Pages

IHRBA

Kompetisi Hamblogger

Monday, March 15, 2010

Fungsi Nuklir Itu Sendiri Dalam Krisis Misil Kuba


Pada 22 Oktober 1962, John F Kennedy tampil di televisi nasional mengumumkan bahwa Soviet telah menempatkan nuklir di Kuba. Dengan nada yang dramatis, berdasar foto pengintaian dari CIA tentang peletakan nuklir. Duta besar Adlai Stevenson kemudian mempresentasikan hal ini ke PBB, telah datang di tengah-tengah masa 13 hari paling berbahaya dalam sejarah dunia. Kennedy mengumumkan sebuah blokade laut dari pulau dan memperingatkan konsekuensi dari perang nuklir di seluruh dunia yang bahkan buah-buah kemenangan akan menjadi abu di mulut kita .



Setelah invasi teluk Babi, Castro menjadi semakin yakin kalau AS tidak akan menghentikan usahanya menghancurkan revolusinya. Khrushchev, untuk bagiannya, menginginkan untuk mencobai keberanian Kennedy dan menyiapkan sebuah serangan psikologi dan strategi penyeimbangan untuk penggelaran rudal AS ditujukan pada Rusia dari pangkalan-pangkalan Amerika di Turki dan Italia. Untuk mengulur-ulur waktu untukmencapai kesepakatan, AS memblokade perairan Kuba untuk mencegah pengiriman material lebih lanjut dari Soviet. Meski pihak berwenang Kuba menilai pergerakan ini sebagai sebuah tindakan perang oleh Imperialis AS, banyak lagi yang dipertaruhkan daripada nasib sebuah pulau kecil. Antara 22-28 Oktober, gedung Putih dan Kremelin memainkan kartu startegis. Militer kedua Negara melakukan agitasi untuk memancing terjadinya serangan, pihak AS di udara, dan Soviet di darat. Di titik ini, Castro yakin serangan yang massif sudah dekat, dia menulis surat kepada Khrushchev bahwa harus dibuat sebuah tindakan pendahuluan untuk membuat AS menyerang Soviet, satu langkah yang mungkin adalah Soviet mendahului dengan menembakkan rudal pertama.

Ketegangan mencapai puncaknya ketika Soviets menembak jatuh pesawat pengintai U-2 yang terbang mengelilingi Kuba pada 26 Oktober, ini adalah hari paling berbahaya dalam krisis ini .

Makalah ini khusus menjawab bagaimana peran senjata nuklir itu sendiri dalam krisis misil Kuba? Apakah dia digunakan sebagai alat untuk meraih kemenangan dalam perang nuklir antara dua blok? Ataukah nuklir hanya sekadar media untuk tujuan-tujuan lain? Apa saja kepentingan di balik krisis misil Kuba ini?

Realisme Klasik
Dalam makalah ini, penulis akan menggunakan paradigma neorealis untuk menganalisis kasus ini. Karena, pada saat terjadinya krisis misil Kuba, sistem dunia adalah bipolar, sebuah sistem yang diyakini oleh kaum neorealis sebagai sistem keamanan internasional paling ideal. Namun, untuk memahami filosofi dasarnya, penulis sengaja menyertakan pemikiran realism klasik sebagai fondasi dasar neorealisme.

Pendekatan Realis adalah pendekatan yang dominan berkembang pada masa perang dingin. Realis menggambarkan hubungan internasional sebagai pergumulan untuk meraih kekuasaan di antara kepentingan nasional negara-negara dan digeneralisasikan sebagai pendekatan yang pesimistik dalam menghapuskan konflik dan perang.

Pendekatan ini mendominasi pada masa perang dingin karena realis memberikan penjelasan yang simpel, tetapi dengan penjelasan yang powerful tentang perang, aliansi, imperalisme, rintangan dalam berkerjasama dan fenomena masalah internasional lainnya. Dan dikarenakan untuk memberikan penekanan terhadap kompetisi. Realis secara konsisten terus menyoroti perseteruan antara AS dan Uni Soviet .

Pendekatan Realis klasik yang dipelopori oleh Hans Morgenthau dan Reinhold Niebuhr, percaya bahwa negara seperti halnya manusia, memiliki sifat dasar untuk mendominasi satu sama lain, yang akhirnya berujung pada perang. Morgenthau menarik kesimpulan bahwa sistem dunia multipolar merupakan bentuk terbaik dari balance of power suatu sistem, sedangkan rivalitas antar dua kekuatan (bipolar) merupakan suatu sistem yang berbahaya.

Realisme klasik memandang sifat negara tak ubahnya sifat dasar manusia yang pada dasarnya mau menang sendiri (selfish) dan serakah. Realisme klasik melihat individu (pria dan wanita) secara alami adalah binatang politik. Mereka dilahirkan untuk mengejar kekuasaan dan untuk memperoleh hasil dari kekuasaan. Manusia adalah animus dominandi (haus akan kekuasan), demikian kata Morgenthau .

Bagi kaum realis, negara (state) adalah aktor utama dalam hubungan internasional, sekaligus menekankan pada hubungan antarnegara (interstate relations). Negara dalam konteks ini diasumsikan sebagai entitas yang bersifat tunggal (unitary) dan rasional. Maksudnya adalah bahwa dalam tataran negara, perbedaan pandangan politis telah diselesaikan hingga menghasilkan satu suara, sedangkan negara dianggap rasional karena mampu mengkalkulasikan bagaimana cara mencapai kepentingan agar mendapat hasil yang maksimal .

Pemikiran realisme klasik ini mendapat tantangan dari seorang bernama Neal Kenneth Waltz (lahir 1924) dari Columbia University. Waltz menjadi sangat terkemuka di dalam ilmu Hubungan Internasional dengan teori neorealisme atau realisme strukturalnya. Meski demikian, Waltz sependapat dengan realisme klasik di mana konsep kedaulatan negara masih menjadi aspek normatif.

Anarki
Neorealisme memandang keamanan internasional bersifat anarki karena memang struktur internasional yang terdiri atas negara-negara yang berdaulat, dan tidak ada pemerintahan dunia. Sehingga, neorealisme menekankan studinya pada struktur sistem dan distribusi kekuasaan. Karena lahir merevisi realisme klasik, neorealisme memandang aktor-aktor kurang begitu penting sebab struktur anarki inilah yang memaksa mereka beraksi dengan cara-cara tertentu. Struktur atau sitem internasional beserta efeknya, pada dasarnya adalah faktor utama yang menentukan tindakan.

Dalam buku Man, the State, and War, Waltz mendefinisikan anarki sebagai sebuah kondisi atas kemungkinan untuk atau penyebab yang memungkinkan terjadinya perang, memperdebatkan bahwa “perang terjadi karena tidak ada yang mencegahnya”. Anarki mungkin bertahan karena Negara-negara ingin mempertahankan sifatnya yang otonom. Hal ini yang pada akhirnya menjadikan kritik Alexander Wendt –seorang konstruktivisme– terhadap Waltz. Anarki menurut Wendt adalah apa yang negara-negara buat sendiri .
Waltz berpendapat perhatian mendasar Negara-negara adalah keamanan dan kelangsungan hidup. Ia juga menganggap bahwa masalah utama konflik Negara berkekuatan besar adalah perang, dan tugas utama hubungan internasional –di anatara Negara-negara berkekuatan besar– adalah perdamaian dan keamanan .

Fokus Waltz dalam neorealismenya adalah bagaimana menciptakan sistem atau mengoperasikan sistem. Berbeda dari Morgenthau yang banyak mengupas sifat alami manusia, khususnya pemimpin negara, Waltz memandang pemimpin negara adalah sekadar tawanan dari struktur sistem negara dan logika determinasinya yang memberikan petunjuk tentang apa yang harus mereka lakukan dalam menjalankan kebijakan luar negerinya. Argumen ini pada dasarnya merupakan teori determinis di mana strukturlah yang menentukan kebijakan.

Fungsi Dasar Negara Sama
Bentuk dasar struktur hubungan internasional menurut Waltz adalah anarki yang tersebar di antara negara-negara. Negara-negara, serupa dalam semua fungsi dasarnya –disamping perbedaan budaya, ideologi, atau konstitusi, atau personal, mereka harus menjalankan tugas-tugas dasar yang sama. Semua negara harus mengumpulkan pajak, menjalankan kebijakan luar negeri, dan sebagainya.

Karena sifatnya yang sama-sama berdaulat, maka menurut Waltz, masing-masing Negara secara formal “sama terhadap yang lain. Tidak ada yang berhak memerintah, tak ada yang perlu dipatuhi”. Dalam hal ini, norma tentang kedaulatan negara seimbang. Bagi Waltz, semua negara adalah sederajat hanya dalam arti legal-formal. Mereka tidak sederajat, bahkan jauh berbeda dalam hal isi atau material.

Fungsi Negara dalam hubungan internasional adalah untuk memperjuangkan kepentingan nasionalnya, juga menjadi salah satu kajian Waltz. Bedanya, jika Morgenthau percaya bahwa para pemimpin Negara merasa wajib melaksanakan kebijakan luar negerinya dengan mengacu pada petunjuk yang digariskan oleh kepentingan nasionalnya, maka hipotesis neorealisme Waltz berkata bahwa setiap pemimpin akan selalu melakukan hal itu secara otomatis.

Konstalasi Dunia Dilihat dari Power
Waltz dalam bukunya The Theory of International Politics (1979) memberikan penjelasan ilmiah tentang sistem politik internasional. Pendekatannya dipengaruhi oleh model ekonomi positivis. Teori terbaik dalam Hubungan Internasional menurut Waltz, memfokuskan dirinya pada struktur sistem, pada unit-unitnya yang saling berinteraksi, dan pada kesinambungan dan perubahan dalam sistem .

Bagi Waltz, sistem internasional terdiri dari sejumlah kekuatan besar, setiap kekuatan itu mencari cara untuk tetap hidup. Dikarenakan sistem internasional bersifat anarki (tidak ada otoritas sentral yang melindungi suatu negara dari negara lain), setiap negara harus tetap survive dengan caranya masing-masing.

Waltz beragumen bahwa kondisi ini akan menjadikan negara yang lebih lemah menjadi kekuatan penyeimbang (tidak hanya sekedar mengikuti negara yang kuat saja) bagi negara rival yang lebih kuat. Hal ini juga berarti tugas negara-negara kuat adalah menjaga perdamaian dan kemanan dunia. Bertentangan dengan asumsi Morgenthau, Waltz mengklaim bahwa sistem bipolar lebih stabil daripada multipolar .

Negara-negara sangat berbeda hanya mengacu pada kapabilitas mereka yang sangat beragam. Mengutip Waltz, unit-unit negara dari sistem internasioanal “dibedakan khususnya oleh besar atau kecilnya kapabilitas mereka dalam menjalankan tugas yang serupa… struktur suatu sistem berubah seiring dengan perubahan dalam distribusi kapabilitas antar unit-unit sistem”. Dengan kata lain, perubahan internasional terjadi ketika Negara-negara besar muncul dan tenggelam, dan dengan demikian kekuatan akan bergeser. Alat-alat yang khas dari perubahan itu adalah perang negara-negara berkekuatan besar .

Negara berkekuatan besar tentu saja akan lebih menentukan dalam pembuatan dan perubahan sistem internasional. Negara-negar berkekuatan besar adalah mereka yang mengatur sistem internasional. Waltz memahami, Negara-negara berkekuatan besar memiliki kepentingan besar terhadap sistem itu. Untuk itu, dia menilai ketertiban internasional lebih mungkin dicapai melalui sistem bipolar.

Waltz membedakan anatara sistem bipolar saat Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dengan sistem multipolar –yang terjadi baik sebelum dan sesuadah Perang Dingin. Waltz yakin, bahwa sistem bipolar lebih stabil dan karenanya menyediakan jaminan perdamaian dan keamana lebih baik dibandingkan dengan sistem multipolar.

Mengapa sistem bipolar dikatakan lebih stabil dibandingkan multipolar? Menurut Waltz, sistem bipolar bersifat superior dibanding multipolar karena menyediakan stabilitas internasional yang lebih besar. Setidaknya ada tiga alasan untuk menjelaskan stabilitas sistem bipolar. Pertama, jumlah konflik antarnegara berkekuatan besar jauh lebih sedikit, dan hal ini mengurangi jumlah kemungkinan perang antar negara-negara besar. Kedua, lebih mudah menjalankan sistem penangkalan yang efektif sebab lebih sedikit Negara-negara berkekuatan besar yang terlibat. Terakhir adalah kemungkinan salah perhitungan dan salah bertindak lebih rendah. Dengan kata lain, dua super power akan bersaing terus menerus, saling mengoreksi satu sama lain .

”Hanya dengan dua negara berkekuatan besar, keduanya dapat diharapkan bertindak untuk memelihara sistem” kata Waltz .

Strategi Persenjataan Nuklir
Sistem bipolar yang diyakini Waltz lebih menjamin dunia lebih aman harus didukung oleh nuklir sebagai senjata yang mampu menjamin kemanan yaitu karena fungsinya sebagai senjata penghancur missal, yang tentu saja berbeda dengan senjata konvensional modern lain yang dikembangkan setelah perang Napoleon. Tema sentral yang dikembangkan dari Barat adalah konsep penangkalan (deterrence). Inti dari pemikiran tersebut adalah senjata nuklir akan digunakan dengan tujuanmembalas atau serangan lebih awal lawan di mana pembalasan yang akan ditimbulkan tidak sebanding dengan tujuan politik yang ingin dicapai pihak lawan melalui serangan pertama. Karena itulah, senjata nuklir lebih diarahkan untuk serangan kedua karena sifat penangkalannya. Konsep deterrence juga berlandaskan pola doktrin yang dianut Barat yaitu mutual assured destruction yang diartikan sebagai bila terjadi perang nuklir maka kedua belah pihak akan hancur. Karena itulah pengembangan persenjataan nuklir kemudian juga lebih diarahkan kepada tujuan politis daripada tujuan militer secara murni yaitu kemenangan dalam pertempuran. Senjata nuklir kemudian juga digunakan dalam tawar-menawar di bidang politik. Namun, pemikiran itu baru diterapkan AS dab sekutunya ketika mereka tidak memonopoli teknologi tersebut.

AS terkejut dengan keberhasilan Soviet pada masa perang dingin berhasil dalam uji coba senjata balistik antarbenuanya pada 1949 yang diikuti dengan kesuksesan meluncurkan satelit Sputnik pertama pada 1957. Keberhasilan tersebut mengakhiri monopoli kekuatan nuklir AS pad atahun 1945 sekaligus menjadi dasar kepercayaan Uni Soviet untukmengembangkan kekuatan persenjataan nuklir secara besar-besaran hingga mampu bersaing secara ketat dengan AS pada era 60-an dan justru menunjukkan paritas lebih unggul pada dasawarsa 70-an.

Pada saat krisis misil Kuba terjadi, baik di AS maupun Soviet, sama-sama sedang mengembangkan persenjataan nuklirnya. AS meninggalkan starategi massive retaliation (pembalasan secara besar-besaran) yang pada prinsipnya selain digunakan sebagai fungsi penangkalan serangan nuklir terhadap AS, namun juga menangkal setiap bentuk penggunaan kekerasan oleh Negara-negara komunis terhadap Negara lain di dunia.

Strategi tersebut ditinggalkan karena alasan moral dan etik yang mengemuka serta tidak adanya rincian alasan atau dasar yang jelas mengenai kapan nuklir ini akan digunakan. AS kemudian menganut strategy flexible response yang menitikberatkan pada asa keluwesan AS dalam menghadapi ancaman-ancaman keamanan dengan cara menangkal semua bentuk perang baik total maupun terbatas baik nuklir maupun konvensional.

Doktrin yang digunakan adalah counterforce pada tingkat strategis. Doktrin ini menyasar langsung kekuatan militir Soviet dan menjauhkan serangan dari pusat kota yang merupakan pemukiman padat penduduk. Dengan demikian, jumlah korban dari sipil dapat dikurangi. Namun, kelemahan doktrin ini adalah masih menyalahi prinsip mutual assured destruction karena doktrin counterforce masih menggunakan jalan penyerangan pertama. Kemudian, target diarahkan menjadi countervalue yang dihubungkan dengan penyanderaan penduduk dan kota-kota serta kemampuan perekonomian Soviet untuk dihancurkan.

Flexible response menumpukan dirinya pada dua pemikiran dasar. Pertama, dibutuhkan suatu kekuatan nuklir strategis yang memadai guna menangkal kekuatan nuklir Uni Soviet yang sengaja melakukan serangan dengan persenjataan terhadap AS dan sekutunya. Dengan ini, ketangguhan penangkalan terletak pad aprinsip mengenai kehancuran yang meyakinkan (assured destruction) yaitu kemampuan untuk tetap memiliki sejumlah persenjataan strategis yang dapat diandalkan untuk melakukan perlawanan dengan tingkat kerusakan yang dapat diterima bahkan setelah diserang terlebih dahulu. Kedua, karena sifatnya sebagai penangkal, maka penggunaan nuklir harus menjadi jalan terakhir yang bisa ditempuh strategi ini, meski juga harus menangkal serangan yang sifatnya bukan dari nuklir.

Dalam rangka memperkuat startegi ini, AS telah membangun kekuatan strategisnya secara cepat terutama untuk rudal-rudal antabenua dan landas laut. Demikian juga sistem pertahanan antirudal (Anti Ballistic Missile) mengingat Soviet telah melakukan pembangunan besar-besaran di bidang senjata nuklir.

Analisa
Menggunakan paragima neorealis di mana sistem bipolar yang diyakini bisa menjamin sistem kemanan internasional lebih stabil dan melihat bagaimana staregi nuklir digunakan bukan sekadar untuk mencapai kemenangan dalam peperangan melainkan nuklir digunakan demi tujuan-tujuan politik lain, maka kasus krisis misil Kuba ini mudah dibaca cerita akhirnya.

Perang nuklir pun urung terjadi. Pengiriman nuklir Soviet ke Kuba ditujukan bukan untuk tujuan menyerang AS, melainkan sebagai pertahanan Kuba, atau setidaknya bagi Soviet sendiri sebagai dalih demi penyelamatan kepentingan ideologi komunis di Kuba. Namun demikian, AS tetap menganggap senjata-senjata yang dikirim Soviet adalah offensive weapons.

Pada suratnya tanggal 24 Oktober 1962, Nikita Khrushchev terang-terangan menantang Kennedy untuk berfikir dalam cara pandang yang sama, di mana AS tidak bisa melakukan pengehentian pengiriman nuklir di Kuba begitu saja jika dia masih menempatkan rudalnya di Italy, Inggris dan Turki.

Our purpose has been and is to help Cuba, an no one can challenge the humanity of our motives aimed at allowing Cuba to live peacefully and develop as its people desire. You want to relieve your country from danger and this is understandable. However, Cuba also wants this. All countries want to relieve your country from danger. But how can we the Soviet Union and our government, assess your action which, in effect, mean that you have surrounded the Soviet Union with military bases, surrounded our allies with military bases, set up military bases literally around our country, and stationed your rocket weapons at them? This is no secret. High-placed American officials demonstratively declare this. Your rockets are stationed in Britain and in Italy and pointed at us. Your rockets are stationed in Turkey .

Dari pernyataan ini, jelas pihak Kremelin membenturkan apa yang dilakukan AS dengan ancamannya ditanggapi dengan sebuah tantangan ungtuk mau mengoreksi kebijakannya sendiri. Kemudian, Khrushchev melanjutkan penawarannya yang cukup jelas dalam surat tersebut;

We agree to remove those weapons from Cuba which you regard as offensive weapons. We agree to do this and to state this commitment in the United Nations. Your representatives will make a statement to effect that the United States, on its part, bearing in mind the anxiety and concern of the Soviet state, will evacuate its analogous weapons from Turkey. Let us reach an understanding on what time you and we need to put this into effect .

Kennedy akhirnya menanggapi tawaran Soviet;
As I read your letter, the key elements of your proposals--which seem generally acceptable as I understand them--are as follows:
1. You would agree to remove these weapons systems from Cuba under appropriate United Nations observation and supervision; and undertake, with suitable safeguards, to halt the further introduction of such weapons systems in to Cuba. 2. We on our part, would agree--upon the establishment of adequate arrangements through the United Nations to ensure the carrying out and continuation of these commitments--(a) to remove promptly the quarantine measures now in effect and (b) to give assurances against an invasion of Cuba. I am confident that other nations of the Western Hemisphere would be prepared to do likewise .

Pada akhir Oktober, Soviet dan AS memotong kesepakatan satu sama lain kembali pada perundingan meninggalkan Havana. Tanpa menginformasikan pihak Kuba dalam perencanaannya, Soviet setuju untuk mengembalikan rudalnya sementara AS juga mencabut rudalnya di Turki. Sisi lain perundingan yang menarik adalah, Khrushchev meminta dengan hormat kepada AS untuk menghentikan kekerasan di perbatasan dan menghargai kedaulatan Kuba serta berjanji untuk tidak menginvasi Kuba .

Intinya, Kennedy sepakat untuk tidak menginvasi Kuba, tidak akan melemahkan pemerintahan Castro. Selain itu, Amerika Serikat dan Soviet tidak memedulikan pemerintah Castro, serta menetapkan "Lima Poin" untuk mencegah krisis seperti di masa mendatang: sanksi ekonomi, mengakhiri kegiatan rahasia, mengakhiri semua serangan udara, mengakhiri semua perkelahian di atas wilayah udara Kuba, dan kembalinya pangkalan angkatan laut Guantanamo .

Akhir krisis ini membawa kelegaan. Bagi Kennedy, adalah sebuah momentum politik yang dasyat dan penguatan geopolitik. Di mana, Kennedy sukses dalam mengusir Soviet untuk memulangkan rudalnya. Bagi Soviet, juga demikian, dia bisa mengkaliam kemenangan melawan AS dengan melucuti nuklirnya di Turki. Sementara, bagi Fidel Castro, dia hancur dalam menemukan posisinya sendiri, dia digunakan sebagai alat dalam Perang Dingin, pergi tanpa suara dalam resolusi konflik .

Kesimpulan
Krisis misil Kuba yang menjadikan dunia berada di ujung tanduk perang nuklir lewat ketegangan 13 hari di bulan Oktober 1962 membuktikan bahwa dua Negara superpower tidak mudah bagitu saja menggunakan kekuatan nuklirnya. Mereka menyadari sebagai Negara yang memiliki teknologi nuklir, justru memegang kunci penting dalam menjaga perdamaian dunia. Di titik ini, neorealis yang melihat sistem bipolar akan lebih stabil untuk menjaga keamanan internasional terbukti benar.

Jalan damai yang ditempuh Khrushchev dan Kennedy melalui korespondensi surat-menyuratnya membuktikan kembali kekuatan neorealis yaitu meski mereka bisa saja dengan mudah menggunakan kekuatan nuklirnya karena situasi yang sudah sangat mendesak disertai dengan ancaman dari kedua belah pihak, ketegangan dan gesekan sudah semakin mencapai titik kulminasi paling tinggi, tetap saja, aktor-aktor tersebut adalah aktor yang rasional. Mereka pasti belajar dari pengalaman Hiroshima dan Nagasaki serta menghitung dengan cermat resiko apa yang akan terjadi ketika mereka menuruti emosi sesaat baik di pihak AS maupun di pihak Soviet yang terus disulut oleh Castro.

Menurut John Mueller dalam tulisannya Deterrence, Nuclear Weapons, Morality, and War, dia ikut mempopulerkan istilah deterrence by reward atau positive deterrence .

Apa yang terjadi selama krisis misil Kuba, nuklir kedua belah pihak digunakan untuk mendapatkan reward dari masing-masing pihak. Kepentingan AS adalah menyingkirkan misil-misil dari Kuba yang jaraknya hanya 90 mil dengan Miami. Sementara, hal yang sama juga terjadi di pihak Soviet, pengiriman nuklirnya ke Kuba mendatangkan berkah melimpah, yaitu dilucutinya nuklir AS di Turki, dibebaskannya Kuba dari invasi militer dan AS tidak diperkenankan mencampuri lagi urusan rumah tangga Kuba. Kedua belah pihak mengklaim hal ini sebagai sebuah kemenangan yang gilang-gemilang.

Sementara Kuba adalah pihak yang pada akhirnya menelan pil pahit karena tujuan nasionalnya mendapat dukungan penuh dari Soviet dalam melawan imperialis AS menguap tanpa jejak. Sanksi dari AS berupa embargo ekonomi menjadi ‘hukuman abadi’ Kuba. Kuba menjadi alat dalam krisis misil ini bagi dua kepentingan besar superpower.

Meski demikian, Castro adalah sosok yang penuh integritas terhadap ideologi yang diyakininya benar. Dia tetap tidak tunduk dan terus tidak percaya bahwa AS tidak akan campur tangan terhadap apa yang terjadi di negaranya. Bagi Castro pilihanya cukup jelas Socialismo o Muerte (dari bahasa Spanyol: sosialisme atau mati).


Post a Comment