Pages

Saturday, July 28, 2007

Benih Globaliasasi Ditanam Di Atas Genangan Darah

Bayangkan apa yang sedang terjadi di dunia tempat kita hidup dan bebrpijkak saat ini; Golden Sachs, perusahaan penanam modal yang memiliki karyawan sebanyak 161 orang, keuntungan bersihnya mencapai $ 2,2 juta per tahun. Jumlah itu, sama dengan pendapatan perkapita Tanzalnia yang berpenduduk 25 juta jiwa. General Motors memiliki asset yang lebih besar dibanding Denmark. Ford lebh besar dari Afrika Selatan. Dan untuk mempromosikan Nike, pegolf Tiger Woods dibayar lebih tinggi dibandingkan upah seluruh buruh yang membuat produk Nike di Indonesia.
Dunia tempat kita berpijak saat ini, memiliki penguasa baru. Batas-batas negara bukan sudah tidak lagi menghambat mereka untuk menjalankan misinya. Sebagai gambaran, wujud penguasa itu terfragmentasi dalam sebuah ilustrasi di atas.
Film garapan wartawan Australia, John Pilger berjudul The New Rulers of the World, mempertontonkan dengan gamblang para penguasa baru itu berakting di sebuah negara yang bernama Indonesia.
“Ratusan tahun lamanya, Indonesia itu dihisap oleh negara-negara utara. Bukan hanya Indonesia semua negara-negara kulit berwarna. Sehingga barat menjadi kuat, menjadi makamur, menguasai keuangan dan perdangangan. Sampai sekarang! Sekarang didikte oleh IMF dan Bank Dunia. Negeri yang begini kaya diubah menjadi Negara pengemis,” kata Pramoedya Ananta Toer di awal film itu.
Penguasa baru itu tak lain adalah korporasi-korporasi raksasa yang menjalankan bisnisnya lintas negara atau yang biasa kita sebut Multi National Corporations (MNC). Dengan kekuatan modal yang dimilikinya, ia mampu membuat aturan main baru dalam tata hidup bersama. Hanya dengan 200 perusahaan, seperempat kegiatan ekonomi dunia sudah dapat dikuasai.

Dalam film itu digambarkan bagaimana globaliasasi digambarkan mulai dari ia pertama kali menancapkan kukunya di Indonesia. Awalnya, mereka membantu menggulingkan sebuah pemerintahan yang pro-rakyat. Dan mendukung sebuah kekuasaan korup dan menghamba modal. Lebih dari satu juta jiwa dikorbankan pada medio Oktober 1965.
Kerjasama apik juga dibangun dengan media-media nomor wahid di muka bumi ini. Waktu itu, tak satupun media yang menulisnya sebagai sebuah kejahatan kemanusiaan. Tapi, sebagai peristiwa demi keuntungan ekonomi barat. Time menulis, “Balas dendam dengan senyuman”. Media lain menulis, “Seberkas cahaya redup di Asia”.
Tak lama sesudah tragedi itu tepatnya tahun 1967, di Jenewa, Swiss diadakan sebuah pertemuan internasional. Temanya adalah, “Pengambilalihan bisnis di Indonesia”. Hadir di sana, David Rockefeller, Chase Manhattan, serta wakil dari perusahaan-perusahaan raksasa seperti; General Motor, British Cyeland, ICI, British American Tobacco, Leman Brothers, American Express, dan pengusaha-pengusaha minyak. Delegasi Indonesia datang atas perintah Soeharto.
Pertemuan itu berlangsung selama tiga hari. Hari pertama, delegasi Indonesia memberikan uriannya mengenai potensi kekayaan Indonesia. Hari kedua, adalah tanggapan audiens dengan membentuk lima divisi. Pertama, divisi sektoral, kedua divisi pertambangan, ketiga divisi jasa makanan, keempat divisi industri ringan dan terakhir divisi perbankan dan keuangan.
Di hari ketiga mereka menyusun agenda untuk menentukan persyaratan untuk masuk ke sebuah negara. Bahkan, infrastruktur hukum dibangun untuk melindungi kepentingan investasi mereka.
Jeffery Wiwers, dari universitas Northwestern kagum dan mengaku belum pernah melihat fenomena seperti apa yang terjadi di Swiss tahun 1967 itu. Di mana, pengusaha dari berbagai negara berkumpul, untuk Dari situ barulah mereka menyusun kebijakan yang menguntungkan mereka.
Dalam babak awal globalisasi, inilah yang disebut para penguasa baru itu sebagai “Awal yang baik bagi globaliasasi”. Ya, itulah kata mereka para penguasa-pengusa baru itu. Sebuah awalan yang mereka sebut ‘baik’ karena globalisasi ditanam di atas genangan darah.
John Pilger dalam film itu juga melakukan investigasi di mana ia mengaitkan sebuah tragedi berdarah yang pada akhirnya menggulingkan sebuah pemerintahan dengan berbagai kebijakan-kebijakan ekonomi yang dibuat oleh IMF dan Bank Dunia.
Dari situ, Pilger menangkap persoalan hutang yang menimpa negara-negara dunia ketiga. Ia mengajukan satu pertanyaan kepada seorang ekonom Bank Dunia. Bagaimana jika separuh pendapatan perkapita negara dunia ketiga dibelanjakan untuk membayar bunga hutangnya kepada Bank Dunia dan IMF?
Penghapusan hutang menjadi pangkal permasalahan yang harus menurut Pilger harus diselesaikan. Namun, apa jawaban ekonom itu, jika hal itu dilakukan, maka Bank Dunia atau IMF akan bangkrut. Karena hal itu tidak saja terjadi di Indonesia, tapi hampir di seluruh negara dunia ketiga.
Begitulah sekilah wajah penguasa-pengusa itu. Sosialisme menjadi idologi para kaplitalis. Sementara kapitalisme ada bagi si miskin. Anak-cucu si-miskin harus memikul hutang dengan pencabutan subsidi yang seharusnya diperuntukkan bagi pendidikan, kesehatan dan berbagai kebutuahan sosial mereka.
Ke depan, jurang pemisah antara si-kaya dan si-miskin akan terus dipelihara. Pilger berhasil menemukan dokumen US Space Command vision 2020. di sana, diungkap, hanya kekuatan militerlah yang dapat melindungi kepentingan kapitalisme.
Yang sangat menarik dari film itu adalah pesan Pilger terakhir. Ia menutup semua uraiannya dengan sebuah optimisme. “Karena bukan berasal dari Tuhan, maka hal itu bisa diubah”.
Post a Comment