Pages

Monday, August 12, 2013

Misi yang Tak Disengaja

Bulan jingga merona melintas kembali. Dia seolah ingin mengajakku sejenak menjumpai kembali sejumput perasaan. Perasaan yang dahulu pernah aku titipkan pada bulan jingga merona. Sembilan belas hari jelang lima tahun tepatnya. Saat itu, rembulan menjadi satu-satunya saksi mata, tentang sejumput perasaan dan cerita yang muncul sepanjang jalan dari negeri batas senja.

Lima tahun pun berlalu. Cepat. Benih-benih perasaan antara aku dengan seorang gadis dari batas senja telah bertumbuh. Penuh dinamika. Hidup. Dan sampai saat ini survive. Rasanya, tiada satu kalimat pun yang cukup untuk mengungkapkan rasa syukurku. Barangkali, hanya bulan jingga merona itu, yang tahu bisa menggambarkannya, dengan caranya sendiri.


Perasaanku waktu itu, disambut dengan untaian kalimat sederhana. Dari gadis batas senja kudapati sepenggal kalimat ini, “Maka bulan jingga pun berpamitan, diucapkan sebuah kata penutup. Bukan ucapan selamat tinggal tetapi ‘sampai jumpa’”. Katanya kembali, "Sampai jumpa di seberang sana dengan selamat yah, karena keteguhan hatilah yang akan membawa kalian selamat sampai di sana, di sebuah bukit kebahagiaan bernama cinta".

Rasanya jawaban sederhana untuk semua perasaan dan persoalan yang aku titipkan lima tahun lalu pada bulan jingga merona sudah kuperoleh: keteguhan hati. Hanya dengan itu, menurut gadis batas senja, kita akan sampai pada sebuah tempat di mana kebahagiaan buah dari cinta berada. Aku percaya saja. Meski, harus kuakui, aku kerap terjatuh dalam menghidupkan dua kata itu. Dan ketika terjatuh, aku pun bangkit. Dan langkahku semakin kuat dan mantap. Tapi aku tidak mau menceritakan hal-hal itu pada bagian ini.

Ya. Lima tahun aku mencoba menghidupi dua-kata itu. Dan, kata-kata itulah yang barangkali bisa menghantarkanku sampai sejauh ini. Maksudku, bukan hanya aku, tetapi aku dan gadis itu.

Persoalan menghidupkan nilai –di sini adalah keteguhan hati, yang berasal dari tempat ideal nun jauh di sana, ke dalam kehidupan riil bukanlah persoalan sederhana. Ia tidak bisa berjalan sendiri, melainkan harus ditopang dengan sebuah nyali berani untuk melangkah dan mempertanggungjawabkan setiap resikonya. Pilihan dan niat itu sudah aku buat. Aku sampaikan melalui sepucuk surat tentang bulan jingga merona.

Lima tahun lalu, dalam sebuah persentuhan, aku bersama gadis batas senja menjalani sesuatu yang biasa saja, sesuatu yang hampir setiap kawula muda merasainya. Namun nyatanya, antara aku dan gadis batas senja, tidak sesederhana itu persoalannya. Hubunganku menuai tantangan demi tantangan. Yang dari sanalah, lahirlah sebuah misi. Misa yang tidak disengaja. Misi, yang cukup sederhana bila diungkapkan; “Semoga tak ada lagi cinta yang terhalang oleh apa pun di muka bumi ini” (lihat Bulan Jingga).

Begitulah kata-kataku. Lima tahun lalu. Tiada kuubah sedikitpun. Aku percaya, perjuangan seorang, dua orang, atau pun banyak orang untuk satu tujuan kemanusiaan tertentu, adalah perjuangan kemanusiaan seluruhnya. Aku harus percaya diri di bagian ini. Jika tidak, mudah sekali mereka –yang anti-kemanusiaan, dengan mudah akan menertawakanku.

Saat ini aku berbicara tentang kemanusiaan. Aku sebagai manusia, beginilah argumenku tentang esensi kemanusiaan. Latarbelakangnya adalah kisah asmaraku dengan gadis batas senja. Tetapi, setiap hubungan antarmanusia, membutuhkan rasa kemanusiaan. Bahkan, kini berkembang pesat di negara-negara yang lebih menghargai kemanusiaan, mereka lebih mencintai kehidupan seluruhnya; tidak sekadar hubungan antarmanusia, tetapi penghargaan atas seluruh mahluknya.

Rasa kemanusiaan. Rasa itu, nalurinya selalu mendamba kebahagiaan. Yang, oleh manusia-manusia sendiri, dibuat seolah-olah menjadi milik sebagian kelompok saja. Kebahagiaan bersyarat. Jadi, begitulah kira-kira bangunan usang antar-manusia masih kuwarisi dan kuhidupi. Ia walau usang, masih tetap kokoh berdiri. Banyak pendukungnya, dan mereka adalah manusia-manusia yang “ternama”.

Di titik itulah perasaan syukur pertamaku bisa kuungkapkan. Aku, ditemani seorang gadis batas senja yang terkadang terlihat rapuh, namun dalam dirinya menyimpan sebuah nyali pemberani. Dan saat ini aku baru menyadari, hal itulah yang aku paling suka.

Setiap ayunan langkah kita berdua, bukanlah perkara sederhana. Tetapi, aku tidak mau mendramatisirnya di sini. Sebenarnya, bisa dilihat biasa-biasa saja. Karena, kebiasaan dan budaya memendam persoalan juga masih diwariskan dari generasi ke generasi. Ia takut dengan konflik. Trauma. Bangsa ini sudah terlalu banyak cerita penguasa yang haus nyawa. Pertumpahan darah di mana-mana. Barangkali dari sana, kebiasaan memendam persoalan menjadi sebuah budaya. Ditahan saja, tak usah diucapkan. Dan, lama-kelamaan, ia akan menjadi bom waktu yang siap meledak jika, apa yang ditahannya terkonfirmasi di lapangan. “Tuh kan… gue bilang juga apa!”

Singkat cerita, lima tahun berlalu. Benih perasaan itu bertumbuh. Ia mulai menunjukkan dirinya. Belum mekar memang. Tetapi, kuncup-kuncupnya sudah menjulur, kentara di antara tanaman-tanaman lain di suatu taman bunga. Dengan modal menghidupi dua kata itu, aku dan gadis batas senja ingin lebih jauh masuk ke dalam hubungan terdalam antar-manusia: perkawinan.

Sederhananya, gadis batas senja adalah manusia yang mendamba kebahagiaan, sedangkan aku, sebagai peziarah, adalah pendamba keberartian. Dalam tarik menarik antara pilihan untuk menjadi bahagia –yang pada hakikatnya adalah insting alami, dan menjadi seseorang yang berarti bagi masyarakatnya bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Ia bukan lawan kata. Bisa disatukan. Bisa dikawinkan.

Bahagia dan berarti, bisa jalan bersama-sama. Aku memaknainya dengan mengusahakan yang esensi adalah perjuangan untuk keberartian, untuk sebuah peradaban dan untuk peningkatan rasa kemanusiaan itu sendiri. Yang esensi itu, bagiku adalah cinta tak bersyarat. Persis seperti yang aku tuliskan kepada bulan jingga. Cinta yang tak mengenal perbedaan. Equality.

Cinta sederhana antara aku dan gadis batas senja, sedang bertumbuh, mengusahakan apa yang disebut sebagai sebuah peningkatan hidup. Tentang sebuah peningkatan hidup, dalam “Eleven Minutes” Paulo Coelho berujar, “Namun kalau kita bicara tentang peningkatan hidup, hendaknya dipahami bahwa sesuatu yang "cukup indah" tentu jauh berbeda dengan "yang terindah".

Bulan purnama terakhir setelah lima tahun yang lalu ketika ia menjadi jingga merona!
Post a Comment