Pages

Tuesday, April 6, 2010

Mari Bekerjasama Memerangi Kemiskinan?

Ada yang menggelitik saat aku bersama pacarku mengikuti misa malam Paskah kemarin di Katedral. Sesuatu yang menaarik itu adalah tulisan "Mari Bekerjasama Memerangi Kemiskinan" tema Aksi Puasa Pembangunan yang dituliskan pada sampul buku panduan perayaan misa Pekan suci. Aku berharap, saat homili, pastor pemimpin misa akan menjelaskan bagaimana Gereja Katolik Jakarta akan memerangi kemiskinan.

Dugaanku meleset. Pastor itu tak banyak menyinggung bagaimana tema itu diterjemahkan dalam proses menggereja di Jakarta. Aku kemudian terdiam sesaat. Otakku sesaat bermain dengan isu ini. Aku mengakui saat itu aku tak sanggup menjawab sendiri pertanyaan itu. Mungkin, karena aku jarang ke gereja ini, bisa jadi tema itu sudah dibahas pada masa prapaskah.

Seorang kawan kutanyai soal ini. Dia mengatakan, biasanya, tema-tema itu akan diperinci pada pertemuan-pertemuan di tingkat lingkungan atau komunitas basis. Untuk sementara, aku kembali percaya. Dan kembali, meletakkan kesalahannya kepada diriku sendiri yang tidak pernah aktif sebagai orang muda lingkungan di paroki tertentu.

Akhirnya aku sedikit menemukan 'pencerahan'. Aku berkunjung ke website resmi Keuskupan Agung Jakarta (http://kaj.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=99&Itemid=50). Di sana kudapati, alasan KAJ memilih tema ini adalah KAJ ingin mentargetkan kerjasama dan fokusnya adalah memerangi kemiskinan. Cara yang ditawarkan adalah dengan membuat dua gerakan; ke dalam dan ke luar. Ke dalam ruang jangkauannya adalah ke dalam keluarga sementara ke luar adalah bekerjasama dengan siapa saja mengetaskan kemiskinan namun lebih sifatnya ke luar lingkungan keluarga.

Sebenarnya pencarianku belumlah berakhir sampai di sini. Jujur, aku ingin mengawal dan berpartisipasi untuk suksesnya tema ini. Aku melihat, gereja sudah punya niat yang mulia untuk melawan hantu kemiskinan. Pertanyaannya adalah, bagaimana tema semulia ini bisa bekerja pada level operasional di tingkat basis? Bagaimana KAJ menggunakan 'mesinnya' (hierarkinya) untuk menyukseskan tema ini? Sejauh mana partisipasi masyarakat dibutuhkan? Lewat ruang-ruang seperti apa tema ini akan dibahas? Dan bagaimana kerjasama memerangi kemiskinan ini dapat dinilai tingkat keberhasilannya? Adakah target tertentu? Adakah mekanisme kontrol untuk memastikan prinsip transparansi dan akuntabilitas dapat bekerja?

Pertanyaan-pertanyaan itu tentu saja tidak harus dijawab segera. Harapku, dari pihak gereja mau semakin membuka diri agar umat tak hanyut dalam keindahan bahasa dalam tema, melainkan dapat secara gamblang ikut berpartisipasi, termasuk mengontrol kerja bersama ini. Jangan ada korupsi dalam gereja! Mengutip Montesquieu dalam konteks yang sedikit berbeda karena ia menjelaskan dalam sistem negara, di mana korupsi terjadi ketika tiga cabang kekuasaan negara ini disatukan. Ia menyatakan bahwa bukankah sebab dari korupsi adalah ketika para pembuat (legislators), pelaksana aturan hukum (executive institution), dan penegak hukum (law enforcers) tidak dipisahkan dan menyatu dalam diri seorang penguasa lalim?
Post a Comment