Pages

Friday, January 2, 2009

Imposible is Nothing!



Matari pertama tahun baru ini kutemui saat aku sedang pulang dari negeri batas senja menuju Jakarta. Sinarnya tak bisa langsung menyentuh sang bumi kekasihnya. Mega-mega menutup matanya. Ia laksana seorang ksatria yang sedang mengintip bidadari yang sedang telanjang mandi. Pandangannya terhalang oleh desiran angin yang membawa serta titik-titik embun yang terlambat turun. Kala itu, pelangi pagi seharusnya ada di belakangku...

Persis enam jam sebelumnya. Gegap gempita menyambut tahun baru terasa di mana-mana. Hampir seluruh penduduk bumi ingin mempersembahkan sesuatu kepadaNya. Lewat kembang api, disampiakannya berjuta harap kepada para dewata di atas sana. Satu lecutan sinar merah merona terbang menembus langit seraya meletus dan melahirkan beberapa anak api yang kemudian juga meletus menyemburkan berjuta warna di batas nirwana. Dari bawah, terlihat seperti brokli ajaib yang membelah malam. Dan di sudut-sudut kota, orang-orang berhamburan menyaksikan rasa syukur berbentuk kembang api yang ingin menggapai langit.

Para dewata pun ternyata ikut berpesta. Aroma wewangian muda-mudi di bawah sana, harum daging ikan, kambing, babi, sapi dan ayam panggang membumbung jauh ke atas membentuk semacam pilar putih yang menyangga kaki para dewata berpijak dan larut dalam suasana pesta.

Penduduk bumi bersyukur dan berharap, sementara para dewata mencoba menyeleksi apa yang menjadi permintaan orang-orang yang sedang berkumpul di bawah sana. Dari atas jelas terlihat. Ada yang sungguh serius meminta, ada yang hanya sekadarnya, ada pula yang terlelap tak menghiraukannya. Dan dewa-dewi bak seorang hakim agung yang sedang dinanti-nanti kedatangannya.

Dan beginilah ceritanya. Para dewata itu senang dengan orang-orang yang gemar memberi sesaji. Di malam tahun baru, para dewa juga sedang memasuki masa panen. Panen sesaji. "Rejeki nomplok," kata Dewa Kemakmuran beregah bangga.

Tak mau kalah, dengan Dewa Kemakmuran yang dipuja oleh hampir seluruh penduduk bumi di bawah sana yang menginginkan tahun baru ini memperoleh berkat darinya, Dewa Api pun tak mau kalah. Kepada Dewa Kemakmuran, Dewa Api bertanya, "Bagaimana kamu akan tahu siapa saja yang memohon kemakmuran tanpa perantaraan kembang api di malam ini?"

"Terang saja dari ucapan mereka, aku bisa mendengarnya. Hahahahhaaha..."

Dan dewa angin pun menyela, "Tanpa aku, bisakah setiap suara di bawah sana akan sampai ke nirwana? Tidak-tidak. Aku tidak mau membantumu," katanya kepada Dewa Kemakmuran.

Singkat cerita, di nirwana sana, terjadi adu mulut yang luar biasa. Siapa melebihi siapa. Dan diambilah sebuah keputusan penting di antara para dewata. Melalui sebuah rapat terbuka, diputuskanlah sebuah maklumat. Berapapun hasil sesaji yang membumbung dari perut bumi ke negeri kahyangan, akan dibagi rata oleh setiap dewa yang ada. Palu pun diketuk. Dewa keadilan, memimpin jalannya pembagian sesajian. Malam itu juga.

Saking banyaknya sesembahan yang harus dibagi, mereka akhirnya dimabuk sasaji. Dewa Pencatat pun akhirnya kelelahan dan bekerja asal-asalan. Ada yang menyumbang sedikit tertulis banyak, ada yang menyumbang sangat banyak tidak tertulis, dan ada juga yang tidak menyumbang tertulis menyumbang sangat banyak.

Dan di bawah sana orang-orang penduduk di bumi sungguh percaya, dewata akan memberikan keadilan mutlak. Absolut. Mereka berlomba-lomba menjadi yang paling bisa memberikan kesenangan bagi para dewa. Ada yang menggunakan berbagai trik supaya permohonannya dikabulkan. Maklum, 2009 ada sebuah agenda politik besar di tanah air. selain kembang api, mereka juga melarungkan hasil bumi, membuat korban bakaran dan juga mempersembahkan wewangian, kemenyan dan minyak mur di atas makam dan di bawah pohon-pohon rindang. Seolah, dewata sudah dikepung oleh seluruh persembahannya. Pikirnya, kemana pun dewa melangkah ke sana pula dia akan bertemu sesajinya yang tak lain untuk mengabulkan permohonannya.

Namun, apalah mau dikata. Di negeri kahyangangan sana samasekali tidak seserius yang diduga oleh kebanyakan orang di muka bumi ini. Di sana parea dewa sudah mabuk. Terlalu capek dan terlalu banyak berdebat satu dengan lainnya. Kerjaan kelewat banyak. Dan pada akhirnya, mereka bekerja asal-asalan.

Enam jam kemudian. Saat orang-orang di atas planet bumi sedang banyak terlelap. Para dewata menurunkan berkatnya. Hujan gerimis pun menjadi tanda turunnya berkat dari para dewata.

Aku sebagai satu oang yang tidak tahu menahu soal berkat dan sesajian. Pada saat pulang, aku merasa sungguh mendapatkan berkat. Padahal, aku adalah seorang yang yang tidak tahu menahu masalah sesaji. Dan sama sekali tidak mengaharap berkat. Namun, orang banyak mengelu-elukan aku. Memuji aku kelewat batas seolah persembahanku diterima para dewa. Dan bakti dan karyaku di dunia berkenan di mata dewa.

Belum sampai di Jakarta, orang-orang memenuhi pinggir-pinggir jalan berdesak-desakkan mencari tempat terbaik utuk dapat melihat aku yang hanya menggunakan sepeda motor. Mereka merasa tidak beruntung dan akhirnya ingin mendapat peruntungan dari kebaikan hatiku membagi-bagikan berkat yang mendadak saja aku terima dari atas langit.

Dan mereka pun menengadahkan tangannya di hadapanku. Sontak, aku merasa sama seperti para dewata. Aku merasa bingung karena terlalu banyak tangan yang menengadah dan akan saling berebut. Baru aku mengambil segenggam, sudah hilang seluruh lengan dan bajuku koyak. Tak kuasa aku menahan sakit dan tak bisa lagi aku mengendarai lajunya sepeda motorku. Aku pun terjun bebas ke kali. berhamburan kembali berkat-berkat itu ke atas permukaan air yang mengalir menuju Laut Jawa. Dan sudah bisa ditebak, orang-orang berlomba-lomba mencegurkan diri berharap dapat meraih berkat-berkat yang mulai menjauh hanyut. Dan mereka pun akhirnya dijemput maut karena hanyut juga dalam ambisi perebutan berkat.

Keesokan harinya. Mayat bergelimpangan di mana-mana. Bau anyir dan busuk di mana-mana membangunkan tidur para dewata. Dan mereka murka, sehari setelah berpesta, mereka tidak bisa beristirahat justru diusik oleh harum sesungguhnya sifat manusia di dunia.

Para dewata melihat ke bawah. melihat ribuan orang mati sia-sia. Di sekitarnya terlihat pula berbondong-bondnong orang menangisi kepergian Bapak, Ibu, Adik, Kakak, Paman, Bibi dan tetangga mereka.

Dan begitulah akhir ceritanya. Dewata kecewa, manusia kecewa. Dewata bersedih, manusia ikut bersedih. Tangis isak dan derai air mata ada di mana-mana.

Inilah sekelumit kisah dari negeri di alam mimpi. Negeri korupsi. di mana banyak orang berlomba-lomba mencari muka di hadapan pimpinannya. Dan pimpinannya bukan pimpinan yang baik. Mereka termakan oleh suap dan jompa-jampi pujian. Dan mereka tak mau kerja keras. Dan menderitalah semuanya. Termasuk perempuan dan anak-anak tak berdosa!

***
Jika Anda tinggal di negeri seperti ini, maka "imposible is nothing"

1 Januari 2009
Post a Comment