Pages

Monday, October 13, 2008

Sekalian Aja



Kuta tersenyum lebar melihat aku kembali ke sana. Menggenapi janji yang sudah lama kusauhkan. Janji untuk berkunjung dengan secauk kebahagiaan yang tak lain adalah sejumput perubahan dalam hidupku. Kala terakhir aku ke pantai ini, aku adalah seorang yang penuh dengan lamunan. Dan Kuta mengahmpiriku. Menawarkan secercah keceriaan. Lewat ramai para pengunjungnya, ramah penduduk lokalnya, lewat arak Bali yang kupesan dari seorang sopir yang sekarang entah apa kabarnya.

Ketika mendapatiku dengan air muka yang sedikit berbinar, muka Kuta merah merona. Membara ceria. Sapa selamat datang terdengar berdesir-desir seperti nyanyian sesorang pujangga yang sedang jatuh cinta. Pasir putihnya menyambut kaki telanjangku ramah dan lembut terasa. Bergulung-gulung ombak mengatakan berjuta cerita dari beribu manusia di penjuru dunia.

Kuhargai usahanya menjelaskan sesuatu kepadaku. Pasir pantai berantakan yang dipaksa dikeruk oleh sejumlah orang yang akan menggelar event akbar perhelatan dunia olahraga pantai minggu depan, DJ-DJ café dengan penampilan eksotiknya siap memutar musik-musik asing pada malam panjang ini yang akan menggeser kidung-kidung alam, kisah peselancar yang patah hati ditinggal ombak tercintanya yang lari entah ke mana. Dan masih banyak lagi cerita yang dia sampaikan. Kadang aku tertawa geli, dan sesekali memasang muka masam.

Kupesan barang sebotol kecil bir bintang seharga Rp 15.000,- dari penjaja minuman pinggir pantai. Dan kini dimintanya aku untuk giliran bercerita. Kepadanya, kuceritakan tentang kisah seorang yang sudah dua bulan lewat selalu menjadi lakon dalam mimpi malam-malamku.

Sang surya tampak tertahan. Malas terlihat ia meneruskan pulang menuju peraduannya. Ia masih ingin mendengarkan ceritaku. Aku tak tega melihatnya. Kuucapkan selamat jalan dan sampai berjumpa esok kepadanya. Dan ia pun mengedipkan matanya kepadaku. Karena sesaat sebelumnya, kujanjikan akan tetap menceritkan ini kepadanya lewat sebuah tulisan.

Aku mulai bercerita dengan memilih kata-kata “pada suatu ketika” sebagai pengantar. Kata-kata yang dipakai oleh tukang-tukang cerita dalam dongeng para leluhur.
Pada suatu ketika, saat kakak sulungku sedang merayakan 29 tahun kelahirannya. Waktu itu, aku berada di tengah perjalanan menuju Puputan Badung, Denpasar untuk sebuah pekerjaan advokasi sebuah kebijakan publik. Langkahku sejenak tertahan. Handphone bergetar.

Aku mendapat pesan singkat elektronik dari seseorang gadis dari negeri batas senja. Dalam pesan singkat itu, tertulis “…. menghapus semuanya”. Aku tidak tahu benar apa maksud kata-kata itu. Aku balas pesan itu dan menanayakan kepada gadis dari batas senja itu apa maksud dari kata-kata, “menghapuskan semuanya”.

Gadis batas senja adalah manusia pencinta. Manusia yang dalam setiap tarikan nafas, detak jantung, dan setiap detik waktunya diberikan seluruhnya kepada sesorang yang sungguh dicintainya. Barang siapa yang bisa mendapatkan cinta dari gadis batas senja, berbahagialah dia hidup di dunia. Sampai saat ini, tak satu pun orang mampu menaklukan hati dan cintanya.

Orang tak banyak tahu akan cerita tentang perburuan mendapatkan gadis dari batas senja. Karena di dunia ini sekarang meluap dengan berjuta cerita tanpa makna. Cerita itu sendiri kutemukan dalam sebuah perjalanan ketika aku kembali menyeberang sungai perasaan. Tempat di mana hati sanubari bernyanyi dan menangis. Ruang di mana sukma meraja. Tempat di mana kata hati bisa ditemukan.

Sayangnya, tempat itu kini kadang terasa sangat jauh. Karena menuju tempat itu adalah sesuatu yang sudah tidak lagi menarik dan juga tidak mudah bagi kebanyakan orang-orang, setidaknya yang ada di sekelilingku. Karena, tuntuntan hidup begitu menyiksa. Berat.

Handphone-ku kembali bergetar. Kulihat jam tanganku menunjuk angka 12.47 WITA. Tepat ketika terik matari Bali memabakar hangus kulit ariku, kutemukan jawabannya dari manusia pencinta itu, gadis dari batas senja;

“Karena aku akhirnya memutuskan untuk maju, move on bersama kamu. Ya, seperti yang di blog kemarin, aku juga nggak tahu apa pilihan aku benar/nggak, tapi kalau nggak dicoba ya nggak akan tahu, daripada setengah-setengah, mending sekalian aja”.

Yah… sejujurnya hanya cerita yang belum rampung inilah yang ingin aku sampaikan kepada mega-mega, laut-laut, pasir-pasir, deru ombak, kicau burung, dan kepada sepotong sunset. Cerita tentang gadis batas senja, seorang manusia pencinta yang akhirnya memutuskan untuk maju bersama aku. Walau dia sebenarnya masih bimbang. Apakah benar atau salah pilihannya, maju dan move on bersama aku. Yah, bersama aku.

Aku sungguh sadar, cerita ini yang belum ada tanda titiknya, belum berakhir dan seperti sesuatu yang masih terbuka di bagian ujungnya. Berjuta kemungkinan menghadang di depan sana. Sama persis dengan apa yang dituliskannya, tanpa dicoba tiada tahu cerita akhirnya. Tetapi yang patut digarisbawahi adalah, ucapannya di bagaian ini; daripada setengah-setengah, mendingan SEKALIAN AJA.

***
khusus untuk kebersamaan selama 59 hari bersama gadis batas senja
Post a Comment