Pages

Saturday, December 31, 2011

Mimpi-mimpi Malam

Ruang ini rasanya sudah asing dengan dirinya sendiri. Padahal, tempat ini dahulu dicipta untuk menyampaikan sesuatu yang belum selesai, sesuatu yang tidak terungkapkan, jeritan-jeritan lirih yang berteriak dari pedalaman hati. Memasuki ruang ini akhir-akhir ini, lebih seperti masuk ke dalam sebuah jurnal akademis dengan penulis tunggal. Ke mana kata hati? Ke mana engkau bersembunyi? Apakah ketika kognisi lebih diberi ruang, sisi afeksi kemudian menghilang, dan rasanya susah sekali untuk diungkapkan? Ah, rasanya tidak.

Ruang ini adalah gambaran apa-apa saja yang sedang melintas di pikiran dan perasaanku. Ini pun tetap menjadi jejak-jejak kecil peziarahanku dalam mencari makna kehidupan. Dari sini justru terlihat bahwa aku terus bergerak, terus berdinamika. Bahwa ketika masih ada pergerakkan, di sana sebenarnya aku masih hidup. Dan untuk kehidupan itu sendiri aku sungguh bersyukur. Rasa syukur yang justru aku layangkan untuk kemampuanku bertahan dalam melewati jalanan terjal, berliku dan menanjak. Semua itu tentu tidak mudah dijalani.

Semua yang terjadi pada 2011, aku bungkus dalam satu kotak yang aku namai pencapaian yang belum tuntas. Tuntas? Kapankah itu akan terjadi? Barangkali hanya maut yang memberi tanda titik terhadap hal tersebut. Tidak. Aku tidak mempersoalkan tuntas tidaknya sebuah pencapaian. Maaf, barangkali kotak itu tidak jadi aku namai pencapaian yang belum tuntas. Di samping terlalu panjang untuk sebuah nama, rasa-rasanya memang tidak tepat juga aku namai sebagai pencapaian, apalagi dengan embel-embel kata tuntas. Tidak. Aku tiada ingin menamai. Biarlah itu terbuka, dan bebas untuk dibingkai dalam kotak apa saja. Dan aku tidak mau membuat definisi. Karena itu akan membatasi. Toh, aku sendiri juga tidak suka diberi label. Cross cutting knowledge, perasaan, dan pengalaman tidak cukup hanya dibungkus dalam satu definisi. Itu terlalu menyederhanakan. Itu membuat kerdil.

Ruang ini yang dulu aku namai sebagai blog sang peziarah, dimaksudkan untuk berbagi kepada sesama peziarah lain yang masih sama-sama bergerak, berjalan, dan berefleksi tentu kali ini aku maknai bukanlah sebagai sebuah penamaan, namun sekadar menjadi arah dasarnya. Jadi, jangan harapkan bisa menemukan sebuah kesimpulan.

Apa yang tersaji di sini, sesungguhnya hal itu adalah sesuatu yang masih terbuka. Masih bisa direvisi, bisa jadi keliru. Karena, bisa jadi, dalam perjalanannya, sang peziarah menemukan makna baru dan berani mengganti makna yang lama.

Ya, peziarah selalu membutuhkan arah. Tanpa itu, dia bisa jadi hanya seorang petualang. Bertualang dan berziarah memang sama-sama memiliki kekuatan serta hasrat untuk mencari dan menemukan sesuatu. Namun, seseorang akan bertualang –hanya– untuk mengejar kepuasan diri sendiri. Sementara seseorang akan berziarah karena ada impian yang dirindukan dan ingin dialaminya sebagai kenyataan. Kesulitannya terletak pada bagaimana mengabstraksi realitas hidup keseharian yang acapkali mengalir sederhana—jauh dari kesan sensasional.

Begitu kurang lebih makna peziarahan dan petualangan yang pernah aku terima dari seseorang peziarah juga yang kini telah mengisi litani doa-doaku. Justru, ketakutan utamaku bukan pada tantangan apa yang akan terjadi selama perziarahanku selanjutnya. Ketakutanku hanya satu, aku hilang arah. Aku tiada bermimpi lagi.

Di sana, aku mengakui membutuhkan kawan yang bisa dipercaya. Yang setidaknya bisa saling mengingatkan jika aku lupa. Memberi semangat ketika aku jatuh. Siapa pun itu orangnya, aku akan memberi kasih, kasih dari sesama peziarah. Kasih itu bisa jadi hanya sebuah bentuk kunjungan, jamuan sederhana, percakapan yang menantang, atau bisa jadi candaan yang kelewatan. Tapi tentu, tiada noda setitik pun yang ingin menjatuhkan dan mempermalukan.

Tulisan singkat ini adalah tulisan pembaruan semangat, terutama untuk diriku sendiri. Yang kadang terlalu silau dengan hal-hal besar dan sensasional. Pada akhirnya, yang kecil dan lembut mengalir dan hanyut. Tidak, aku tiada mau lagi mudah tergoda. Aku harus menjadi peziarah yang tetap meneruskan langkah. Menemukan cinta sesungguhnya.  Ya karena cinta itu adalah milikku, milik kita.
Post a Comment