Pages

Thursday, January 8, 2009

Misteri

Malam ini pukul 21.15. Aku memacu laju motorku. Membelah malam dan menerabas hujan. Padahal, sepotong bulan tampak di atas sana. Aku yakin, hujan ini tiada lama. Aku tetap menarik gas Pedrosa menuju sebuah tempat di mana seseorang pada masa laluku berada.

Lima tahun lalu. Di sebuah kedai minum kopi. Saat malam menjelang pagi, sering kali kuhabiskan waktu di tempat itu bersama dengan teman satu rumahku. Memesan roti bakar dan segelas kopi susu. Kita sering membahas mimpi di hari depan. Dia mengingikan bekerja di sebuah perusahaan pertambangan dengan gaji menggunakan standar Amerika. Dia sering sekali mengolok-olok aku. Katanya, "Nanti pas abang lagi liburan ke Jakarta, terus abang lagi hambur-hambur uang tuh, pas di jalan aku ngeliat kamu jadi penjual lontong sayur, hahahahahaha!"

Dan jelas aku membalasnya.... Jauh lebih parah.

Tapi tak apalah. Awalnya memang sebuah obrolan ringan. Tapi ternyata ada sebuah pengharapan besar ada di balik cerita-cerita itu. Dia yang malam ini kutemui sudah bekerja di perusahaan pertambangan, mempunyai seorang anak lelaki yang sungguh tampan, dan dia jauh lebih gemuk dari yang kubayangkan.

Sementara dia pun melayangkan pujian spesial untukku. Kita sama-sama saling mengapresiasi. kami berkendara ke arah Karena dulunya, kami sama-sama orang selalu dipandang sebelah mata oleh kebanykan. Mungkin juga masih sampai sekarang. Tapi tak apalah. Biarkan saja orang mau omong apa.

Satu hal yang aku dapati dia sungguh berubah. Dia sekarang memiliki rasa takut. Dulu dia adalah jagoan di kampus dan lapangan bola. Semua saja ingin ia tundukkan secara fisik. Mutanya tajam, tulang pelipisnya tebal, mata cekung ke dalam, dan sorotnya tajam. Kadang, kumis dibiarkannya tumbuh.

"Abang sekarang bukan seperti yang dulu," akunya. Sekarang, lanjut dia, aku nggak bisa lagi mikirin aku sendiri. Setiap saat aku mikir si ucok anakku. "Kamu juga harus berhati-hati," pesannya.

Dia juga menceritakan bagaiamana cara pandangannya mengenai Jakarta. "Apa sih yang orang-orang ini cari? Kalau di daerah, mereka itu akan digaji mahal. Mereka punya kemapuan. Tenaga kerja sedikit. Tak tahu aku. Padahal, di daerah sangat membutuhkan orang-orang yang mau bekerja keras. Tak perlu pintar!" katanya lagi.

Saat itu, masa lalu menjadi begitu dekat. Kata-kata ini aku dengar kembali. Semuanya menjadi gamblang terbayang, terbungkus rapi oleh suasana malam menjelang pagi di ibu kota.

***

Semuanya hanyalah misteri. Dulu aku sama sekali tidak menyangka, kalau gurauannya menyimpan sebuah pengharapan yang total ia usahakan.

Untuk abangku, YLTHN!
Post a Comment