Pages

Monday, July 30, 2007

MENYUSUR KAWASAN PECINAN LAMA, MENGUAK POLITIK ADU DOMBA

Menyusuri jalan-jalan sempit dan pengap di kawasan Pecinan Lama - Glodok, Jakarta Barat pada suatu siang bolong di hari Minggu, sama juga seperti menyusuri lika-liku serta panas teriknya kehidupan etnis tionghoa di Indonesia.
Sikap penguasa negeri ini terhadap etnis berkulit kuning, ikut menentukan pasang-surutnya gelombang kehidupan mereka.
Bersama dengan teman-teman Komunitas Agenda 18, sampailah kami pada sebuah klenteng berusia lebih dari 350 tahun di Jalan Kemenangan III. Kim Tek Ie, itulah nama yang diberikan oleh pendirinya, Kapitein Oei Tjhie.
Dalam bahasa Indonesia kata Kim Tek Ie berarti; Kelenteng Kebajikan Emas. Hal itu dimaksudkan untuk mengingatkan manusia agar tidak hanya mementingkan kehidupan materialisme tetapi lebih mementingkan kebajikan antar manusia.
Etnis Tionghoa di Jakarta
Sejak zaman dulu, wilayah yang saat ini disebut Jakarta sudah dikenal sebagai kota perdagangan. Banyak orang dari berbagai penjuru dunia mengadu nasib di sini. Tentu saja, Jakarta menjadi kota yang kaya akan etnis dan bahasa.
Fa Hien (seorang misionaris Buddha asal Cina, sekitar tahun 414 masehi) mencatat, dalam berita Cina, mereka sudah menjalin hubungan dengan kerajaan To Lo Mo (Taruma Negara). Ia juga mencatat, telah ada penganut agama Buddha di pulau Jawa, walaupun masih dalam jumlah yang tidak banyak.
Baru, pada abad ke-12 sampai abad ke-16 perdagangan di pelabuhan Kalapa menjadi sangat ramai. Orang-orang Cina yang menjadi pedagang dan tinggal di Kalapa mendapat jaminan perlindungan dari Kaisar Ming.
Semasa kedudukan VOC, mereka mendesain Jayakarta menjadi BataviaJakarta tempo dulu – sebagai kota heterogen. Jan Pieterzoon Coen mengajak Siauw Beng Kong salah seorang tokoh Cina di Banten, pada Oktober 1619 beberapa bulan setelah Coen menguasai Jayakarta (30 Mei 1619) membangun Batavia. Maka, Siauw Beng Kong diangkat sebagai Kapiten Der Chinese.
Bersama orang-orangnya, Siauw Beng Kong mendapat hak khusus untuk menempati perkampungan khusus etnis tionghoa di Glodok.
Komunitas Cina ditempatkan pada sebelah Selatan kasteel yang kini dikenal dengan kawasan Pecinan Glodok, Toko Tiga Seberang, Patekoan atau Jalan Perniagaan, Pasar Pagi Lama, Pancoran dan Petak Sembilan. Mereka bebas melakukan ritual keagamaan dan meneruskan tradisinya. Seperti perayaan Imlek, Cap Go Meh, Peh Cun, Barongsai dan Liong. Arsitektur rumah-rumahnya pun dibolehkan memuat gaya Mandarin.
Dibolehkannya komunitas Cina melakukan ritual keagamaan, maka dibuatlah klenteng (rumah ibadat penganut Budha). Satu di antaranya adalah klenteng Kim Tek Ie.
Tragedi 1740
Sejarawan Betawi Alwi Shahab (69), dalam bukunya “Robin Hood Betawi”, tragedi ini bermula dari isu pada bulan September 1740. Di mana, ratusan –mungkin lebih– orang Cina yang di deportasi Belanda ke Sri Lanka (waktu itu menjadi jajahan Belanda) dilempar ke laut. Mendengar berita ini, orang-orang etnis tionghoa di Batavia menjadi marah. Aksi balas dendam pun dirancang.
Awal Oktober 1740, dengan dilengkapi senjata hasil rampasan tentara Belanda, orang-orang Cina bergerak menyerang kekuatan kecil Belanda di Meesteer Cornelis (kini Jatinegara) dan Tanah Abang. Serangan itu menewaskan lima puluh tentara kompeni.
Kemudian, di bawah pimpinan Jendral Van Imhoff, tentara Belanda melakukan operasi pembersihan. Dengan kekuatan utuh, pertumpahan darah menjadi tak terelakkan lagi.
Pagi-pagi buta, tanggal 9 Oktober 1740, seperti ditulikan Willard A Hanna dalam buku Hikayat Jakarta, “Tiba-tiba, secara tidak terduga, seketika itu juga terdengar jeritan ketakutan bergema di seluruh kota. Dan terjadilah pemandangan paling memilukan dan perampokan di segala sudut kota.”
Gamabaran horor pembantaian itu dipertegas lagi oleh Hanna, “Semua orang Cina tanpa kecuali! Pria, wanita, dan anak-anak diserang. Baik wanita hamil maupun bayi yang sedang menyusu tak luput dari pembantaian yang tak mengenal prikemanusiaan. Ratusan tahanan yang dibelenggu, disembelih seperti menyembelih domba.”
Tragedi itu menewaskan sekitar sepuluh ribu etnis Cina di Glodok. Menurut cerita salah seorang yang tinggal di sekitar klenteng itu, orang-orang yang berhasil lolos dari tragedi itu, mereka lari ke benteng para pejuang Indonesia di Tangerang. Makanya, kata dia, sekarang banyak orang etnis Tionghoa di Tangerang yang disebut Cina Benteng.
Kim Tek Ie juga musnah terbakar dalam tragedi pembantaian Angke. Satu-satunya yang menjadi saksi bisu adalah sebuah altar (meja sembahyang) yang bertuliskan angka 1724.
Roda sejarah
Roda sejarah terus berputar. Siang berganti malam. Rembulan tersenyum dan menghilang. Tahun demi tahun menggelinding begitu saja. Namun, negeri ini tidak juga bisa menyelesaikan persoalan diskriminasi baik atas dasar warna kulit, agama, persepesi politik dan lain-lain.
Pelabelan sepihak kepada satu golongan masyarakat terus dipelihara sebagai investasi politik adu-domba demi tujuan tertentu.
Mei 1998 -kembali- etnis tionghoa menjadi korban kerusuhan yang tak kalah tragisnya dengan apa yang terjadi pada 1740.
Menurut catatan Wilkipedia, isu itu dimulai dari benih kecemburuan yang sengaja diciptakan oleh kelompok-kelompok militer dengan dibantu aktivis-aktivis sesat (geng, Pemuda Pancasila, dll) termasuk kelompok yang meyalah gunakan agama Islam, terus menerus dalam usahanya untuk mempertahankan kekuasaan dengan segala cara.
Pemerkosaan massal, pembakaran, dan perampasan paksa yang terjadi pada tanggal 12 dan 13 Mei 1998 adalah salah satu puncaknya, di mana rakyat jelata (sebagian besar kaum pribumi miskin) diprovokasi oleh tim militer dibawah pimpinan Prabowo Subianto untuk melakukan aksi pengrusakan dan pembakaran di Jakarta dan Solo, menyusul insiden sebelumnya di Medan. Ironisnya, bukan saja kaum keturunan Cina yang menjadi korban dari tragedi ini, namun juga kaum pribumi jelata yang tewas mencapai ribuan karena terpanggang dan aksi brutal polisi.
Pemerkosaan dan pembunuhan massal terhadap perempuan-perempuan keturuan Cina yang meskipun hingga kini oleh politisi/militer dan terutama oleh golongan yang mengaku dirinya pembela Islam, terus menerus disangkal. Padahal, bukti-bukti menunjukkan insiden tersebut benar-benar telah terjadi dan memakan ribuan jiwa.
Pengusutan terhadap tragedi ini, menjadi hanya gincu politik yang tak pernah serius diungkap. Karena, mengungkap tragedi ini ibarat menunjukkan aib dari para penguasa yang sedang memimpin sekarang. Aib tetaplah aib. Seberpa pun rapatnya penguasa menyimpan rapi di almari besinya, tetap saja kebenaran akan tetap berteriak-teriak.

Meminjam kata-kata Seno Gumira Ajidarma, kebenaran itu dapat diungkap salah satunya dengan karya sastra. Karena akar sastra adalah kebenaran. Ketika jurnalisik yang bekerja mengungkap fakta dibungkam oleh penguasa, dibantu oleh para politikus yang menurut Seno kerjanya hanya menutupi fakta. Maka fakta bisa saja tidak terungkap. Namun tidak bagi sebuah kebenaran. Dari situ Seno menulis sebuah buku yang berjudul, “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”.
Akhir Juli 2007
Daniel Awigra
Post a Comment