Pages

Monday, September 3, 2007

MENYUSUR MARTAPURA


Pawai budaya Bhinneka Tunggal Ika sebagai acara pembuka dari Pertemuan Konsolidasi Bhinneka Tunggal Ika Regional Kalimantan dimulai dengan arak-arakan perahu menyusuri sungai Martapura, Banjarmasin, Minggu (12/8).

Dibuka oleh walikota Banjarmasin, Yudhi Wahyuni pawai budaya ini membawa pesan mempertahankan keberagaman Indonesia. Setiap perahunya diisi oleh masing-masing perwakilan dari berbagai daerah yang memiliki komitmen untuk menjaga Indonesia sebagai negara Bhinneka Tunggal Ika.

“Lihatlah, betapa kayanya Indonesia. Sungguh ini adalah titipan Tuhan kepada kita untuk terus kita jaga dan lestarikan,” seru Nia Sjarifudin dari atas kapal utama yang juga mengangkut Walikota.

Selama menyusur sungai dari Banua Anyar sampai depan Balaikota yang jaraknya sekitar lima kilo meter, digelar berbagai seni pertunjukan berupa alunan musik dan tari-tarian. Lebih dari 15 perahu besar dan kecil menghibur penduduk di sisi kanan dan kiri sungai Martapura yang dilalui arak-arakan perahu.

Perahu dari Sumatra Barat menghiasi perahunya dengan ornamen Minangkabau. Di atas perahu, nampak dua pasang pemuda-pemudi memperagakan pakaian khas pernikahan mereka. Lain dengan perahu dari Bali yang menggelar pertunjukan musik tradisionalnya. Perahu dari Kalimantan Selatan mempertunjukkan tari tradisional Dayak. Begitu juga dari Kalbar, Kalteng dan Kaltim.

Yang menarik adalah di perahu utama, masyarakat etnis tionghoa Kalimantan Selatan meramiakan pawai dengan atraksi Barongsai. Yang lain adalah perahu dari Bima Nusa Tenggara Barat, dan dari Tapanuli. Mereka sejenak merebut perhatian masyarakat pinggir sungai. Luapan kegembiraan penduduk, mereka apresiasikan dengan menebar senyum dan lambaian

Di setiap perahu, dipasang spanduk-spanduk yang merayakan kebhinnekaan. Pesan itu antara lain berbunyi; Semua untuk satu. Satu untuk bersama. Bhinneka Tunggal Ika. Yang berbunyi; Aku beda, Kamu berbeda. Tapi, tanahair kita satu Indonesia. Dan yang lain lagi; Bermacam-macam budaya, beraneka suku dan agama itulah Bhinneka Tunggal Ika.

Setelah rombongan sampai di pelataran bakaikota, gerimis mengguyur ratusan peserta pawai. ”Ini adalah sebuah petunjuk di mana, para leluhur menyertai kita. Mereka gembira melihat ini. Dan puncak dari kebahagiaan adalah tangisan,” kata Ira Indrawardana salah seorang peserta pawai.

Post a Comment