lain bebas mengintepretasikannya. Belum lama, Dan Brown penulis buku The Da Vinci Code juga mengintepretasikan karya itu, dengan menyebut seseorang murid Yesus yang berada di sebelah kanannya adalah seorang perempuan, Maria Magdalena namanya. Novel ini menjadi 'best seller' karena kontroversi itu.

Kedua adalah menyangkut sosok Yesus Kristus. Yesus juga bukan milik orang kristiani semata. Orang Islam menyebut Dia nabi Isa. Umat kristiani percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Sementara berbeda bagi umat Islam yang menganggapnya seorang nabi. Bisa jadi, orang lain lagi menganggap dia bukan nabi dan tuhan. Dengan kata lain, Yesus pun bisa dan boleh diintpretasikan beragam.

Yang menjadi permasalahan di sini dalam kasus kulitmuka Tempo adalah menurut saya apakah mungkin, Majalah Tempo tidak memikirkan bagaimana perasaan orang-orang yang menganggap Yesus sebagai Tuhan, 'disamakan' dengan figur Soeharto? Saya menduga ada semacam kesengajaan, entah motifnya apa. Kesengajaan itu dibuktikan lewat kemauan pihak Tempo mengakui kesalahannya dan meminta maaf.

Kebebasan Berekspresi VS Cara Beriman
Yang ingin saya kritisi adalah bagaimana gambar itu yang merupakan sebuah ekspresi seni berbenturan dengan cara beriman sebagian orang.

Dengan dalih kebebasan berekspresi, harian Denmark Jyllands-Posten pernah memuat kartun-kartun Nabi Muhammad. Berbagai reaksi muncul di seluruh belahan dunia, mulai dari demonstrasi, pembakaran bendera Denmark serta penutupan kantor kedutaan.

Benturan kebebasan berekspresi dengan cara beriman seseorang seringkali menimbulkan perasaaan sakit hati. Apalagi hal itu untuk kepentingan publikasi. Novel Dan Brown dan kartun Nabi Mohhamad adalah contohnya.

Saya -sebagai orang kristiani- ingin mengajak kita kembali pada saat hari-hari terakhir Yesus di dunia. Dalam Kitab Matius, ketika Yesus ditangkap, salahseorang dari Muridnya menghunuskan pedang dan menatakkan telinga salahseorang prajurit yang hendak menangkap Yesus. Namun, Yesus tidak mau dibela. Dia meminta muridnya untuk menyarungkan lagi pedangnya.

Sesaat kemudian Yesus juga dianiaya dan dihina. Dia ditelanjangi, diludahi, kepalanya dipukul dengan buluh dan dimahkotai duri untuk kemudian diolok-olok, "Salam hai Raja orang Yahudi!"

Saya terus terang ingin membandingkan perlakuan terhadap Yesus dulu dengan yang terjadi saat ini, di mana gambar Yesus 'disamakan' dengan gambar Soeharto. Bagi saya, yang terjadi saat ini belum ada apa-apanya dengan apa yang diterima Yesus dulu. Dan saat itu pun, Yesus tidak pernah minta dirinya untuk dibela.

Setahu saya, Yesus minta kepada seluruh mudrid-muridnya yang patut untuk dibela adalah orang-orang miskin dan anak-anak akibat ketidakadilan sosial. Reaksi keras yang mungkin diharapkan Yesus adalah ketika kita tidak diam melihat berbagai penggusuran, pemerasan, KKN dan lain-lain.

Dengan kata lain, kulitmuka Tempo bisa menjadi semacam test case dalam melihat cara beriman seseorang. Jika Yesus baru dimaknai sebagai simbol-simbol keagamaan, maka bisa jadi, ketika simbol-simbol itu dirusak, dihancurkan, disatir, dsb yang terjadi seperti sekarang ini, pembelaan terhadap simbol-simbol itu. Bukan pembelaan pada inti ajaran Yesus sendiri.
Post a Comment