Pages

Monday, March 15, 2010

Revolusi Persenjataan Masa Perang Dingin


Oleh: Awigra, Elfitri, Sabriana,

Perkembangan senjata berjalan seiring dengan perkembangan tingkat peradaban manusia. Kalimat tersebut mengandung dua titik tekan, pertama perkembangan senjata itu sendiri dari waktu ke waktu dan kedua hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari situasi (konteks) yang melatarbelakangi dibuatnya senjata tersebut dan untuk kepentingan apa. Bahkan, dalam salah satu sesi kuliah revolusi persenjataan disimpulkan bahwa pencapaian peradaban tertinggi umat manusia justru terfragmen dalam pembuatan senjata, in a matter of survive.

Paper Revolusi Persenjataan Masa Perang Dingin pertama-tama ingin mengupas konteks perang dingin terlebih dahulu untuk kemudian membahas senjata apa saja yang lahir dari situasi Perang Dingin tersebut. Tanpa terlebih dahulu mengupas secara detail mengenai apa-apa saja yang terjadi selama Perang Dingin, pembahasan mengenai persenjataan pada periode tersebut akan kering makna dan jelas akan kehilangan konteks situasi yang melatarbelakangi.

Perang dingin kerap disebut banyak orang sebagai masa berakhirnya perang dunia II sampai runtuhnya tembok berlin pada 1989. Meski tidak ada perang secara langsung antara AS dan Uni Soviet, pada masa perang dingin terjadi beberapa kali perang di negara-negara periphery kedua superpower itu. Perang dingin sendiri berlangsung selama 4 dekade. Dari tahun 1947 sampai 1989. Puncaknya terjadi pada 1947-1963, ketika di sana ada ketegangan negosiasi antara AS dan Uni Soviet.

Menurut Joseph S. Nye dalam bukunya Understanding International Conflict menjelaskan apa yang membuat perang dingin menjadi begitu luar biasa adalah bahwa ada periode ketegangan yang berlarut-larut dan tidak berakhir dalam perang antara dua negara saingan.

Tiga pendekatan Perang Dingin
Masih menurut Nye, terdapat 3 pendekatan dalam melihat Perang Dingin: tradisionalis, revisionis, dan pascarevisionis. Kaum tradisionalis (Juga dikenal sebagai Ortodoks) berpendapat bahwa jawaban untuk pertanyaan siapa yang memulai Perang Dingin berhenti sederhana: Stalin dan Uni Soviet. Pada akhir Perang Dunia II, Amerika diplomasi defensif, sementara Soviet agresif dan ekspansif. Amerika hanya pelan-pelan terbangun sifat ancaman Soviet .

Apa bukti yang mendukung kaum tradisionalis? Segera setelah perang, Amerika Serikat itu mengusulkan tatanan dunia yang universal dan kolektif keamanan melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Uni Soviet tidak mengambil PBB sangat serius karena ingin memperluas dan mendominasi sendiri pengaruh di wilayahnya Eropa Timur. Setelah perang, AS menarik pasukannya, sedangkan Uni Soviet meninggalkan pasukan dalam jumlah besar di Eropa Timur. AS mengakui kepentingan Uni Soviet, misalnya, ketika Roosevelt, Stalin dan Churchill bertemu pada bulan Februari 1945 di Yalta, Amerika keluar dari jalan mereka untuk mengakomodasi kepentingan Soviet. Stalin, bagaimanapun, tidak memenuhi perjanjian mereka, terutama dengan tidak membolehkan pemilihan bebas di Polandia.

Ekspansionisme Soviet dikonfirmasi lebih lanjut ketika Soviet lambat dalam menarik pasukannya dari utara Iran setelah perang. Hanya di bawah tekanan dari PBB, Soviet akhirnya pelan-pelan menarik pasukannya dari sana. Pada tahun 1948, komunis Cekoslowakia mengambil alih pemerintah. Uni Soviet memblokade Berlin pada 1948 dan 1949, berusaha untuk menekan pemerintah Barat untuk keluar. Pada tahun 1950, komunis tentara Korea Utara melintasi perbatasan ke Korea Selatan. Menurut kaum tradisionalis, peristiwa ini secara bertahap membangunkan Amerika Serikat untuk bangun dari ancaman ekspansi Uni Soviet dan diluncurkanlah Perang Dingin.


Kaum revisionis, terutama banyak menulis pada 1960-an dan awal 1970-an, percaya bahwa Perang Dingin disebabkan oleh orang Amerika daripada ekspansionisme Soviet. Bukti adalah bahwa pada akhir Perang Dunia II, dunia tidak benar-benar bipolar - Soviet jauh lebih lemah dari AS, yang memiliki senjata nuklir sementara Soviet tidak. Kehilangan Soviet hingga 30 juta orang, dan produksi industri hanya setengah dari tingkat 1939. Stalin kepada Duta Besar Amerika Averell Harriman pada Oktober 1945 mengatakan Soviet akan berpaling ke dalam untuk memperbaiki kerusakan domestik. Terlebih lagi, kata para revisionis, perilaku eksternal Stalin di awal periode pasca perang cukup moderat; di Cina, Stalin berusaha untuk menahan komunisnya Mao Zedong ketimbang mengambil kekuasaan; dalam perang saudara Yunani, ia menahan laju komunis di Yunani, dan ia membiarkan non-pemerintah komunis ada di Hungaria, Cekoslovakia, dan Findland.

Revisionis datang dalam dua varsi; "soft" dan "hard". Soft revisionis menekankan pentingnya individu mengklaim bahwa kematian Roosevelt pada April 1945 adalah peristiwa yang kritis karena kebijakan Amerika menjadi lebih keras setelah Presiden Harry S. Truman menjabat. Mei 1945, AS secara drastis memotong bantuan program sewa tanah selama masa perang di mana beberapa kapal perang menuju pelabuhan Soviet harus berbalik di midocean. Pada Konferensi Potsdam dekat Berlin pada Juli 1945, Truman mencoba mengintimidasi Stalin dengan menyebutkan bom atom. Di AS, Partai Demokrat secara bertahap bergeser dari tengah kiri dan ke kanan. Pada tahun 1948, Truman memecat Henry Wallace, sekretarisi pertanian, yang mendesak hubungan lebih baik dengan Uni Soviet. Pada saat yang sama, James Forrestal, Truman menteri pertahanan baru, adalah seorang antikomunis yang kuat. Soft revisionis mengatakan perubahan personel ini membantu menjelaskan mengapa AS menjadi sangat anti-Soviet.

Hard Revisionis memiliki jawaban yang berbeda. Mereka melihat tidak masalah dalam individu, tetapi dalam sifat kapitalisme AS. Gabriel dan Joyce Kolko dan William A. Williams, misalnya, berpendapat bahwa diperlukan ekspansi ekonomi Amerika dan bahwa AS merencanakan untuk membuat dunia aman, bukan untuk demokrasi, tapi untuk kapitalismenya. Hegemoni ekonomi AS tidak bisa mentolerir negara semut yang mungkin mencoba untuk mengatur ekonomi otonomi daerah. Pemimpin AS takut mengulang tahun 1930-an karena tanpa perdagangan eksternal, akan ada depresi besar. Marshall Plan ke Eropa hanyalah sebuah cara untuk memperluas ekonomi AS. Soviet benar menolak itu sebagai ancaman terhadap lingkungan pengaruh mereka di Eropa Timur. Meminjam kata-kata William, AS selalu disukai kebijakan pintu terbuka dalam bidang ekonomi internasionalnya karena diharapkan dia bisa berjalan melewatinya.

Postrevisionists muncul pada akhir 1970-an dan 1980-an, tokohnya adalah John Lewis Gaddis, yang mempunyai penjelasan lain. Dia berpendapat, tradisionalis dan revisionis sama-sama salah karena tidak ada yang harus disalahkan siapa yang memulai Perang Dingin. Tidak bisa dihindari, atau hampir jadi, karena struktur keseimbangan kekuasaan bipolar pascaperang. Pada tahun 1939, adalah sebuah dunia multipolar dengan tujuh negara besar, tetapi setelah penghancuran Perang Dunia II, hanya dua negara adidaya yang tersisa; Amerika Serikat dan Uni Soviet. Bipolaritas ditambah kelemahan sesudah perang negara-negara Eropa menciptakan kekosongan kekuasaan di mana AS dan Uni Soviet ditarik. Mereka terikat untuk datang ke dalam konflik dan, karenanya, mengatakan postrevisionists, itu gunanya untuk mencari menyalahkan.

Tujuan dari perang dingin antara AS dan Uni Soviet berbeda. AS mengehendaki kemenangan intangible seperti menguatnya peran PBB, dan sebagainya atau sering disebut Mileu Goals, sementara Soviet tangible, yaitu teritori di Eropa Timur. Meski demikian, AS juga menginkan perluasan pengaruhnya di Eropa Barat. Mereka sama-sama ekspansi, itu menurut postrevisionists, bukan sekadar untuk kemenagan atau dominasi ekonomi, tapi juga karena the age-old security dilemma dari sistem yang anarki. 


Pemimpin Yugoslavia, Milovan Djilas pada 1945 dengan cermat mengilustrasikan jalannya perang dingin seperti ini, “Perang ini tidak seperti perang terdahulu, siapapun yang menguasai wilayah akan memaksakan sistem sosialnya sendiri. Setiap orang memaksakan setiap sistemnya sejauh pasukannya dapat menguasainya.” Dengan kata lain, ideologi dunia bipolar, negara menggunakan kekuatan militernya untuk memaksakan sosialita yang sama dalam rangka menjamin keamanannya.

Fase konflik
Nye mengelompokan periodesasi konflik masa Perang Dingin ke dalam tiga fase . Tahun 1945-1947 disebut tahap permulaan (the gradual onset); 1947-1949 deklarasi perang dingin, dan 1950-1962 adalah puncak perang dingin.

Tidak di antara Stalin maupun Truman yang menginginkan perang dingin. Akhir PD 2, Truman mengirimkan mantan ajudan Roosevelt, Herry Hopkins ke Moskow untuk melihat beberapa persetujuan yang dapat diselesiakan. Meski setelah Potsdam Conference, Truman melihat Stalin sebagai seorang moderat. Ada beberapa isu yang berkontribusi terhadap berubahnya strategi AS dan yang membuat perang dingin;

Pertama adalah Polandia dan Eropa Timur. Polandia jelas adalah negara yang berpartisipasi menyebabkan terjadinya PD 2, AS percaya, Stalin menghancurkan komitmen untuk menyelenggarakan pemilu yang bebas di Polandia setelah perang. Ketika Stalin dan Roosevelt bertemu di Teheran tahun 1943, Roosevelt mengangkat isu Polandia, tapi dia memohon kepada Stalin dalam konteks pemilu AS 1944. Dia menjanjikan akan segera dibuat pemilu di mana di sana ada banyak pemilih Polish-American, dan ia ingin mengatakan kepada mereka akan ada pemilu setelah perang. Stalin yang tidak pernah khawatir dengan pemilu di Uni Soviet, mengabaikan apa yang menjadi keprihatinan utama Roosevelt. Februari 1945 kesepakatan Yalta menjadi ambigu, dan Stalin menarik arti sejauh ia dapat buat yaitu dengan membentuk pemerintahan boneka di Warsawa setelah Soviet menarik pasukannya keluar dari Jerman. Amerika merasa tertipu, tetapi Stalin merasa, AS harus menyesuaikan dengan realitas bahwa apa yang dilakukan Soviet adalah untuk membebaskan Polandia. Mei 1945, program bantuan dihentikan, dan hubungan ekonomi kedua negara menjadi tegang. Apalagi, Februari 1946, AS menolak permohonan bantuan Soviet.

Jerman adalah persoalan selanjutnya. Dalam pertemuan Yalta, AS dan Soviet sepakat Jerman harus membayar $ 20 milyar untuk biaya reparasi, yang separuhnya harus diberikan kepada Soviet. Detail mengenai pembayarannya memang tidak dibahas di Yalta, meski kedua belah pihak sepakat akan dinegosiasikan selanjutnya. Dalam pertemuan di Potsdam, Soviet meminta $ 10 milyar; yang dimintanya dari Jerman barat, daerah yang sedang diokupasi AS, Inggris dan Prancis. Truman khawatir bagaiana Jerman dapat merekonstruksi jika Soviet meminta $ 10 milyar keluar dari Jerman. Seharusnya diambil dari Jerman Timur, daerah yang diokupasinya. Selanjutnya ada beberapa divisi antara AS dan Soviet tentang bagaimana membangun Jerman. AS bersama Prancis dan Inggris membangun mata uang tunggal di wilayah barat untuk memulai proses integrasi Jerman. Sementara Soviet mengencangkan kontrol atas wilayah timur. 


Asia timur juga menjadi penyebab berikutnya. Soviet adalah pihak yang netral dalam perang Pasifik sampai minggu terakhir perang. Lalu, Soviet mendeklarasikan perang terhadap Jepang untuk memperlebar Manchuria dan 4 pulau di utara Jepang. Di Potsdam, Soviet mengatakan okupasinya di Jepang mirip okupasi AS di Jerman. Situasi ini mengingatkan pada kejadian di Eropa timur di mana ketika AS mengharapkan pemilu yang bebas, dan di sana Soviet terlebih dahulu mengrimkan pasukannya. Jadi, Soviet melihat situasi di Timur jauh sebagai analog dari Eropa Timur, dan ketika AS melihatnya sebagai contoh lain dari tekanan Soviet dalam memperluas ekspansinya.

Persoalan selanjutnya adalah bom atom. Ketika AS mengajukan Baruch Plan untuk PBB tahun 1946 untuk mengontrol senjata nulir, Stalin menolak dengan alasan dia akan membangun bom sendiri. Dalam pandangannya, bom di bawah control internasional akan tetap menjadi bom AS karena untuk AS tahu bagamana membuatnya. Jauh lebih baik ketika pihak keamanan Soviet untuk memiliki sendiri.

Isu selanjutnya adalah Mediteranian Timur dan Timur Tengah. Pertama, Soviet menolak untuk memindahkan pasukannya dari wilayah utara Iran pada Maret 1946. AS mendorong Iran dalam debat di PBB. Sesekali Soviet keluar dari wilayah tersebut namun malah kemudian menduduki Turki, tetangganya di selatan, sementara partai komunis Yunani memenangkan perang sipil di Yunani. Sekali lagi, barat meyakini hal tersebut adalah upaya Soviet dalam melakukan ekspansi komunis. Pada Juni 1946, Maxim Litvinov, former Menlu Soviet mengatakan akar ketegangan ini berawal dari “Ideologi dunia antara Kapitalis dan Komunis”.

Fase kedua adalah 1947-1949. Mengikuti persoalan di Yunani dan Turki, atas dorongan Inggris AS akhirnya mengubah posisinya dari prinsip isolasionis setalah perang menjadi misi moral pembebasan atau yang kerap disebut sebagai Truman Doctrine.


Juni 1947 Sekertaris Negara George Marshall mengumumkan rencana untuk bantuan ekonomi di Eropa. Proposal tersebut mengundang Soviet dan Eropa Timur untuk bergabung jika mereka berniat, tetapi Stalin melakukan tekanan yang kuat kepada Eropa Timur untuk tidak melakukan hal tersebut. Stalin melihat, Marshall Plan bukan lahir dari kebaikan hati AS, tetapi adalah sebuah muslihat untuk mengoyak batas keamanan Eropa Timur. Ketika Ceko terndikasi menginginkan bantuan tersebut, Soviet mengencangkan tekanannya di Ceko dan rezim komunis mengambil alih kekuatan pada Februari 1948.

Ketika AS mempercepat rencananya untuk reformasi mata uang di Jerman Barat, Stalin membalasnya dengan membuat blockade di Berlin. Truman menilai Stalin lama-kelamaan bisa seperti Hitler baru, maka ia akhirnya sepakat membentuk pakta pertahanan atlantik utara (NATO).

Yang mengejutkan dari fase ini adalah saat 2 kejadian yang terjadi pada 1949; Uni Soviet melakukan uji coba bom atom dan Partai Komunis Cina mengambil kendali di Cina. Perang Korea akibat intervensi Uni Soviet juga menjadi bagian dari akhir fase ini.

Debat antara Truman Doctrine dan prinsip containment menjadi semakin memanas ketika Yugoslovakia mengumumkan dirinya sebagai Negara komunis di bawah Josef Tito. Tahun 1948, Tito membagi dengan Stalin melalui pengaruh Soviet dalam mengontrol kebijakan luar negerinya, termasuk dukungannya kepada partai komunis di Yunani. Dalam pandangan ideologi containment, AS tidak menolong Yugoslovakia karena dia komunis, tetapi dalam cara pandang containment dalam balance of power Yugoslovakia harus ditolong karena pengaruh komunis yang rendah di Negara tersebut.

Kegagalan paradigma containment terjadi saat perang Korea dan Perang Vietnam. Alih-alih untuk membendung pengaruh komunisme di Korea containment menjadi sekadar retorika pasca China masuk dengan ideologi monolitik komunisme.

Maka, pada 1952, pasca terpilihnya Dwight Eisenhower sebagai Presiden AS, dia menghapus seluruh kebijakan containment. Karena menurutnya, containment hanya sekadar akomodasi terhadap komunisme. Dia ingin memukul mundur komunisme meski perang nuklir harus menjadi resikonya. Pasca meninggalnya Stalin pada 1953, ketegangan menurun.

Di bawah Khrushchev Soviet menegaskan tidak ingin berperang! Meski diketahui umum pada masa selanjutnya terdapat krisis misil Kuba yang kembali meningkatkan ketegangan kedua superpower. Namun, pasca kejadian itu, ketegangan berangsur pudar dan negosiasi damai berjalan mulus. Masa itu adalah tahun 1963-1978 yang kerap disebut gradual détente atau masa relaksasi. Negosiasi arm control antara AS dan Soviet dituangkan dalam the Limited Test Band Treaty yang membatasi persebaran tes atom nuklir pada 1963 dan pada 1968 Non-Proliferation Treaty dibuat.

Pada masa 1969-1974, Nixon mengejar tujuan dari containment dengan membangun dan dan memperoleh kesimbangan dalam senjata nuklir. Strategi Nixon di antaranya (1) negosiasi strategi arm control; (2) membuka hubungan diplomatik dengan China; (3) meningkatkan perdagangan untuk mempererat hubungan AS-Soviet; (4) mencari ketersambungan untuk melakukan berbagai kerjasama. Masa détente tidak berlangsung lama karena adanya konflik di Angola, Ethopia, dan Afganistan yang melibatkan Soviet. Dan ketika itu Soviet meningkatkan anggaran belanja negaranya sampai 4 persen untuk kebutuhan miliiternya.

Sampai pada masa akhir perang dingin di mana Uni Soviet tidak lagi memberikan dukungan kepada partai komunis di Jerman Timur pada 1989. Jawaban akhirnya mengapa Perang Dingin berakhir? Karena strategi containment berjalan, demikian penjelasan George Kennan. Jawaban lain datang dari Paul Kennedy yang berpendapat “imperial overstretch”.

Alutista Rusia
Peran Uni Soviet dalam konfrontasi dengan Barat di masa Perang Dingin dilihat dalam perlomabaan senjata khususnya di bidang nuklir. Dalam perlombaan senjata ini, doktrin yang terkenal adalah mengenai Mutual Assured Destruction (MAD). Doktrin MAD menggambarkan konfrontasi antara Uni Soviet (Blok Timur) dengan Amerika (Blok Barat) yang masing-masing memiliki kekuatan alutsista yang bersifat destruktif yang pada akhirnya berpotensi membuat kehancuran pada kedua blok tersebut.

Uni Soviet menyadari memanasnya suhu politik dari munculnya doktrin MAD tersebut dan oleh sebab itu para pemimpin Uni Soviet pasca-PD II menekankan peningkatan teknologi alutsista pertahanannya. Uni Soviet berhasil meningkatkan teknologi persenjataan sistem pertahanannya khususnya nuklir yang menjadi indikasi perimbangan kekuaatan alutsista terhadap Amerika dan sekutunya.

Perbedaan signifikan perlombaan senjata di masa Perang Dingin adalah bahwa kedua blok berusaha melakukan penangkalan (Deterrence) aga tidak terjadi konfrontasi senjata secara nyata yang berpotensi memunculkan Perand Dunia III. Penangkalan bagi Uni Soviet adalah suatu “amunisi” untuk menjaga kemungkinan terjadinya perang. Kekuatan nuklir pun ditingkatkan. Pada masa kepemimpinan Kruschev, senjata nuklir menjadi sebuah kebutuhan strategis dalam rangka mengimbangi dan meningkatkan alutsista Uni Soviet terhadap Amerika.

Teknologi nuklir Uni Soviet yang dikembangkan sebagai hulu ledak digunakan sebagai reactor untuk kapal perang seperti kapal selam jenis Typhoon yang menjadi andalan kapal selam nuklir Uni Soviet pada masa itu. Typhoon dibuat di sebuah galangan kapal terbesar dunia, di Severodvinsk. Typhoon mampu menangkal torpedo kapal lawan karena ia memiliki tubuh rangkap serta 20 unit rudal balistik SSN 20 Stugeorr. Dengan perangkat persenjataan yang ada di dalamnya, rudal-rudal Typhoon dapat mengenai kota-kota di Amerika.

Delta juga menjadi salah satu kapal selam berbahan nuklir yang menjadi gambaran dalam peningkatan alutsista pertahanan Uni Soviet di masa Perang Dingin. Delta memiliki 16 pelontar rudal balistik SSN 18 Stingray yang juka memiliki beberapa varian. Dibuat pada tahun 1972, Delta menjadi “spionase” Uni Soviet yang sering terlihat Amerika berada di sekitar Antartika dan Pasifik.

Di bidang persenjataan darat, Uni Soviet juga mengembangkan senapan serbu serta sniper. Diantara senapan Uni Soviet yang terkenal adalah AK 47. AK 47 yang merupakan senapan serbu yang dibuat oleh Mikhail Kalashnikov terus dikembangkan dan diperjuan-belikan hingga saat ini baik secara legal maupun illegal. Dibuat pada tahun 1947 yang menjadi akronim dari AK 47 itu sendiri (Avtomat Kalashnikov 47 yang dalam bahasa Rusia artinya senapan Kalashnikov yang dibuat tahun 1947).

Dalam perkembangannya AK 47 memiliki varian yang diberi nama AKM (Avtomat Kalashnikov Modernizirovanny/ Senapan Kalashnikov Modern) yang berbeda dalam detail senapannya dengan AK 47. AKM, yang dibuat tahun 1950, diproduksi lebih banyak daripada AK 47 dan lebih akurat dalam membidik objek yang menjadi targetnya. Selain AK 47 dan AKM, variant baru muncul dengan nama AK 74 yang memiliki lubang peluru lebih kecil dengan senjata pendahulunya tersebut, yaitu sekitar 5,45 x 39 mm (AK 47 dan AKM memiliki lubang peluru yang lebih besar sekitar 7,62 x 39 mm). AK 74, yang merupakan pengembangan dari AKM, memiliki selektor tembakan (selective-fire) kaliber peluru menengah.

Selain senapan serbu jenis AK, Uni Soviet juga turut mengembangkan sniper jenis SVD. Snayperskaya Vintovka Dragunova atau disingkat SVD merupakan senapan semi-otomatis yang dirancang oleh Evgeniy Fedorovich Dragunov tahun 1958. SVD menjadi senapan pertama yang dikhususnkan untuk penembak jitu.

Pada awal dirancangnya, SVD memiliki popor, pegangan belakang dan depan yang terbuat dari kayu yang sudah dilaminating. Namun kayu SVD ini memiliki kelemahan yaitu dapat berwarna kuning terang yang menyolok jika senjata lawan memiliki night vision. Oleh sebab itu, SVD, yang dibuat pada sekitar tahun 1990-an, dimodifikasi dengan polimer hitam untuk menyamarkan warna kuning tersebut jika terkena night vision.

Dalam kaitannya dengan udara, militer Uni Soviet memiliki dua bagian yaitu Pertahanan Udara dan Angkatan Udara. Pertahanan Udara bertugas untuk memperingati pemerintah jika negara dalam bahaya. Pertahanan Udara tersebut menyiapkan radar, misil udara yang tersebar di seluruh Uni Soviet. Sedangkan Angkatan Udara bertugas untuk menjaga pertahanan udara melalui penerbang jarak jauh, transportasi udara, dan penerbang frontal. Khusus untuk penerbang frontal digunakan jika ada musuh eksternal yang merupakan pesawat spionase negara lain yang masuk dalam wilayah Uni Soviet.

Untuk Pesawat Pengebom, Uni Soviet mengembangkan pesawat Jenis Tupolev 160, dan untuk alutsista Uni Soviet lainnya khususnya sebagai inventaris Angkatan Udaranya antara lain 200 bomber strategis, 150 Tupolev Tu-95 Bear, 150 Tupolev Tu-95 Bear,
35 Tupolev Tu-160 Blackjack, 35 Tupolev Tu-160 Blackjack, 15 Myasishchev M-4 Bison, 15 Myasishchev M-4 Bison, 550 media pembom, 155 Tupolev Tu-22M Backfire 155 Tupolev, Tu-22M menjadi bumerang, 260 Tupolev Tu-16 Badger, 260 Tupolev Tu-16 Badger, 135 Tupolev Tu-22 Blinder 135 Tupolev Tu-22, 2830 pejuang, 610 Sukhoi Su-27 Flanker, 610 Sukhoi Su-27 Flanker, 790 Mikoyan-Gurevich MiG-29 Fulcrum, 790 Mikoyan-Gurevich, MiG-29 Fulcrum, 450 Mikoyan-Gurevich MiG-31 Foxhound, 450 Mikoyan-Gurevich MiG-31 Foxhound, 570 Mikoyan-Gurevich MiG-23 Flogger, 570 Mikoyan-Gurevich MiG-23 Flogger, 260 Sukhoi Su-15 Flagon, 260 Sukhoi Su-15 botol anggur, 105 Mikoyan-Gurevich MiG-25, Foxbat 105 Mikoyan-Gurevich MiG-25, 20 Tupolev Tu-128 Fiddler, 20 Tupolev Tu-128 Fiddler, 20 Yakovlev Yak-28 Firebar, 20 Yakovlev Yak-28 Firebar, Serangan 2.705 pesawat, 770 Sukhoi Su-24 Fencer, 770 Sukhoi Su-24 Fencer, 210 Sukhoi Su-25 Frogfoot, 210 Sukhoi Su-25 Frogfoot, 830 Mikoyan-Gurevich MiG-27 Flogger, 830 Mikoyan-Gurevich MiG-27 Flogger, 895 Sukhoi Su-7 Fitter-A dan Sukhoi Su-17 Fitter-C, 895 Sukhoi Su-7 Fitter-A dan Sukhoi Su-17 Fitter-C, 84 tanker, 34 Ilyushin Il-76 Midas 34 Ilyushin Il-76 Midas, 30 Myasishchev M-4 'Molot' Bison 30 Myasishchev M-4 'Molot' Bison, 20 Tupolev Tu-16 Badger, 20 Tupolev Tu-16 Badger, 40 AWACS, 40 Beriev A-50 Mainstay, 40 Beriev A-50 Mainstay, 658 taktis pengintai dan ECM pesawat, 65 Mikoyan-Gurevich MiG-21 Fishbed 65 Mikoyan-Gurevich MiG-21, 195 Mikoyan-Gurevich, MiG-25 Foxbat, 195 Mikoyan-Gurevich MiG-25, 65 Sukhoi Su-24 Fencer, 65 Sukhoi Su-24 Fencer, 195 Yakovlev Yak-28 Brewer, 195 Yakovlev Yak-28 Brewer, 260 penginta strategis dan pesawat ECM, 115 Tupolev Tu-16 Badger, 115 Tupolev Tu-16 Badger, 15 Tupolev Tu-22 Blinder, 15 Tupolev Tu-22, 4 Tupolev Tu-95 Bear, 4 Tupolev Tu-95 Bear, 02 Yakovlev Yak-28 Brewer, 102 Yakovlev Yak-28 Brewer, 24 Mikoyan-Gurevich MiG-25 Foxbat, 24 Mikoyan-Gurevich MiG-25, 3.050 helikopter, 1.500 helikopter pelatih dan latihan, 615 pesawat angkut, 40 Antonov An-124 'Ruslan' Condor 40 Antonov An-124 'Ruslan' Condor, 55 Antonov An-22 'Antey' Cock, 55 Antonov An-22 'Antey' Cock, 210 Antonov An-12 Cub, 210 Antonov An-12 Cub, 310 Ilyushin Il-76 Candid 310 Ilyushin Il-76 Candid, 2.935 pesawat angkut lainnya, biasanya Aeroflot pesawat yang mudah dikonversi

Sebagai gambaran umum mengenai Alutsista Uni Soviet masa Perang Dingin secara keseluruhan adalah sebagai berikut :
Uni Soviet 1989: Personel aktif (dalam juta) 5,1, Persentase alokasi sektor pertahanan dalam GDP 13-17, Angkatan Darat (dalam jumlah) Divisi 214 Brigade terpisah dalam divisi 11 Divisi Artileri 18 Regimen helikopter serang, 20 Tank 58.300 Kendaraan infanteri/ Alat pengangkut berlapis baja 64.000, Artileri tetap/ bergerak 38.000, Helikopter serang 1.500, Angkatan Udara (jumlah pesawat), Pertahanan Udara 2.300 Pesawat tempur taktis 1.900, Pesawat serang darat/pengintai 2.900, Pesawat Angkut Strategis 600. Angkatan Laut (dalam jumlah) Kapal pengangkut kecil 4, Kapal selam 263, Kapal tempur permukaan 268, Kapal pendaratan ampibi 80

Alutista AS
Perang dingin antara dua negara adidaya ditandai oleh perimbangan persenjataan nuklir dan personil militer. Perang dingin juga menimbulkan perlombaan senjata antara pihak Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Walaupun kedua belah pihak saling berlomba untuk menciptakan senjata yang paling mutakhir namun keduanya tidak pernah terlibat dalam perang terbuka. Senjata-senjata yang dikembangkan kedua belah pihak justru dipakai oleh negara ketiga. Jika ada konflik yang terjadi maka negara-negara tersebut akan mengunakan senjata dari salah satu pihak baik Amerika Serikat maupun Uni Sovyet.

Adapun senjata-senjata yang dikembangkan selam masa Perang Dingin merupakan cara masing-masing pihak untuk menunjukkan kekuatannya. Dan dari sekian banyak senjata yang muncul pada periode Perang Dingin, makalah ini akan menyajikan beberapa senjata saja.Pada persenjataan darat, Amerika Serikat memiliki M16.

Awalnya pemerintah Amerika (US ARMY - Operations Research Office, ORO) melakukan riset sekitar awal tahun 50an tentang Perang Dunia II. Salah satu penelitian pertama mereka adalah menganalisa lebih dari tiga juta laporan medan Perang Dunia II. Kesimpulan yang mereka dapat adalah bahwa sebagian besar pertempuran terjadi pada jarak dekat.

Langkah selanjutnya mereka melakukan penelitian tentang peluru kaliber lebih kecil dari pada peluru yang digunakan pada PD II, dan mereka mendapatkan bahwa ternyata peluru dengan ukuran 5,59mm – 5,56 efeknya hampir sama dengan kaliber besar. Setelah sersoalan peluru selesai tinggal pemilihan senjata yang tepat untuk penggunaan peluru kaliber 5,56mm tersebut. Ada beberapa senjata yang diuji seperti AR-10, M14, AR-15 yang diproduksi oleh Colt Firearms setelah membeli lisensi dari Eugene Stoner, ArmaLite. AR-15 selanjutnya dikembangkan lagi menjadi XM16E1 atau yang lebih dikenal dengan M16.

Ketangguhan M16 langsung diuji pada rimba raya perang Vietnam, M16 harus berhadapan dengan ketangguhan AK47 yang handal disegala medan. Penyakit M16 pun bermunculan, seperti sering macet ketika menembak dengan frekwensi tinggi, ada kasus laras M16 bengkok ketika laras senjata panas ketika digunakan dalam waktu lama / menembak dengan frekwensi tinggi dan M16 tidak begitu bersahabat dengan air. Walaupun butuh waktu mengatasi masalah kemacetan senapan sewaktu latihan bertempur di awal 1960, M16 membuktikan kehandalannya lewat akurasi, penanganan, masa digunakan, serta keefektifan dalam perang. Senapan M16 memuaskan petinggi militer AS untuk mengembangkan senapan serbu yang ringan untuk menggantikan M1 dan M14. Fitur inovatifnya meliputi bahan campuran plastik dan logam ringan, sistem reload (mengisi ulang peluru) yang mudah dan penggunaan peluru kaliber 5.56mm.

Perlombaan senjata yang dilakukan kedua blok tersebut juga berupa perlombaan senjata nuklir. Perlombaan senjata nuklir ini dikhawatirkan akan menyebabkan meletusnya perang nuklir yang dasyat yang dapat membahayakan kelangsungan hidup umat manusia dan makhluk hidup lainnya di dunia sebab jangkauan senjata nuklir sangatlah luas bisa menjangkau antarnegara dan antarbenua.

Sebuah senjata nuklir memanfaatkan energi yang dilepaskan dalam suatu proses fisi atau fusi nuklir. Di dalam proses fisi, satu inti atom membelah menjadi dua inti atom yang massanya lebih ringan dan menghasilkan energi. Senjata yang diciptakan dari reaksi fisi ini biasanya disebut bom atom.

Dua bom atom yang pernah benar-benar digunakan dalam perang adalah Little Boy dan Fat Man. Kedua bom atom ini dijatuhkan dari Bomber B-29 di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang pada Perang Dunia II. Kedua bom atom awal ini memiliki ukuran yang besar sehingga satu B-29 hanya mampu mengangkut satu bom atom.

B-29 bomber, diproduksi oleh Boeing Aircraft Company selama perang, adalah yang pertama jangka panjang pembom berat yang digunakan oleh Amerika Serikat. Segera pasca-Perang Dunia II, pembom Inventaris host B-29 Superfortress. Pada tahun 1946, Soviet mulai desain pembom jangka panjang mereka Tu-4, dimodelkan secara langsung pada B-29 yang ditangkap selama 1944. B-29 adalah pesawat pertama Perang Dingin, dan bahkan sampai akhir tahun 1948, Angkatan Udara hanya memakai 60 dari pesawat untuk membawa bom atom. B-29 adalah pesawat jarak jauh yang merevolusi perang udara, pesawat hanya bisa terbang pada koridor satu cara, dan tidak bisa mencapai jarak yang sangat jauh. Meski harus setengah mati untuk membuat B-29 yang berat ini untuk mengangkasa hingga ketinggian 40.000 kaki, sekali dia di atas sana tidak ada satupun yang sanggup mencapainya atau di kecepatan 350 mil-per-hour, mampu mengejarnya. Bahkan jika ada yang dibuat untuk mendekatinya, pertahanannya yang mumpuni dapat melumpuhkannya. Dipersenjatai dengan banyak peralatan impresif, pesawat ini tetap dioperasikan hingga masa perang Korea.

Selain bomber B 29, Amerika Serikat juga memiliki pesawat tempur F-16.
Dianggap oleh banyak pihak untuk menjadi yang terbaik saat ini di semua Sevice tempur, F-16 adalah salah satu desain yang paling populer di dunia. F-16 pada awalnya dibuat di bawah Light Weight Fighter (LWF) program awal 1970-an yang mencari mitra yang lebih murah dari F-15 yang dioptimalkan untuk manuver dan misi serangan taktis. Didorong oleh kepentingan asing dalam suatu model produksi, LWF berubah menjadi Air Combat Fighter (ACF) program dan akhirnya menjadi kompetisi terbang mengalahkan antara General Dynamics YF-16 dan Northrop's YF-17. General Dynamics dinobatkan sebagai pemenang pada tahun 1975 dan diberi kontrak untuk mengembangkan produksi F-16. Angkatan Udara Amerika Serikat berencana membeli sampai dengan 650 sebagai pengganti bagi F-105 dan sebagian armada F-4 sementara beberapa sekutu-sekutu NATO membeli F-16 sebagai pengganti F-104.

Meskipun awalnya diramalkan terutama sebagai platform serangan darat dengan kemampuan pertahanan udara sekunder, F-16 kemudian muncul sebagai yang sangat mampu pesawat multi-peran. Desain bentuk melengkung variabel menggunakan sayap dan strakes terdepan untuk menghasilkan mengangkat tinggi dan menghindari akar bahkan warung di sudut serangan tinggi. Selain itu, penggunaan lalat-dengan-kawat sistem kontrol yang dapat membelokkan kontrol permukaan yang jauh lebih cepat daripada pilot manusia membuat F-16 sangat bermanuver. Falcon ini juga dilengkapi dengan sebuah array avionik canggih dan beban senjata yang luas.

Kesimpulan
Perdebatan teoritis mengenai siapa penyebab terjadinya Perang Dingin mengulas secara jelas disertai bukti-bukti empiris yang mampu mendukung argumennya masing-masing. Baik kaum tradisionalis, revisionis maupun postrevisionis memiliki kelebihan sekaligus kekurangannya masing-masing. Meski demikan, Perang Dingin yang oleh Nye dibagi dalam tiga fase, merupakan tarik-menarik dua kepentingan superpower yang terus mengalami pasang-surut.

Revolusi persenjataan pada zaman tersebut bukan lagi dibuat untuk menyerang lawan. Penemuan dan percobaan nuklir pada puncak perang dunia kedua tidak menyurutkan keinginan Negara superpower untuk mengembangkan teknologi tersebut. Sebaliknya, nuklir menjadi alat ampuh untuk melakukan pemaksaan (coercive) untuk memperluas pengaruh dan memaksakan sistem dengan jaminan kemanan sebagai imbalannya. Krisis misil Kuba misalnya, ketegangan akibat pengiriman nuklir dari Soviet ke Kuba, bermuara pada negosiasi kepentingan AS dan Soviet. Negosiasi dalam bentuk kerjasama arm control adalah fragmentasi dari kesepakatan kedua superpower untuk menghidari adanya perang dunia.

Dalam perkembangannya, Uni Soviet semakin meningkatkan kapabilitas alutsistanya khususnya di bidang nuklir dengan sikap deterrence yang lebih dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan ancaman perang dan memperbaiki eksistensinya di mata dunia dalam bidang pertahanan.

Uni Soviet juga menyusun parameter dalam kemungkinan terjadinya perang nuklir di masa Perang Dingin tersebut. Pada hakekatnya indikasi menuju perang yang nyata sangat terlihat dalam perlombaan senjata antara kedua blok yang berpahan ideologi yang berbeda ini.

Otonomi militer Uni Soviet sendiri menempatkan militer di bawah subordinasi sipil secara absolut karena terjadi pergantian sistem politik dari Totalitarian ke Demokrasi. Hal ini Pergantian sistem politik tersebut menjadi awal keruntuhan Uni Soviet yang sebelumnya ditandai oleh pembubaran Pakta Warsawa pada bulan Juli 1991, sebagai aliansi negara-negara dalam kerjasama di bidang politik dan militer.

AS dan Soviet memproduksi senjata-senjata baru dengan spesifikasi yang luar biasa canggih bukan dimanfaatkan oleh dirinya sendiri, melainkan justru digunakan oleh pihak ketiga.
Post a Comment