Pages

Wednesday, April 14, 2010

Tragedi Smolensk: Duka dan Doa untuk Polandia

Apa yang terjadi baru-baru ini di Polandia tentu saja sangat memilukan. Pesawat kepresidenan Polandia Tupolev 154 jatuh di Smolensk, Rusia barat, Sabtu (10/4). Selain Presiden Polandia Lech Kaczynski dan istrinya tewas, juga tak terselamatkan belasan pemimpin sipil dan orang penting Polandia di dalam pesawat tersebut.

Dalam artikel Pilot Terima Peringatan (Kompas, 13/4/2010) disebutkan, data penerbangan menyatakan pilot pesawat Presiden Polandia, sudah diberi peringatan bahwa cuaca amat buruk. Pendaratan pesawat mustahil dilakukan. Diduga kuat, pilot dipaksa melakukan pendaratan oleh ”seseorang”.

Kalimat terakhir tentu saja membawa tanda tanya besar. Pertanyaannya adalah siapa "seseorang" yang mampu mempengaruhi pilot pesawat naas buatan Rusia itu? Yang jelas, informasi ini dilayangkan oleh Wakil Perdana Menteri Rusia Sergei Ivanov, di Moskwa, Rusia
, Senin (12/4).

Niat baik Presiden Polandia Lech Kazynski (almarhum) untuk memperbaiki hubungan bilateral Polandia-Rusia dengan menghadiri undangan Rusia dalam peringatan pembantaian 22.000 tentara dan warga Polandia yang dibunuh oleh Soviet Secret Policy pada 1940 di hutan Katyin -letaknya tak jauh dari Bandara Smolensk, harus dibayar dengan drama tragedi kematiannya dan kepergian 88 orang terpenting di Polandia.

Kepala investigasi Rusia, Alexander Bastrykin, mengatakan , "The recordings that we have confirm that there were no technical problems with the plane. The pilot was informed about complex weather conditions but nevertheless made a decision to land." (http://www.telegraph.co.uk).

Senada dengan Ivanov, para investigator Rusia, yang telah bergabung dengan tim investigasi dari Polandia mengatakan, Kapten Arkadiusz Protasiuk (36) yang memiliki lebih dari 5000 jam terbang sudah diperingatkan 3 kali untuk mendarat di lapangan udara lain.

***

Kejadian yang membuat seluruh dunia berduka, adalah peristiwa yang sangat dekat dengan saya saat ini. Mengingat baru dua minggu lalu, bersama dua rekan sekelas saya; Lia Fauziah dan Sabriana Jaya Putri, kami merampungkan sebuah paper untuk mata kuliah Diplomasi Pertahanan di Pasca Sarjana Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI. "Dilema Keamanan Baru Hubungan AS-Rusia" begitu paper tersebut kami beri judul. Singkat cerita, dalam paper itu kami ingin menjelaskan bagaimana perluasan pengaruh AS di Polandia dan Republik Ceko -negara-negara bekas Pakta Warsawa- yang membuat berang pemerintah Moskow. Dan peristiwa ini menjadi pertanda dilema keamanan baru hubungan AS-Rusia pasca Perang Dingin.

Dengan dalih untuk melindungi AS dan negara-negara sekutu di Eropa dari serangan sistem kerja rudal yang diluncurkan oleh Iran dan Korea Utara, AS hendak membangun pangkalan pertahanan rudal AS di Polandia serta radar pembimbing di Republik Ceko. AS terus melebarkan sayapnya dan memperbesar spread of influences-nya di Eropa Timur dan Tengah. Ternyata hal itu tidak diingini Putin.

Pada November 2008 duta besar Rusia untuk NATO Dmitry Rogozin mengatakan, “Rudal Amerika di Polandia bisa menghujani Moskow hanya dalam waktu empat detik. Dan untuk mengeluarkan Amerika dan membongkar kepalsuan klaim Amerika bahwa fasilitas rudal di Polandia dan Ceko itu untuk menangkal Iran, Rusia menawarkan kepada Amerika untuk menyebar radarnya di samping radar Rusia di pangkalan radar Rusia di Gabala, Azerbaijan dan itu lebih dekat ke Iran daripada Polandia dan Ceko, jika memang targetnya adalah Iran,” katanya.

Masih menurut Rogozin, Amerika tidak menyetujuinya karena target Amerika adalah menancapkan pangkalan di Eropa Timur untuk mengancam Rusia. Dan Amerika tidak ingin Rusia ikut berkontribusi di pangkalannya sehingga pangkalan Amerika akan berada dalam pengamatan Rusia, selama targetnya adalah Rusia itu sendiri.

Ketika Rusia mengetahui rencana AS tersebut akan direalisasikan pada tahun 2011, Vladimir Putin memberikan pengumuman kepada masyarakat dunia bahwa Rusia akan menyebar rudal-rudal di perbatasan Kaliningrad di laut Baltik yang dekat dengan Polandia. Hal tersebut dipertimbangkan oleh Barack Obama, untuk melanjutkan misi former AS president atau mengambil jalur lain. Niat baik yang dilontarkan oleh Obama dalam isu ini yaitu membatalkan perjanjian ini, demi menjaga hubungan dengan Rusia. Sehingga Rusia pun mau mencabut kembali rudal-rudal yang telah dipersiapkan diperbatasan Polandia. Oleh karena itu, Putin pada April 2007 telah mengancam akan terjadinya perang dingin baru jika Amerika tetap berkeras menyebarkan penangkal rudal di Eropa Tengah. Sebagai tambahan, sebagai reaksi atas berbagai ancaman Amerika, Putin mengancam akan menarik diri dari Perjanjian Kekuatan Nuklir (NFT-Nuclear Forces Treaty) yang ditandatangani dengan Amerika pada tahun 1987. (selengkapnya: http://awigra.blogspot.com/2010/04/dilema-keamanan-baru-hubungan-as-rusia.html)

***

Mengaitkan tragedi Smolensk dengan rencana AS membangun pangkalan pertahanan rudal AS di Polandia dan Ceko pada 2011 bisa jadi sebagai sebuah perbuatan saru dan terkesan tidak etis selama masa berkabung. Namun, apapun kritik atas tulisan ini akan saya terima dengan lapang dada. Saya tidak bermaksud melakukan tuduhan kepada salah satu pihak atas terjadinya tragedi ini karena sampai saat ini tim investigasi masih terus bekerja. Tetapi, sebagai mahasiswa HI, saya hanya ingin menyumbangkan sedikit wacana atas situasi aktual yang terjadi di sana saat ini.

Dari berita di Kompas, diduga ada "seseorang" yang memaksa pilot untuk tetap melakukan pendaratan, adalah celah bagi saya dan siapa saja yang ingin terus mencari keadilan atas peristiwa ini. Dengan kata lain, tulisan ini adalah dukungan moral bagi terungkapnya kasus ini secara tuntas. Tulisan ini adalah sebaris doa untuk rakyat dan pemerintah Polandia yang berharap semoga kebenaran di sana akan meraung-raung dengan caranya sendiri, meski fakta bisa saja terus ditutupi atau bahkan mungkin dihilangkan! Karena, pengalaman di Indonesia (terus) mengatakan demikian. Siapa pembunuh Munir? Di mana Surat Perintah 11 Maret 1966? Dan sebagainya....



Duka dan doa tulus untuk saudara-saudariku di Polandia.... 
Jakarta, 14 April 2010




Daniel Awigra

Post a Comment