Pages

Tuesday, September 4, 2007

September Ceria

Angin laut itu menyapaku lagi. Mengabarkan kepadaku tentang keadaan ibu-bapakku, adik-kakakku, anjing-anjingku, rumah, desa, dan membisikan sepotong pengalaman cinta bersama seseorang yang sekarang entah ke mana.

Di ujung, kemarau panjang, yang bosan dan menyakitkan. Kau datang mengantar berjuta kesejukan/Kasih kau beri udara untuk nafasku. Kau beri warna untuk kelabu jiwaku/Tatkala butiran hujan mengusikku stiap slalu. Kau hadir di sini di batas kerinduanku/Kasih kau singkap tirai kabut di hatiku. Kau isi harapan baru untuk menyongsong masa depan bersama/September ceria.. September ceria... September ceria.. September ceria, milik kita bersama...

Lagu Vina Panduwinata berjudul "September Ceria" menyela nostalgiaku dengan angin laut itu. Kunikmati iramanya, kurasakan ada sebuah kekuatan yang bukan sekadar rangkaian perpaduan apik antara musik dan lagu. Rasanya, sempurna!

Aku dibuat terhanyut dalam sebuah simponi. Tiba-tiba, tubuhku bergetar. Aku terlempar dalam masa laluku. September ceria adalah lagu wajibku saat memegang gitar. Spontan, jari-jemariku memetik senar sebisanya. Seperti anak-anak berebut kembang gula. Tak ada yang mau mengalah.

September ceria adalah cerita tersendiri dalam hidupku. Yang selalu menjerit saat daun telingaku kembali mendengar lagu itu. Ya... seperti sebuah dejavu.

Tahun ajaran baru saja memasuki minggu kedua. Namun sekolahku ramai dengan berbagai pertandingan antar kelas. Karena, selain ikut merayakan hari Kemerdekaan Republik Indonesia, sekolahku juga merayakan hari ulang tahunnya. Basket, sepakbola, volley, tarik tambang, tenis meja, catur, lomba band, paduan suara, dan ditutup dengan pentas seni pada malam harinya. Mereka saling bersaing unjuk kemampuan untuk membuktikan siapa yang terbaik.

Setiap tahun, masa-masa itulah yang paling ditunggu-tunggu setiap siswa. Tidak ada tugas sekolah maupun pelajaran. Usai memperkuat tim basket kelas memenangi kejuaran basket, aku sengaja menyendiri, duduk di pojok kantin di sudut sekolah. Matahari belum juga tenggelam.

Kantin sepi. Pensil dan buku tulis serta segelas kopi menemaniku. Bu Maryo, penjaga kantin menanyakan keadanku. Waktu itu, aku menjadi asing di hadapannya. Dia mengira, aku sedang mendapat sebuah masalah. "Ah, nggak papa Bu, cuma pengin ngaso (istirahat)," kataku.

Kuayunkan pensil itu di atas lembar-lembar putih. Kutumpahkan sebisa mungkin apa yang aku rasakan dalam untaian-untaian aksara. Aku hanya ingin mengabadikan momen kesendirianku. Namun, yang kutulis bukan itu akhirnya, melainkan sepucuk surat untuk seseorang.

Alangkah terkejutnya saat aku melihat di hadapanku, si dia yang aku tulis di surat itu, duduk persis di depan bangkuku. Dia tidak sendiri, ditemani sahabatnya. Hatiku gemetaran tak karuan. Panas dingin bersamaan. Salah tingkah aku dibuatnya.

Senyum kulemparkan padanya untuk menutupi jelamaan rasa 'cinta' yang sudah tercampur rasa gengsi. Sekelebat kumenangkap senyumku berbalas dari seseorang dengan rambut berombak sepundak, diponi di atas matanya. Dengan bibir merah ranum yang mekar tersenyum. Serta sorot mata sayu menggonda.

Entah sebuah kebetulan atau bukan, September Ceria mengiringi pentas panggung drama cinta dua anak muda yang saat itu belum diketahui akhir ceritanya.
Post a Comment