Pages

Tuesday, April 13, 2010

Ulil dan Kebangkitan Islam

Hari ini aku menjumpai Ulil Abshar Abdalla (43). Perjumpaanku bukan untuk keperluanku melainkan hanya sekadar menemani dua kawanku dari Swedia (Emma Ebintra dan Frida Nilson) yang ingin melakukan wawancara khusus untuk keperluan thesisnya. Dari sana, aku (ingin) kembali menggali banyak pemikiran-pemikiran progresifnya.

Dalam websitenya www.ulil.net, Ulil mengaku sebagai generasi kedelapan dari keturunan Kiai Mutamakkin dari desa Cebolek, atau desa tempat asal Serat Cebolek. Serat itu mengisahkan tentang seorang kiai mistik pengikut teori wahdatul wujud (kesatuan wujud) yang tak lain adalah kakek moyang Ulil, Mutamakkin. Dia dibesarkan dalam kultur santri tradisional. Tulisan-tulisannya selama dia masih menjadi koordinator Jaringan Islam Liberal kerap memantik reaksi keras dari sebagian kelompok Islam. Forum Ulama Umat Islam, misalnya, mengetuk palu fatwa mati bagi menantu KH A. Mustofa Bisri, pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Thalibien, Rembang. Ulil adalah kandidat doktor di the Department of Near Eastern Languages and Civilizations, Universitas Harvard.

"Iman yang kuat tak akan takut pada keraguan. Iman yang dangkal dan dogmatis selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan". Tulisan itu, kuambil dari tagline dalam webnya. Yah Begitulah Ulil. Secara tidak langsung dia mengjariku bagaimna hidup beriman tanpa keraguan. Karena rasionalitas sangat ia junjung tinggi. Bagiku sendiri, ia adalah pioneer kebangkitan Islam.

Dalam pidato kebudayaannya, Selasa, 2 Maret 2010 di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Ulil secara khusus menilai kebangkitan Islam dari dua arah sekaligus. Pertama, kebangkitan yang mengambil bentuk "kembali" kepada apa yang sering dianggap sebagai masa lampau yang "pristin", suci dan asli, atau kepada suatu Tradisi dengan "T" besar yang dianggap mewakili suatu bentuk model keagamaan yang ideal dan sempurna. Kedua, kebangkitan yang mengambil bentuk reinterpretasi dan kontekstualisasi. Bagi Ulil. Baik salafisme yang menoleh ke belakang atau "khalafisme" atau kontekstualisme yang melihat saat ini dan ke depan adalah dua bentuk kebangkitan ISlam yang sah.

"Seolah-olah yang pantas disebut sebagai kebangkitan Islam adalah gerak kembali kepada Quran dan sunnah, kepada generasi salaf atau kuno yang diandaikan terbebas dari segala bentuk korupsi ajaran. Sementara itu, gerak yang mengarah ke masa kini, meninjau ajaran-ajaran agama dalam terang zaman ini, tidak dianggap sebagai bagian dari kebangkitan agama, bahkan dianggap sebagai bentuk 'penyimpangan'. Anggapan ini jelas sama sekali kurang tepat.

Bagi Ulil, seharusnya kedua pandangan ini bisa berjalan beriringan secara simultan. Ulil mengakui terdapat banyak sumbangan besar dari gerakan salafisme yang membawa semangat untuk kembali secara konsisten kepada Quran dan sunnah. Namun, dia menilai ada kesalahan mendasar dalam gerakan ini.

"Kelemahan pertama adalah adanya asumsi bahwa ajaran-ajaran dari masa lampau seluruhnya masih memadai untuk menjawab masalah yang dihadapi oleh masyarakat saat ini. Gerakan ini sama sekali atau kurang menyadari adanya kaitan yang tak terelakkan antara teks dan konteks yang membentuknya; suatu teks selalu lahir karena menjawab konteks tertentu. Saat konteks itu berubah, maka dengan sendirinya teks itu juga harus dipahami ulang" ujarnya.

Persoalan selanjutnya adalah tantangan dengan yang "suci". Menafsirkan Quran dan sunnah sebagai fondasi pokok keberagaman Muslim kerap mendapat tantangan dari banyak kalangan yang memandang bahwa seharusnya di hadapan Quran dan sunnah yang suci itu kita harus bersifat pasrah tanpa boleh sedikit pun 'reserve'. Ulil menunjukkan dalil di mana sikap itu perlu dipertanyakan (QS 33:36). Sikap menjadikan apa kata Quran dan sunnah sebagai yang final dan sebagai palu terakhir atau yang dalam kata-katanya disebut sebagai "penyetop perbincangan" atau "conversation stopper". Begitu Quran dan sunnah mengatakan A, maka dengan sendirinya seluruh perdebatan dan perbincangan akan selesai.

"Kecenderungan menjadikan Quran dan sunnah sebagai 'penghenti perbincangan' ini sama sekali bukanlah pandangan yang sehat," ujar pria kelahiran Pati, 11 Januari 1967 ini.

Meski demikian, bukan berarti Ulil ingin mengingkari bahwa Quran dan sunnah adalah bukan lagi sebagai pedoman dan fondasi dasar seorang Muslim.

"Kita sebagai anggota dari komunitas beriman yang disebut dengan 'ummah', tunduk pada Quran dan sunnah sebagai sumber otoritatif. Masalahnya bukan di sana tentunya. Sumber otoritatif itu bisa dimaknai berbeda-beda. Orang-orang dengan mindset salafisme kurang menyadari bahwa teks suci mengandung banyak kemungkinan penafsiran. Ataupun kalau mereka menyadari kemungkinan banyak tafsir, mereka berusaha meredam multisiplitas teks suci dengan cara menyederhanakan keragaman tafsirnya agak sederhana dan seragam," paparnya gambang.

Kelemahan kedua gerakan salafisme menurut Ulil adalah anggapan bahwa teks suci adalah terang-benderang. Kecenderungan ke arah absolutisme penafsiran, menjadi kritik ketiga Ulil atas gerakan salafisme.

Dengan kritiknya, Ulil ingin mengajukan cara pandang baru yaitu khalafisme. Secara harafiah, khalaf berarti era kontemporer, atau periode belakangan yang muncul setelah periode terdahulu, periode "salaf".

"Khalafisme adalah cara pandang keagamaan yang menghendaki agar pemahaman keagamaan terus tumbuh seturut dengan perkembangan peradaban manusia. "Kata kunci pokok dalam khalafisme bukanlah "kembali pada Quran dan sunnah" tetapi memahami kedua sumber itu berdasarkan tuntutan zaman yang terus berubah. Khalafisme tidak menolak Quran dan sunnah sebagai sumber otoritatif, tetapi memahaminya secara kontekstual," tegas Ulil.


Post a Comment