Pages

Sunday, January 4, 2009

Kupu-Kupu Kuning


Lereng Gunung Ciremai tampak sendu. Puncaknya terlihat samar-samar terhalang kelabu. Angin bertiup malu-malu. Terang tidak, hujan pun tiada. Nyanyi seruling bocah gembala mengalun pelan melantunkan sebuah tembang kemakmuran Negeri Parahyangan. Namun kerbau piaraannya tiada berdendang. Ternak di sana terlihat masih ingin memperpanjang tidurnya. Waktu itu, pagi baru saja berlalu.

Matari belum sempat tersenyum, banyak perempuan tani dengan sayuran di bakul diikat selendang meniti beberapa buah bambu yang dijajar membentuk semacam landasan, menyeberang sungai yang cukup deras airnya dan sangat curam jurangnya. Sungai yang memisahkan antara kampungnya di kaki cermai dan kota di mana pasar berada. Tempat mereka menajajakan hasil bumi yang mungkin untuk keperluan sekolah anak-anaknya. Wajah-wajahnya keras tiada berseri. Walau santun jelas tergambar dari garis wajahanya. Satu per satu mereka melewati powotan (semacam jembatan) bambu itu. Dan mereka kemudian memacu langkahnya. Sampai mereka perlahan menghilang di balik punggung pepohonan.

Entah mengapa, aku terbawa suasana. Hanyut dalam kesenduan. Mengalir dalam lamunan. Menyepi seorang diri. Nyawa di mana raga entah ke mana. Kosong. Aku memasuki ruang antara bangun dan terlelap. Sadar dan tidak.

Di antara tarik menarik antara dua kekuatan itu kini aku berada. Dan kebimbangan adalah jurang maut tersendiri yang lebar menganga. Perasaanku kini mirip dengan perempuan tani yang sedang melewat powotan bambu itu.

Kalau perempuan tani itu tidak begitu memedulikan resiko dirinya bisa saja terpeleset dan pada akhirnya jatuh, mengapa perasaan bimbangku untuk menyeberang sungai perasaanku sendiri kadang melewat?

Tiba-tiba saja, aku memutuskan untuk meneladan perempuan tani itu. Aku terus masuk ke dalam belantara lamunan. Menukik jauh sampai ke negeri batas senja. Tempat di mana manusia pencinta itu sudah satu minggu aku tinggalkan. Dia yang sering membuat aku terperangkap masuk ke dalam belantara perasaan sadar dan tidak. Bahwa entah ini nyata atau hanya ada dalam alam mimpi saja. Benar atau tidak, aku tidaklah pasti tahu bahwa aku sekarang menjalin asmara dengan dia. Gadis dari batas senja.

Dalam alam lamunku, sungguh dia hadir begitu nyata. Semantara kenyataannya, dia jauh tampak sebagai tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita saja. Kita dipisahkan oleh begitu banyak perbedaan. Minat, cara berpikir, cara memandang, sikap, termasuk warna kulit, suku, agama, dan semuanya saja beda. Siapa dia, siapa aku.

Tapi masalahnya, mengapa aku selalu memikirkannya? Mengapa dia terus ada dalam setiap tarikan nafas dan setiap aliran darahku? Dan mengapa aku sungguh menyukainya?

Di tengah-tengah lamunku, datanglah seekor kupu-kupu kuning entah dari mana. Terbang capat lalu hinggap di bahu kiriku setelah sesaat sayap kirinya yang lembut menyentuh pipi kiriku. Setelah tersenyum sebentar, dia kembali terbang, memutar dan meliuk bagai seorang penari balet. Dan kemudian menghilang enatah ke mana. Aku pun terbangun dari lamunku. Mencari ke mana kupu-kupu itu pergi. Dan tiada kudapati dia. Padahal ingin sekali aku menayakan sesuatu padanya. Pertanyaan kepadanya tentang sebuah kekuatan cinta yang ceritanya mampu mengalahkan segala-galanya. Dan aku yakin kupu-kupu kuning tahu jawabannya.

Katanya, maut pun tak bisa mengalahkan kekuatan cinta. Setidaknya itu aku tahu itu lewat cerita-cerita. Entah nyata atau bukan. Aku tidaklah peduli. Cerita cinta antara Sam Pek dan Eng Tai. Kekuatan cinta Eng Tai kepada Sam Pek mampu mengangakat timbunan tanah di atas liang lahat Sam Pek. Dan Eng Tai lari dari arak-arakan pengantin yang akan menjdodhkan dirinya dengan pria lain. Ia menerjunkan diri dan mendapati Sam Pek di bawah sana. Cinta Sam Pek pun tidak binasa. Kekuatannya mampu menarik tanah liang lahatnya dan kemudian langsung menutup kembali.

Ketika kubur itu digali, tiada didapati mereka berdua. Yang ada hanyalah terbangnya dua ekor kupu-kupu kuning yang menari-nari begitu saja lepas tiada beban. Berseri sepanjang musim.

***

Aku yakin sekali kupu-kupu kuning itu adalah Gadis Batas Senja. Karena, disadadri atau tidak, hampir setiap perempuan di negeri batas senja ingin seperti Eng Tai. Dia memiliki kekuatan cinta dan kesetiaan yang lauar biasa. Sehingga ia tiada binasa!

Masih di antara sadar dan tidak, aku meyakini kupu-kupu kuning itu adalah dia....

menjelang fajar,

4 Januari 2009
Post a Comment