Pages

Thursday, September 20, 2007

Masihkah Gereja Menjadi Mater et Magistra[1]?

Seri Ajaran Sosial Gereja (ASG) yang saya gunakan sebagai salah saatu acuan untuk diskusi kita pagi hari ini saya terima gratis dari sahabat dan guru jurnalistik saya, Ignatius Haryanto atau Mas Hari. Saat itu, Sabtu, (25/02) di gedung Diknas sekumpulan remaja[2] berkomitmen untuk mempelajari ASG, secara rutin. Bulanan. Mas Hari mengawali studi kita secara umum dan membagikan serial-serial ASG terbitan Secretariat Justice and Peace dan Komisi Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi - KWI.

Untuk pertemuan ketiga, saya mendapat giliran untuk membahas Mater et Magistra (MM). Seperti disinggung di atas, saya juga menggunakan seri ASG tersebut sebagai salah satu acuan. Serial-serial tersebut cukup menarik dan mudah dipahami. Menarik sebab ASG dikemas dalam format yang cukup ringkas serta dihiasi gambar-gambar ilustrasi. Mudah dipahami juga melulu karena sifatnya yang ringkas. Tidak banyak kata. Bisa dikatakan ini metode baru pengemasan dokumen gereja sehingga mudah dipahami dan orang juga tidak merasa takut terlebih dahulu untuk mempelajarinya, karena bahasa yang njlimet dan jumlah halaman yang tebal[3]. Seri-seri tersebut merangkum pokok-pokok pikiran dan sedikit konteks historis dimana dokumen itu dilahirkan.


Saya tidak akan mengomentari terlalu jauh bentuk dari serial-serial ASG ini. Namun, saya percaya bahwa dunia selau tampil berimbang. Di dalam segala kelebihannya yang mudah dipelajari karena ringkas dan menarik, di situ juga sekaligus terdapat kekurangannya. Yaitu, ketidaklengkapan dokumen yang tersaji, sehingga sulit untuk lebih menggali dan akhirnya menemukan pemahaman yang utuh dari maksud diterbitkannya dokumen tersebut. Itu semua sebagai akibat langsung atau konsekuensi dari pengemasannya yang ringkas. Tapi, justru di sana saya merasa ditantang untuk menggunakan bahan-bahan lain sebagai referensi untuk memperjelas serta memperkaya proses studi kita. Kekurangan bahan. Itu masalahnya. Namun, hal ini tidak membuat saya menyerah. Justru, saya jadi ingat kembali semangat awal forum ini. Di mana kita bisa saling berbagi, memperkaya dan melengkapi. Sehingga, satu-satunya harapan saya adalah proses diskusi akan lebih hidup dan dengan itu kita mampu mengerti untuk selanjutnya membatinkan pokok-pokok ASG yang kita bahas.


Beberapa hari menjelang pelaksanaan diskusi, saya mendapat SMS dari 2 teman kita yang ‘paling aktif’ dalam forum ini. Mereka tidak bisa hadir dalam diskusi hari ini karena berbagai hal. Namun, saya juga mendapat konfirmasi dari beberapa teman lain via e-mail dan telepon bahwa mereka akan datang di forum ini, sehingga hal ini menguatkaan semangat saya kembali. Maka, saya ucapkan terima kasih.


Makalah ini terlebih dahulu akan sedikit me-refresh kita pada dua pertemuan sebelumnya. Dimana kita sudah membahas Rerum Novarum (RN) dan Quadragesimo Anno (QA). Keterkaitan yang cukup kuat antar materi inilah yang membuat saya harus menyertakan intisari dari dua pertemuan yang telah kita lalui. Di samping itu, saya juga ingin lebih membawa MM pada kerangka historis yang sedikit akan menyibak babak awal industrialisasi yang mendorong terjadinya imperialisme-modern[4] penyebab bergesernya matra Timur–Barat menjadi Selatan–Utara. Dan lahirlah Dunia Ketiga. Hal ini saya rasa penting mengingat MM lahir menanggapi situasi dunia dengan kesenjangan menyolok antara negara kaya dan miskin. Dengan mempelajari semangat awal, filosofi serta sepak terjang industialisasi dan imperilaisme-modern, saya berharap kita bisa lebih jernih melihat persoalan sesungguhnya.

Lahirnya ASG

Dalam catatan awal buku Diskursus Sosial Gereja karangan Eddy Kristiyanto, OFM, ditulis bahwa Gereja Katolik Roma memiliki tradisi sehat, inspiratif dan sangat kaya berkaitan dengan ajaran sosial[5]. Kalimat ini menunjuk pada satu tradisi dimana pimpinan tertinggi Gereja Katolik Roma atau Paus, membuat ensiklik yang berhasil mengawinkan antara refleksi Kristen yang didasarkan pada analisis sosial dan sikap kritis terhadap perubahan zaman. Sehingga, dari ensiklik itu lahirlah apa yang disebut ASG. ASG juga menyoroti ekonomi, politik, tata susunan dan perdamaian dunia. ASG telah mempengaruhi kebijakan, sikap dan aksi atau tindakan Gereja di dunia, sampai sekearang!


Memang, tidak setiap ensiklik yang dilahirkan adalah merupakan ASG. Jadi ada ensiklik yang menjadi ASG dan ada yang tidak. Sebuah studi yang relatif menyeluruh mengenai ASG dengan mendasarkan diri pada ensiklik-ensiklik para Paus sejak 1740 pernah dilakukan oleh M.J Schuck dalam That They Be One. The Social Teaching of the Papal Encyclicals 1740 – 1889. Pengarang menerapkan kriteria tertentu mengapa sebuah ensiklik termasuk dalam sebuah kategori ajaran sosial, dan yang lain tidak. Di sini, Schuck senantiasa menyertakan kriteria tertentu sebelum melakukan penggolangan atas ensiklik-ensiklik sosial. Hal ini berarti pengerian tentang ASG juga relatif jelas[6].

Berikut, saya akan sedikit me-refresh mengapa kita hari ini berkumpul untuk mempelajari ASG. Pertama, seperti kata Ismartono, SJ dalam kata sambutannya di buku Pokok-pokok Ajaran Sosial Gereja, bahwa Gereja Indonesia lebih merupakan penampilan ibadat dari pada penampilan gerakan sosial[7]. Lebih lanjut dijelaskan, kalau pun ada penampilan gerakan sosial, itu pun masih bersifat sosial karitatip. Hal ini yang menurut saya patut mendapat penekanan lebih dalam forum ini. Sehingga, dengan diskusi ini, bisa mempengaruhi cara beriman kita. Kedua, kita saat ini hidup dalam suasana umum yang tidak menentu menyangkut struktur-struktur sosial misalnya keluarga, tata perekonomian, politik, yang menjadi ajang pertempuran tanpa tapal batas anatara sains, irasionalisme ideologis dan agama[8]. Ketiga, sebagai orang orang muda yang juga bagian tak terpisahkan dari Gereja dan masyarakat, kita dituntut untuk mewujudkan Kerjaan Allah di dunia. Kerajaan Allah di sini saya maksudkan adalah suatu kondisi yang kita usahakan dengan upaya mewujudkan atau menciptakan tata sosial, ekonomi, politik dan budaya yang identik dengan ciri-ciri Kerajaan Allah sendiri, yaitu perwujudan dari tegaknya nilai keadilan, perdamaian dengan dilandasi iman, semangat cinta kasih dan harapan. Sehingga sebagai orang muda kita tidak diam diri dan pasif. Karena, sekali lagi kita adalah bagian yang tak terpisahkan dari Gereja dan masyarakat.

Adalah Paus Leo XIII pada tahun 1891 dalam ensikliknya RN dengan tegas menentang kondisi-kondisi yang tidak manusiawi yang menjadi situasi buruk kaum buruh dalam masyarakat-masyarakat industri[9]. Sehingga, RN adalah tonggak sejarah[10] ajaran sosial Gereja Katolik Roma. Dengan RN Gereja telah meruntuhkan tembok pemisah dimana gereja sebagai institusi mengurung diri terhadap dunia modern. Sikap gereja jelas ditunjukkan lewat RN. Keberpihakkannya pada kaum buruh sebagai korban perubahan sistem dan struktur sosial. Lebih lanjut, dengan berani Gereja yang berpihak tertuang dalam satu kalimat, “Preferential Option for the Poor”.

Memperingati 40 tahun lahirnya RN, diterbitkanlah ensiklik QA oleh Paus Pius XI tahun 1931. Pembangunan kembali tatanan sosial yang ditawarkan lewat QA mengkritik keras penyalahgunaan kapitalisme dan berusaha menyesuaikan pengajaran sosial Katolik dengan keadaan yang sudah berubah[11]. Bidang yang digarap oleh QA adalah melihat kembali dampak RN, perluasan isu-isu sosial ekonomi dan suatu kajian tentang perubahan dalam kapitalisme dan sosialisme modern.

Mater et Magistra (Ibunda dan Guru)


Ensiklik ini lahir untuk mengenang 70 tahun RN. Angelo Roncalli yang menduduki Kursi Santo Petrus tahun 1958 sampai 1963 mengambil nama Yohanes XXIII menerbitkan MM tahun 1961 untuk menjawab keprihatinannya melihat kesenjanan yang menyolok antara negara kaya dan negara miskin. MM ditulis pada saat dunia sedang menghadapi pergolakan besar. Dunia dijejali senjata nuklir. Terjadi perang dingin antara Pakta Wartawa dan NATO. Jadi, Yohanes XXIII menghadapi perubahan yang baru sama sekali dalam sejarah setelah berakhirnya perang dunia kedua. Ensiklik ini merupakan penuntun penting bagi zaman modern. Karena, untuk pertama kalinya ASG mengkaji situasi negara-negara yang belum sepenuhnya mengalami industrialisasi, yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Dunia Ketiga.

Lahirnya Dunia Ketiga pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, dimulai dari perkembangan industri di Eropa Barat khususnya Inggris dan Jerman mengalami revolusi. Yang dengan kehadirannya mengubah banyak hal. Mengubah tata hidup, pergaulan, cara berpikir, dlsb. Perubahan ini ditandai dengan bergesernya industri rumah tangga yang dikelola secara tradisional menjadi industri di pabrik dengan cara modern, menggunakan bengkel dan mesin-mesin industri baru. Industri menjadi kekuatan baru. Di Inggris misalnya, di sana teradapat sumberdaya yang cukup memadai untuk berkembangnya suatu industri. Dengan cepat, produk-produk buatan Inggris merambah keseluruh dunia, dengan cap “Made in Great Britain”. Sedangkan mulai abad ke-20, disaingi oleh barang-barang ber cap “Made in Germany”.

Munculah suatu babak baru yaitu imperialisme modern. Tulisan Soekarno dalam artikelnya yang berjudul “Swadeshi dan Massa – Aksi di Indonesia” di buku Di Bawah Bendera Revolusi, menuliskan dengan panjang lebar revolusi industri dengan imperialisme modern sebagai sarananya untuk mencari pasar-pasar baru untuk memperdagangkan produk hasil industrinya (terutama kepada negara jajahannya). Imperialisme, ia definisikan sebagai suatu nafsu, suatu politik, suatu stelsel menguasai atau mempengaruhi ekonomi bangsa lain atau negeri bangsa lain. Soekarno menuding imperialismelah yang menyebabkan rakyat-rakyat di Asia dan Afrika sampai saat ini terbelakang. Atau saat ini dikenal dengan Dunia Ketiga. Tudingan ini jelas bukan tanpa dasar. Ia menyontohkan apa yang dilakukan oleh Inggris terhadap India, negara jajahannya.

Adalah John Bull yang menjalankan strategi yang menghalang-halangi tumbuhnya industri rakyat India dengan mengadakan bea masuk yang cukup tinggi bagi barang-barang India yang mau masuk ke Inggris. Tapi sebaliknya, bea masuk yang murah bagi barang Inggris yang masuk ke India. Ia juga membuat aturan-aturan pajak yang mencekek leher rakyat India. Sehingga, sebelum 1850, industri di negeri Hindustan telah binasa sama sekali. Itulah cara kerja imperialisme modern. Lain Inggris lain Amerika. Kembali menurut Soekarno, untuk mengenali imperialisme itu ditetapkan oleh warna kapitalisme yang ada di negara tersebut. Warna imperialisme Amerika adalah akibat dari warna kapitalisme di Amerika. Warna imperialisme Belanda akibat dari warna kapitalisme Belanda[12]. Dlsb.

Industrialisasi telah mengakibatkan dunia berjalan penuh dengan ketidakadilan. Saat ini pun dengan mudah kita lihat negara-negara berkembang atau Dunia Ketiga menjadi tempat buat pabrik-pabrik raksasa. Dan warga di sekitaranya menjadi kuli dengan bonus limbah industri yang cukup mebahayakan. Apalagi, banyak dari negara-negara Dunia Ketiga yang juga merupakan negara jajahan Dunia Pertama. Sehingga, Dunia Ketiga ibarat keluar dari mulut singa dan masuk mulut buaya. Industrialisasi telah merubah wajah baru kolonilaisme senjata menjadi kolonialisme baru, yaitu imperialisme modern. Imperialisme modern adalah imperialisme tanpa senjata. Imperiaalisme yang terus mencari keuntungan untuk menambah aset. Sama saja dengan kolonilis senjata, imperialisme baru juga mengorbankan Dunia Ketiga. Bedanya, pelaku imperialis baru adalah korporasi-korporasi raksasa dari negara maju.

Catatan di bawah ini lebih banyak mengambil pati sari dari buku Diskursus Sosial Gereja karangan Eddy Kristiyanto, OFM. Hal ini sengaja saya sampaikan hampir utuh karena cara bertutur Eddy dalam membahasakan ASG cukup menyeluruh dan lebih dalam karena menggunakan metode tekstual dan kontekstual[13]. Serta, sekali lagi keterbatasan sumber bacaan yang seperti telah saya kemukakan di atas. Perhatian MM terhadap Dunia Ketiga, tentu saja dengan melihat kembali perkembangan dunia pasca perang dunia II, dan sedang berlangsungnya perang dingin. Tiga situasi kontemporer yaang membingkai secara historis ensiklik ini adalah; Pertama, penaklukan ruang. Kedua, perkembangan campur tangan negara untuk membagikan kekayaan yang dihasilkan dan menjamin proteksi sosial bagi semakin banyak orang, dan terakhir dekolonilaisasi politik yang membangkitkan kesadaran negara-negara sedang berkembang di Selatan terhadap Utara yang maju.

MM pertama-tama mau menolong dengan memilah-milah dan membedakan serta memberikan orientasi atau cakrawala menurut ajaran tradisional dalam situasi baru[14]. Bidang-bidang utama MM adalah sebagai berikut; Pertama, tinjauan kritis RN dan QA dan pengukuhan prinsip-prinsipnya. Kedua, situasi negara-negara sedang berkembang. Dan ketiga, tanggungjawab kaum awam menyongsong satu dunia yang lebih adil. Intinya, MM ingin mengatasi kesenjangan yang sedang berkembang. Ada juga pandangan yang menyebutkan kalau MM dilatarbelakangi oleh banyaknya pengangguran. Yang menjadi sorotan pokok yaitu; perlunya intervensi negara, tetapi harus dijunjung tinggi prinsip subsidiaritas. Fenomena sosialisasi. Upah yang adil, yaitu adanya partisipasi dalam pembuatan keputusan. MM masih juga menyinggung soal struktur-struktur atau perangkat untuk wadah gerakan buruh. Dan dalam MM juga mengajarkan ulang tentang hak milik.

Aspek-aspek baru yang disoroti dalam MM yaitu masalah sosial yang menyangkut pertanian, suatu sektor yang perlu diperhatikan dalam ikhtiar dan proses modernisasi terutama di negara-negara berkembang. Negara-negara yang sedang berkembang, masalahnya mungkin lebih besar dari zaman modern. Sikap konkret yang harus ditempuh negara kaya. Dan pertambahan jumlah penduduk. Penyelesaian pembatasan tidak dapat diterima demi martabat manusia.

Arahan-arahan dari MM berupa nasehat pastoral, yang praktis antara lain; Menentang ideologi sekuler, menegaskan ulang bahwa dunia manusia itu perlu diatur oleh Allah. Pentingnya doktrin sosial bagi orang-orang Kristen. Perlu diketahui, bahwa ensiklik ini adalah ensiklik terakhir untuk kalangan Kristen.

Beberapa komentar mengenai MM. MM dirasa sebagai legitimasi peranan utama pemerintah untuk mencapai tujuan sosial. Ada pula yang menganggap MM menyingkap keterbukaan pada Kiri. Sejumlah jurnal konservatif di Amerika kecewa terhadap MM. Namun, tidak dapat disangkal, kalau MM adalah puncak dari ASG. Disambut hangat di mana-mana, gaya bahasanya ringan, kerangka sosialogisnya konkret tanpa pernak-pernik filosofis spekulatif.

Akhirnya tahun 1961, Gereja masih ingin menjadi MM. Artinya, menjadi bunda dan pengajar: Terang, kebijaksanaan, dan kekuatan bagi bangsa-bangsa yang berada dalam kesulitan dan penderitaan, seruan pada asal-usul dan akhir adikodrati sejarah ini.

Penutup


Akhirnya, saya ingin merefleksikan ulang MM dalam konteks hidup kita saat ini. Dimana globalisasi dengan neoliberaliasinya menjadi sebuah bentuk kolonilaisme dan imperialisme baru, dengan korporasi-korporasi raksasa sebagai aktor utamanya. Masihkan Gereja (kita sebagai bagian yang tak terpisahkan di dalamnya) menjadi Mater et Magistra?
[1] Makalah ini disampaikan untuk forum diskusi ASG, di Pondok Labu, (23/04).
[2] Dengan kesamaan minat dalam bidang jurnalistik dan tergabung dalam forum penulisan Agenda 18.
[3] Coba bandingkan dengan dokumen Konsili Vatikan II terbitan Obor.
[4] Saya meminjam pemikiran Soekarno dalam Di Bawah Bendera Revolusi.
[5] Lihat, Eddy Kristiyanto, Diskursus Sosial Gereja, hal. xii
[6] Ibid 3, dalam catatan kaki, hal. xx
[7] Lihat, Michael J. Schulteis, Ed P. DeBerri, Peter Henriot, Pokok-pokok Ajaran Sosial Gereja, hal 21
[8] Ibid 3, hal. xx
[9] Ibid 4, hal 21.
[10] Ibid 3, hal xxxi
[11] Seri ASG No. 2
[12] Ibid 2, hal 133
[13] Ibid 3, hal xxii
[14] Ibid 3, hal 68
Post a Comment